Sederhanakan Partai Politik

Posted: 11UTC40 10,2011 in caring (catatan garing)
Suhu Politik menjelang 2014 mulai menghangat. Meski masih tersisa tiga tahun, beberapa tokoh yang selama ini terpinggirkan dari arena politik, mulai membentuk partai politik (parpol). Sejak pendaftaran dibuka pada 17 Januari-22 Agustus 2011, sudah ada 14 parpol mendaftarkan diri sebagai badan hukum. Dari jumlah ini, Kementrian Hukum dan HAM baru meloloskan satu parpol saat diverifikasi. Sisanya, harus melengkapi data-data yang kurang hingga batas waktu, 25 November mendatang.
Satu parpol baru yang sudah disahkan sebagai badan hukum adalah Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Sedangkan partai yang belum lolos verifikasi, antara lain, Partai Karya Republik, Partai Serikat Rakyat Independen (Partai SRI), dan Partai Kemakmuran Bangsa Nusantara (PKBN).
Nah, sebagai rakyat, tentu kita akan bertanya-tanya, sejauh mana sebenarnya parpol-parpol ini mewakili kepentingan rakyat?
Kalau kita melihat realita yang ada, banyak rakyat yang mengeluh dengan kondisi parpol sekarang. Apalagi rakyat memang tidak merasakan langsung manfaatnya.  Parpol seolah menjadi milik sekelompok orang saja. Malah beberapa partai yang ada tak lebih merupakan kelompok keluarga yang memanfaatkan peluang untuk menduduki jabatan penting di negeri ini.
Tak hanya itu, parpol menjadi kendaraan kaum pragmatis. Para elite malah menjadikan parpol sebagai ajang untuk memanjakan diri. Mereka seolah lupa apa yang diperingatkan oleh para pendiri bangsa ini, bahwa politik digunakan untuk memajukan bangsa bukan  jadi mata pencarian. Politik bukanlah sarana untuk meningkatkan kesejahteraan, tetapi untuk mewujudkan prinsip-prinsip yang terkandung didalamnya, yaitu kebebasan, kesetaraan, keadilan, dan solidaritas.
Untuk itu, kita berharap, kebijakan untuk penyederhanaan parpol harus benar-benar diterapkan secara tegas dan berani. Parpol yang tidak memenuhi syarat sebagaimana yang diatur dalam UU Parpol harus dilarang. Jumlah parpol yang minimal jauh lebih menjanjikan perbaikan proses pengambilan keputusan dalam berdemokrasi. Apalagi,   kehadiran begitu banyak parpol baik saat pemilu pertama tahun 1955 dan pascareformasi tidak punya dampak signifikan pada kesejahteraan rakyat. Malah, kenyataan yang ada  banyak parpol yang hadir sebagai sumber masalah bukan sumber solusi mengatasi banyaknya persoalan dalam masyarakat.
Saat ini, di mata sebagian masyarakat, beberapa parpol sudah identik dengan gerombolan orang yang kerjanya hanya memperkaya diri sendiri. Beberapa tokoh parpol, baik di eksekutif maupun legislatif malah menjarah uang rakyat. Kadang sesak rasanya melihat sekumpulan wakil rakyat disidang karena perkara korupsi. Atau beberapa wakil rakyat tertangkap tangan karena praktik suap menyuap.
Tingkat kepercayaan rakyat terhadap parpol kian tergerus dari waktu ke waktu. Kasus suap pemilihan calon Gubernur Bank Indonesia yang melibatkan banyak tokoh parpol, atau kasus korupsi mantan bendahara Partai Demokrat, Nazaruddin, makin membuat rakyat terbuka matanya melihat bobroknya partai politik.
Kondisi seperti ini akan tetap terjadi jika tak ada terobosan penegakan hukum. Ketika kasus korupsi menimpa wakil rakyat,  harus ditelusuri apakah memang dana yang diambil itu untuk kepentingan dia sendiri atau jangan-jangan dananya untuk kepentingan parpol.
 Ke depan, kita berharap persoalan ini menjadi bahasan semua elemen bangsa. Saat ini yang paling bisa dilakukan, adalah mendesak lembaga yudikatif untuk menghukum seberat-beratnya kader-kader parpol yang terbukti korupsi. Selain itu, parpol yang kadernya terlibat korupsi harus diberi peringatan keras dan diumumkan kepada masyarakat luas. Mudah-mudahan menjadi efek jera bagi para elite parpol untuk tidak bermain-main dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s