Mahalnya Pendidikan

Posted: 06UTC32 10,2011 in caring (catatan garing)

Tahun ajaran baru segera tiba. Sebagian orang tua mulai dibuat pusing tujuh keliling mencari sekolah atau perguruan tinggi terbaik untuk anaknya. Sekolah bermutu tentunya punya jaminan, namun biayanya pun tidak sedikit.  Di negara yang mempunyai dasar negara Pancasila ini, sekolah bagus pastinya bukan sekolah murah. Orang miskin ataupun pas-pasan harus ditunjang dengan otak encer untuk punya kesempatan masuk sekolah bermutu. Namun, itu pun harus bersaing dengan anak-anak orang kaya yang juga mempunyai kapasitas yang sama.  Tiap tahun, keluhan mahalnya biaya masuk sekolah menjadi ritual. Besarnya sumbangan pembangunan, SPP, uang seragam, isu jual beli bangku, menjadi berita yang muncul tiap tahun di media massa. Berulang-ulang dan tak pernah ada perubahan. 

Tingginya biaya pendidikan mengakibatkan menurunnya kualitas sumber daya generasi muda. Anak-anak tak mampu tak bisa bersekolah. Kalaupun ada sekolah murah, kualitasnya dipertanyakan. Padahal, tujuan sekolah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.  Apalah artinya 20 persen dana Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) untuk kepentingan pendidikan. Apalah artinya bantuan operasional sekolah (BOS) terhadap sekolah, beasiswa bagi pelajar yang berprestasi, kalau masih banyak anak-anak putus sekolah di tengah jalan. Sejauh ini pemerintah cuci tangan terhadap masa depan bangsa ini. Subsidi pendidikan semakin menciut. Sekolah akhirnya membebankan biaya pada masyarakat dengan berbagai macam iuran. Para pejabat ikut menambah persoalan dengan melakukan praktik korupsi di bidang pendidikan. Bidang ini menjadi lahan basah untuk mengeruk kekayaan. Sudah tak terhitung berapa pejabat yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maupun kejaksaan. Tapi tetap saja, berulang-ulang dan tak pernah kapok. 

Privatisasi lembaga pendidikan membuat lembaga pendidikan negeri tak berdaya dari sisi keuangan. Sekolah negeri sama mahalnya dengan sekolah swasta. Idealisme mencerdaskan anak bangsa pun luntur. Hal itu bukan tidak mungkin akan menghambat program-program nasional seperti wajib belajar, pemberantasan buta aksara, maupun pemberantasan pengangguran. Seharusnya privatisasi lembaga pendidikan negeri harus dimanfaatkan sebagai momen untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Bukan malah ‘dimanfaatkan’ untuk memperkaya atau menjadi ‘proyek’ bagi kepentingan tertentu.  Sistem pendidikan kita krisis solidaritas. Peluang jadi pintar tertutup karena pendidikan jauh dari jangkauan masyarakat yang kurang mampu. Akibatnya, jurang perbedaan semakin melebar. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terpuruk. 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s