Uang Palsu

Posted: 08UTC13 10,2011 in caring (catatan garing)

Rutin setiap tahun, menjelang memasuki bulan Ramadhan, peredaran uang palsu (upal) kembali marak dan mulai ada peningkatan. Menurut data Bank Indonesia (BI), hingga Mei 2011 peredaran uang palsu mencapai 57.380 lembar atau ada enam  lembar uang palsu per 1 juta lembar. Memang angka tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pecahan yang paling banyak dipalsukan hingga Mei 2011, terbesar pecahan Rp 100.000 sebanyak 33.272 lembar atau mencapai 57,99 persen dari total uang palsu. Kemudian terbesar kedua adalah Rp 50.000 sebanyak 20.217 lembar atau 35,23 persen  dari total uang palsu.

Pihak BI sebenarnya sudah beberapa kali melakukan sosialisasi soal uang palsu ini. Namun nyatanya, masih banyak masyarakat yang terkecoh. Pelaku pun menggunakan berbagai modus baru ketika mengedarkan uang palsu.  Misalnya memasukkan uang mainan ke dalam bundelan uang baru. Sehingga, secara kasat mata uang mainan tersebut tidak akan kelihatan. Para pelaku ini berusaha mengecoh, memanfaatkan kelengahan, ketidaktahuan, dan ketidaktelitian sebagian pengguna uang. Masyarakat sendiri kadangkala tidak terlalu peduli untuk meneliti secara detail lembar demi lembar, sehingga baru sadar ketika akan digunakan. Tentu saja tidak pernah terjadi sekali transaksi dalam jumlah besar, tetapi sedikit demi sedikit, didistribusikan secara bertahap. Cara seperti ini akan lebih aman, dan terhindar dari pengamatan aparat keamanan. Dan, karena itu, sulit terlacak.

Selain peredaraan, produksi uang palsu pun semakin canggih dan mendekati keasliannya. Apalagi, sekarang beredar aneka macam kertas dengan berbagai tingkat kualitas. Mesin cetak juga beraneka ragam. Dengan sentuhan teknologi canggih, serta kemampuan operasional yang baik, sangat mudah memproduksi upal dalam jumlah besar. Rangkaian produksi dan peredaran upal inilah yang membuat aparat hukum sulit untuk mendeteksi. Biasanya peredaraan uang palsu lebih terdeteksi dari ketidaksengajaan.

Beredarnya uang palsu, seringkali menjadi momok bagi masyarakat. Sebab siapa pun yang menerima uang palsu akan mengalami kerugian hilangnya nilai nominal (nilai uang sesuai harga pasar). Sungguh ironis mana kala uang palsu beredar marak di tengah masyarakat saat mendekati bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Hal ini seperti sudah menjadi tradisi bahwa kebutuhan akan meningkat. Sebanding dengan naiknya barang-barang kebutuhan pokok maka peredaran uang dimasyarakat pun akan mengalami peningkatan.

Bank Indonesia memang harus terus menerus melakukan sosialisasi soal uang palsu ini. Namun yang terpenting, aparat hukum juga harus tegas dalam menindak pelaku peredaraan dan pihak-pihak yang memproduksi uang palsu. Karena bagaimanapun, para pelaku peredaraan uang palsu maupun yang memproduksinya, biasanya itu-itu saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s