Perjuangan Ibu

Posted: 12UTC20 10,2011 in caring (catatan garing)

Setiap 22 Desember kita semua merayakan Hari Ibu. Dirayakan setiap tahun dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Pengetahuan kita tentang Hari Ibu mencerminkan pemahaman yang beragam. Peringatan Hari Ibu sering bercampur baur dengan Mother’s Day yang diperingati di berbagai negara.

Berbagai kegiatan yang diselenggarakan pada hari itu merupakan kado istimewa bagi para ibu. Pemberian bunga tanda kasih, aneka lomba masak, lomba menyanyi dan berkebaya, sampai memberi bingkisan bagi para lansia, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari. Memang tak ada yang salah dengan aneka ungkapan seperti itu. Tak ada salahnya pula mengucapkan terima kasih atas jasa dan jerih payah ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita.

Di Islam, sosok ibu sangat dimuliakan. Islam meletakkan posisi seorang ibu sangat tinggi. Dalam Alquran, telah dijelaskan betapa pentingnya peran wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, maupun sebagai anak. Peran ibu dikatakan penting karena banyak beban berat yang harus dihadapinya, bahkan beban-beban yang semestinya dipikul seorang ayah.
Sebenarnya, ada dua hari besar di negara ini yang menitikberatkan pada peran wanita, yakni Hari Ibu dan Hari Kartini. Dua perayaan itu memperlihatkan penghargaan negara terhadap peran dan fungsi kaum wanita di Indonesia. Negara tentunya ingin ada upaya penyetaraan antara peran kaum laki-laki dan kaum wanita di segala bidang.
Misi peringatan Hari Ibu memang untuk mengenang semangat dan perjuangan kaum perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ, tecermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.
Namun, sayangnya bangsa ini belum sepenuhnya menghargai perempuan, khususnya kaum ibu. Komnas Perempuan mencatat para istri dan ibu belum terbebaskan dari kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2010, dari total 105.103 kasus kekerasan terhadap perempuan, 96 persen atau 101.128 kasus adalah perempuan korban KDRT.
Sementara itu, hasil dokumentasi Komnas Perempuan sejak tahun 1998-2010 menunjukkan seperempat atau 93.960 kasus adalah kasus kekerasan seksual berupa perkosaan, pelecehan seksual, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, eksploitasi seksual, dan penyiksaan seksual.
Artinya, baik Hari Ibu maupun Hari Kartini, hanya diperingati sebagai sebuah seremonial. Kita masih menyaksikan bagaimana kaum ibu di negeri ini masih belum bisa tersenyum lepas. Kaum ibu masih banyak berjuang menjadi pembantu rumah tangga di negeri orang demi kelangsungan hidup anak-anaknya.
Sudah berapa nyawa ibu-ibu kita yang melayang karena dihukum mati. Mungkin sudah tak terhitung lagi nasib ibu-ibu kita yang terluka; disiksa dan dianiaya. Yang bisa kita saksikan, hingga kini, penguasa negeri ini tetap menutup mata dan telinga nuraninya untuk memperhatikan nasib mereka. Belum ada kemauan politik sedikit pun untuk memperbaiki nasib kaum perempuan, para ibu yang melahirkan anak-anak kita.
Sudah saatnya penguasa negeri ini untuk memberikan kehidupan yang layak bagi para ibu. Berikan ruang publik yang nyaman buat kaum ibu di negeri ini untuk bekerja dan mengabdi buat bangsa dan negaranya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s