Surat untuk Papih (Lukman Surawisastra)

Posted: 04UTC26 10,2011 in poetry
Tag:, ,

Pamulang, 9 September 2012

 

Assalamu’alaikum, apa kabar Pih?

Apa Papih baik-baik saja disana? Ah, tentu saja. Karena Papih sudah ada di sisiNya, Sang Penjaga yang tidak pernah lengah… dengan cintaNya yang luar biasa

Pih, siang ini entah mengapa saya ingat Papih. Saat Papih bangun malam-malam untuk shalat malam di saat dingin menusuk tulang. Saat Papih mengaji di sebelah ranjang di rumah sakit saat saya sakit. Saat Papih membeli makanan sepulang dari kantor, dan anak-anaknya menyambut dengan gembira.

Saya ingat Pih saat saya diterima bekerja, Papih menangis dan memeluk serta mencium pipi saya. Saat saya diwisuda dan Papih bilang bahwa ia bangga dengan saya. Saat Papih sedih karena tidak punya uang untuk menyekolahkan saya kuliah, saat Papih berjalan menembus hujan untuk mencari pinjaman karena kami anak-anaknya telat membayar uang sekolah. 

Saya tahu, meski Papih jarang bicara bahwa kami anak-anaknya adalah cinta terkasihnya, Papih mencintai kami setulus hati. Sorot mata Papih berbinar ketika mendengar cerita kami, anak-anaknya. 

Ah Pih, entah mengapa siang ini, saya rindu, rindu sekali. Bagaimana Papih sering mengajak naik motor, membonceng di belakang dan kadang menanyakan makanan apa yang saya inginkan. Padahal saya tahu, saat itu Papih tidak punya uang.

Saya tahu Papih bukanlah ayah yang terbaik didunia ini. Mungkin bukan ayah yang tahu cara mengajar anaknya dengan sempurna seperti seorang guru. Mungkin bukan ayah yang memiliki pekerjaan terbaik untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan anak-anaknya. Mungkin pula Papih kerap kali kesal dan marah atas kebodohan dan kesalahan kami yang berulang-ulang.

Namun, darimu Pih, saya bisa tahu bagaimana harus mencintai dan menyayangi. Bagaimana harus tulus berkorban dan bersabar. Bagaimana harus berjuang demi anak-anaknya

Kini Papih telah terlelap dalam tidur panjang. Dan saat Papih pergi untuk selamanya, maafkan saya tak ada disisimu. Tak dapat genggam tanganmu. Tak bisa membisikkan Allahuakbar ke telingamu. 

Selamat jalan Pih…Senyumlah dalam tidur panjangmu sama saat sakaratul maut menjemputmu.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fu anhu wa akrim nuzulahu wawasi’ madkholahu waghsilhu bi mai wa tsalji wa barad wa naqihi minal khothoya kama yunaqqots tsaubul abyadhu minaddanas wa abdilhu daaroon khoiroon min daarihi wa ahlaan khoiroon min ahlihi wa zaujan khoiroon min zaujihi waqihi fitnatal qobri wa adzaban naar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s