Fitnah

Posted: 06UTC02 10,2011 in caring (catatan garing)

Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Tamsil ini sepertinya dirasakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menanggapi maraknya penggunaan teknologi informasi dan jejaring sosial sebagai sarana penyebaran fitnah dan pembunuhan karakter terhadap dirinya.Bagi Yudhoyono, hal itu sebagai bagian dari sikap yang tak bertanggung jawab dan kesatria. Ia melihat pada masa lalu, sebelum ada kebebasan pers, tak sembarang orang bisa menyerang dan mendiskreditkan. Situasi yang berkembang saat ini menurut Yudhoyono ialah sebagai suatu gerakan mengadu domba satu sama lain.

Pernyataan Presiden yang cukup keras menanggapi desas-desus dan fitnah ini adalah untuk yang ke sekian kalinya. Ibaratnya seperti pepatah, tidak mungkin ada asap jika tidak ada api. Dan seperti diketahui, kondisi politik di Indonesia memang tak henti-hentinya mengalami ‘hipertensi’. Yang sangat kita sayangkan, mengapa Presiden memilih menanggapi berbagai desas-desus tersebut.Kita berharap Susilo Bambang Yudhoyono bersikap seperti presiden-presiden terdahulu bangsa ini. Kita lihat bagaimana almarhum Abdurrahman Wahid yang tidak pernah mau peduli soal isu-isu tentang dirinya. Demikian juga dengan Megawati. Malah presiden kelima ini memilih memproses secara hukum ketika namanya dicemarkan oleh sebuah media. Mungkin pendapat Prof Jimly Ashiddiqie layak didengar oleh Presiden. Seharusnya, Yudhoyono tidak terlalu risau menanggapi desas-desus itu. Masyarakat Indonesia sekarang sudah kritis. Mereka sudah bisa membedakan mana itu isu dan mana itu fakta. Presiden seyogianya jangan terlalu ‘tipis’ kuping terhadap hal-hal yang ‘sampah’ seperti gosip, isu-isu, dan fitnah yang tidak jelas sumber beritanya. Presiden sebaiknya konsentrasi terhadap isu-isu besar, antara lain, pemulihan ekonomi bangsa, penegakan hukum, ataupun pemberantasan korupsi. Jangan membuang-buang waktu untuk melayani hal-hal yang tidak produktif.Daripada menanggapi fitnah atau isu, apakah tidak sebaiknya para elite bangsa ini beriktikad untuk mengembangkan sikap-sikap kenegarawanan karena kunci pembelajaran saat ini ada di tangan para pemimpin, yakni dengan memberikan keteladanan-keteladanan dalam bersikap dan berperilaku. Jangan justru mengembangkan kultur provokasi yang cenderung mendestruksi hubungan. Desas-desus adalah satu berita yang belum jelas faktanya. Sehingga membicarakan hal ini, selain kategorinya gibah ketika memang benar faktanya, bisa termasuk dalam fitnah ketika faktanya keliru. Di sinilah kita harus berhati-hati dan menghindari memperbincangkan atau bahkan menghukum suatu fakta berdasarkan desas-desus. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s