Penjara Hanya untuk Orang Melarat

Posted: 11UTC38 10,2011 in caring (catatan garing)
Apa yang tergambar dalam benak kita ketika mendengar kata penjara? Jeruji, tidur di atas lantai, terkurung dalam ruangan sempit atau makan nasi campur air? Tak ada yang salah dengan gambaran ini. Karena itulah sebenarnya kondisi penjara di Indonesia. Menyedihkan, buruk, kotor, dan penuh sesak. Daya tampung terbatas sedangkan jumlahnya terus meningkat. 
Bagi sebagian kalangan,  kata ‘penjara’ memang menyeramkan. Tapi bagi sebagian orang, justru malah menyenangkan. Lihat saja bagaimana seorang Artalita Suryani bisa hidup mewah di penjara. Kamar berpendingin udara, karpet tebal, ranjang tentunya yang empuk dan nyaman, minibar, ada alat-alat salon, kulkas yang tentunya diisi makanan minuman mewah, televisi dan perangkat audio canggih. Mirip kamar di hotel bintang lima. Gratis? Tentu saja tidak. Semua ada nilainya. Membeli kemewahan di penjara tidak susah, asalkan dananya tak terbatas
Padahal, kalau kita pernah mendengar lagu lawas milik band Dlloyd yang sempat populer tahun 80-an judulnya ‘Hidup di Bui’, terasa tidak nyamannya hidup di penjara. Coba kita baca liriknya,  ‘Hidup di bui bagaikan burung. Bangun pagi makan nasi jagung. Tidur di ubin pikiran bingung, Apa daya badanku terkurung, Terompet pagi kita harus bangun, Makan di lantai nasinya jagung, Tidur di ubin pikiran bingung, Apa daya badan ku terkurung,” 
Kondisi penjara pun tak sesuram yang dibayangkan seperti di lagu tersebut. Seorang mantan narapidana Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Pusat, Syaripudin S Pane, sempat merekam sejumlah aktifitas di dalam penjara, ketika dirinya ditahan. 
Menurut Syaripudin dari rekaman video tersebut, diketahui ada salah satu blok di Rutan itu, yakni Blok K memiliki beberapa kamar khusus. Kabarnya, kamar ini banyak dihuni oleh para pejabat yang terkait kasus korupsi. 
Jangan bayangkan sel tahanan itu seperti yang kita saksikan di film-film. Menurut Syaripudin, kamar sel di blok tersebut justru tak ada teralisnya. Pintunya juga tak berjeruji, malah mirip pintu kayu rumah. 
Sama seperti yang disaksikan dalam sel tahanan Artalyta. Kamar tersebut difasilitasi dengan pendingin udara, lemari pendingin, dispenser dan televisi model terbaru. Di blok tersebut, terdapat fasilitas lapangan bulutangkis, tennis meja, gym. Bagi yang hobi menyanyi, malah ada ruangan khusus untuk karoeke. Keistimewaan penghuni kamar ini, disediakan pembantu yang tugasnya memasak, membersihkan kamar dan mencuci pakaian. 
Berapa nilai uang yang dikeluarkan supaya bisa menghuni blok ini? Syarifuddin merinci sekitar Rp 30 juta. Itu, belum termasuk biaya bulanan, keamanan, listrik dan gaji pembantu. 
Berangkat dari pengakuan Syaripudin itulah, Menteri Hukum dan HAM Amir Sjamsuddin dan wakil menteri Denny Indrayana, kemarin, mendadak melakukan sidak. Anehnya, saat sidak situasi dan kondisi rutan terlihat biasa-biasa saja. Malah, saat Syaripudin ikut melihat rutan tersebut, ia sempat dicemooh para sipir dan pegawai rutan. 
Kejadian ini mengingatkan kita saat rumah tahanan Pondok Bambu dikunjungi Menteri Hukum dan HAM saat itu, Patrialis Akbar. Kondisi rumah tahanan khusus perempuan ini terlihat biasa-biasa saja. Tak ada keistimewaan. Justru ketika mendadak dikunjungi Satuan Tugas Mafia Hukum, terbongkarlah sel-sel mewah di rutan tersebut. 
Kondisi ini mencerminkan adanya kesalahan dalam system pembinaan narapidana. Seharusnya penjara adalah tempat yang nyaman untuk belajar dan mengubah diri menjadi lebih baik. Penjara bukanlah tempat untuk membuang-buang uang. Penjara bukanlah universitasnya para penjahat. 
Narapidana juga harus diperlakukan baik, tanpa ada kekerasan ataupun pemerasan. Pemerintah dalam hal ini harus membina para narapidana ini tentang ahlak, moral, budi pekerti, sosial dan agama.
Pemerintah juga harus mendidik para narapidana untuk bisa mandiri dan mencari pekerjaan halal. Bisa dibayangkan, bagaimana nasib seorang narapidana yang mendekam di tahanan dalam waktu yang lama dengan situasi dan kondisi seperti sekarang. Justru ketika para narapidana ini awalnya amatiran, saat dipenjara, mereka akan menjadi professional. Bagi para pecandu narkoba, penjara adalah surga. Belum lagi bicara soal teroris, mereka malah semakin benci kepada negara. 
Khusus koruptor, mereka akan berupaya supaya bisa hidup nyaman di penjara dan menikmati hasil jarahannya.
Penjara di Indonesia adalah bukti bahwa hukum, kebebasan dan keadilan bisa dibeli dengan uang. Sehingga,  wajar, kalau penjara di Indonesia hanya berlaku bagi rakyat jelata yang karena lapar terpaksa harus mencuri beras untuk mengganjal perut yang lapar. Jadi, mereka yang merasa hidup di penjara bagaikan burung hanyalah masyarakat melarat dan masyarakat yang hidupnya ‘sekarat’.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s