Kongres Majunya Sepakbola

Posted: 07UTC14 10,2011 in caring (catatan garing)

Hari ini, Kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) akan digelar di Kota Solo, Jawa Tengah. Bagi sepak bola Indonesia, Solo pernah menorehkan sejarah. Pada 1930, kota ini menjadi tuan rumah kongres pertama PSSI. Saat itu, Ir Soeratin Sosrosoegondo dipercaya memimpin PSSI. Di tangan Soeratin, PSSI bukan sekadar mencari urusan prestasi, melainkan juga perjuangan bangsa. Apa yang dilakukan Soeratin merupakan cermin semangat cinta Tanah Air. Di saat para pemimpin lainnya sibuk dengan urusan politik untuk memperjuangkan kedaulatan bangsa, Soeratin dan PSSI melakukannya dengan aktivitas sepak bola untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan.  Sayangnya, belakangan ini prestasi sepak bola Indonesia semakin menurun. Pembinaan sepak bola usia dini dan berjenjang tak ditangani secara serius. Yang selalu dilakukan PSSI sebagai induk organisasi tertinggi sepak bola di Indonesia adalah melakukan jalan pintas. Pembentukan tim nasional yang kemudian disekolahkan ke luar negeri dengan biaya yang tidak sedikit. Tak hanya itu, dalam menjalankan kompetisi, banyak sekali persoalan yang tidak pernah diselesaikan. Mulai dari masalah wasit, kontrak pemain, dugaan suap, pengaturan skor, sampai tudingan adanya mafia dalam kompetisi tersebut.

Sepak bola Indonesia akhirnya diurus oleh orang-orang yang tidak kompeten di bidangnya. Alih-alih mengurus sepak bola, yang terjadi malah saling sikut, saling serang, dan saling menjatuhkan. Sepak bola di Indonesia menjadi alat politik. Para politikus berebut menjadi pengurus, sedangkan orang-orang yang benar-benar mau meng urus sepak bola malah tersingkir dan menjadi penonton di luar. Itulah sebabnya banyak orang berharap kongres yang akan digelar di Solo ini membawa semangat Soeratin untuk mengembalikan muruah PSSI seperti semula. Tak ada lagi kepentingan-kepentingan politik untuk mengurus PSSI. Tak ada lagi kepentingan uang atau bisnis di dalamnya. Rakyat sudah rindu dengan prestasi sepak bola di Indonesia. 

Prestasi harus dibangun dari keterampilan dan talenta permainan bola yang cantik serta dikemas menghibur publik. Bukan lagi dengan gontok-gontokan, keroyokan, ataupun berebut posisi menjadi pengurus PSSI. Para peserta Kongres PSSI sebaiknya segera introspeksi diri saat mengikuti kongres. Marilah merendahkan diri dan bukan membusungkan dada membawa kepentingan kelompoknya. Temukan solusi dan revitalisasi agenda pemilihan, sehingga segera terbentuk pengurus PSSI yang bersih dari petualang-petualang politik dan bisnis. Kita berharap Ketua Komite Normalisasi (KN) Agum Gumelar ‘lebih’ bijak memimpin kongres. Tak cukup bijak, Agum juga harus bersikap tegas, sehingga perdebatan bertele-tele yang diperlihatkan saat kongres di Jakarta dan Pekanbaru tak terulang lagi.  Semua peserta kongres wajib mereduksi semua perbedaan demi kepentingan sepak bola. Abaikan dulu kemungkinan mendapatkan sanksi FIFA. Yang paling utama, pergunakan hati ketika bermusyawarah. Selamat berkongres!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s