Panggilan dari Cikeas

Posted: 10UTC37 10,2011 in caring (catatan garing)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa hari ini menjalankan tugasnya di kediaman pribadi, Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Cikeas seringkali menjadi tempat pemanggilan menteri-menteri, uji kelayakan menteri baru atau pertemuan SBY di luar tugas pemerintahan. Sama seperti mantan presiden Soeharto yang juga menggunakan kediaman pribadinya di Jl Cendana untuk menjalankan pemerintahan, SBY pun beberapa kali memutuskan kebijakan atau menyampaikan keputusan di kediaman pribadinya dan bukan di Istana Negara.
Kabar bermunculan ketika SBY memutuskan untuk menjalankan tugas di Cikeas. Apalagi bukan soal rencana perombakan (reshuffle) kabinet sebelum 20 Oktober 2011 ini. Ibarat bumbu pemanis, tatkala wajah pemerintahan terlihat kecut di mata rakyat, isu reshuffle pun menjadi penyedap. Seperti diketahui, beberapa bulan terakhir, pemerintahan SBY mengalami krisis legitimasi.
Ketidakpercayaan masyarakat terhadap kabinet pun semakin bertambah, ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan banyak penangkapan terhadap para pejabat di kementrian. Meski, belum menyentuh level menteri, terbongkarnya kasus-kasus korupsi di kementrian memperlihatkan bagaimana boroknya manajemen si menteri.
Harus diakui, saat ini reshuffle kabinet bukanlah jawaban yang setimpal terhadap krisis bangsa ini. Beberapa kali SBY melakukan perombakan kabinet, tetap saja, krisis masih menjadi menu sehari-hari bagi bangsa ini.
SBY boleh saja menjadikan reshuffle kabinet sebagai konsensus politik sementara untuk mempertahankan kekuasaannya. Tetapi, itu hanya konsensus politik di tingkat elite politik. Sedangkan rakyat terus menerus mengekspresikan ketidakpuasan atas situasi dan kondisi saat ini. Lihat saja, bagaimana jejaring sosial, pemberitaan media, aksi-aksi demonstrasi, dan seruan tokoh agama soal kinerja pemerintahan. Tapi tetap saja, tak pernah ada evaluasi ataupun solusi untuk keluar dari masalah-masalah yang selama ini membelit bangsa ini.
Bagi banyak orang, perombakan kabinet itu tak lebih dari tontonan politik. Kalau tertarik, silahkan mencermati. Sebaliknya, diabaikan pun tak masalah, karena memang tidak memberi nilai tambah apa-apa. Peristiwanya hanya siapa mengganti siapa pada jabatan menteri apa. Tak ada manfaat apa pun yang bisa didapat.  Pihak yang bisa merasakan manfaat langsung dari pergantian itu justru adalah presiden sendiri.  Jangan lupa perombakan menteri pun tak jarang didominasi kalkulasi politik.
Jadi, kalau pun presiden akhirnya merombak formasi menteri pada KIB-II, kita hanya mendapat informasi mengenai wajah baru di kabinet atau rotasi jabatan beberapa menteri, tak lebih dari itu.
Sebenarnya bukan persoalan perombakan kabinet yang diharapkan masyarakat saat ini. Dengan sisa waktu tiga tahun pemerintahan, rakyat meminta pemerintah untuk benar-benar menjalankan tugasnya dan bukan hanya menjaga pencitraan .
Seharusnya dengan sisa masa pemerintahan kedua ini, SBY bisa meninggalkan tinta emas, agar kepemimpinannya dikenang dalam sejarah bangsa ini. Bukan dengan melakukan bongkar pasang kabinet atau politik pencitraan kepada rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s