Tragedi Somalia

Posted: 08UTC06 10,2011 in caring (catatan garing)

Perserikatan Bangsa-bangsa  (PBB) telah mendeklarasikan kejadian luar biasa di Somalia: kelaparan. Negeri ini mengalami kekeringan dalam kurun waktu setengah abad. Somalia menjadi wilayah paling parah yang terkena dampak bencana kelaparan di Tanduk Afrika, selain sebagian Kenya, Uganda, Ethiopia dan Djibouti juga terkena dampak dari musim kemarau terburuk selama 50 tahun terakhir ini.

PBB telah menyatakan dua wilayah di Somalia Selatan yaitu di kawasan Bakool dan Shabelle Selatan mengalami bencana kelaparan. Sekitar 3,7 juta orang, separuhnya penduduk Somalia, – negara  yang berpenduduk 9,3 juta, saat ini membutuhkan bantuan internasional.

Data Badan Pengungsi PBB (UNHCR) menunjukkan dalam sebulan terakhir hampir 40.000 korban kekeringan dan kelaparan mengungsi ke Mogadishu, ibu kota Somalia, untuk mencari bantuan. Badan Pengungsi PBB melaporkan jumlah pengungsi semakin bertambah dan rata-rata 1.000 orang tiba di kota itu setiap harinya.

Bencana kelaparan ini semakin parah, karena sulitnya mengirim bantuan. Konflik politik yang berkepanjangan semakin memperparah situasi. Bantuan tidak mampu menjangkau 60 persen orang-orang yang membutuhkan makanan, karena sejumlah kelompok bersenjata justru menghalang-halanginya.

Badan-badan bantuan menarik diri dari Somalia selatan pada awal 2010 setelah kelompok Al-Shabaab mengancam untuk menyerang mereka. Al-Shabaab mengobarkan perang selama empat tahun dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu.

Seperti biasa, Amerika Serikat menuding Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden.

Wilayah Tanduk Afrika  telah lama menderita karena konflik politik berkepanjangan.  Sejak dijajah oleh sejumlah negara Eropa pada abad 18, beberapa negara di kawasan ini nyaris tak pernah sepi dari konflik.

Sebenarnya sejak 2006, kawasan ini relatif lebih stabil. Saat itu, Uni Pengadilan Islam (UIC) mengambil alih ibu kota Somalia, Mogadishu dan beberapa wilayah. UIC berhasil mengalahkan para panglima perang suku yang selama bertahun-tahun berbuat onar. UIC berhasil menerapkan sebagian hukum syariah Islam di negeri itu yang mulai membawa ketenangan.

Sayangnya ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ethiopia dengan bantuan negara-negara maju melakukan serangan ke Somalia untuk menghapus Dewan Pengadilan Islam Tertinggi (Supreme Islamic Courts Council /SICC) dan mendirikan pemerintahan baru. Akibatnya, konflik pun kembali dan terus berlarut-larut hingga saat ini.

Apa yang terjadi di Somalia adalah tragedi. Hasil dari setumpuk masalah: perubahan iklim, naiknya harga pangan, dan ketidakstabilan negeri selama beberapa dekade. Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi pada bangsa ini. Meski di Kediri Jawa Timur, ada seorang ibu nekad mencuri beras, karena anak-anaknya kelaparan. Ini menjadi pelajaran moral untuk pemerintah supaya tidak abai kepada rakyatnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s