Semangat Ramadhan dan Pencegahan Korupsi

Posted: 09UTC44 10,2011 in caring (catatan garing)
Di bulan suci ini, nilai-nilai Ramadhan seharusnya terwujud dalam keseharian, termasuk dalam mengelola negara. Pasalnya, tiap tahun umat Islam Indonesia, termasuk para pejabatnya menjalankan ibadah puasa. 
Namun kejadian Kamis (26/8) sore, cukup membuat bangsa ini kembali tertampar karena ulah pejabatnya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tangan dua pejabat Kementrian Transmigrasi dan Tenaga Kerja dalam kasus dugaan suap. Kedua pejabat itu adalah Sekretaris Ditjen Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi (P2KT) I Nyoman Suisanaya dan Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi P2KT Dadong Irbarelawan. Bersama keduanya, ditangkap pula Dharnawati, seorang pengusaha.
Dari hasil penyelidikan sementara, uang pemberian itu diduga merupakan imbalan atas dicairkannya anggaran dana pembangunan infrastruktur daerah transmigrasi di Manokwari, Papua Barat. Anggaran pembangunan infrastruktur daerah transmigrasi di Manokwari itu dialokasikan di APBN-P 2011.
Sungguh memalukan, aksi suap ini seolah memperlihatkan tak kapok-kapoknya para pejabat melakukan praktik suap menyuap. Belum lama kita terperangah dengan aksi Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin dalam mengungkap kasus korupsi puluhan proyek pemerintah. Ini menandakan, apapun proyek pemerintah berbau korupsi dan kolusi. Masyarakat pun sudah geram dan gerah dengan aksi-aksi penyuapan ini. Apalagi dilakukan pejabat pemerintah.
Penangkapan yang dilakukan KPK setidaknya membuktikan kepada bangsa ini, bahwa kita masih butuh dengan KPK. Korupsi dengan segala tingkatannya —dari kelas teri hingga kakap—diyakini tetap terjadi kendati pencegahan dan penindakan terus dilakukan.
Tetapi, strategi KPK untuk mencegah korupsi, bukan lagi dengan aksi-aksi penindakan yang selama ini dilakukan. Sudah saatnya KPK memikirkan upaya pencegahan korupsi melalui pendekatan sistem. KPK harus bisa menutup segala celah atau peluang terjadinya korupsi. Dan yang paling utama, siapa pun yang melakukan korupsi harus dijatuhi 
hukuman maksimal sehingga bisa menimbulkan efek jera, termasuk,  memiskinkan 
koruptor itu sendiri. 
Ramadhan 1432 H ini bisa menjadi momentum untuk menghentikan praktik korupsi disemua level dan tingkatan. Korupsi memang sudah semakin parah mengerogoti bangsa ini. Bahkan, praktik korupsi di negeri  ini dilakukan tanpa mengenal ruang dan waktu. 
Dan entah kenapa, setiap Ramadhan, KPK beberapa kali menangkap tangan aksi penyuapan. Mulai dari tertangkapnya anggota Komisi Yudisial (KY) Irawady Joenoes sampai Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) M Iqbal. Artinya,  spirit Ramadhan belum bisa menyadarkan para pejabat kita untuk jujur pada diri sendiri termasuk pada amanah yang kita emban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s