Drama Obama

Posted: 05UTC00 10,2011 in caring (catatan garing)

Sebuah terobosan baru dilakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Dalam pidatonya tentang kebijakan luar negeri AS untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, ia memberi dukungan kepada Palestina sebagai sebuah negara dengan batas-batas wilayah seperti sebelum Perang Arab-Israel 1967. Pidato ini memang mengejutkan banyak kalangan karena menggambarkan sikap AS yang cukup keras terhadap Israel. Dengan pengakuan wilayah ini, Palestina berhak kembali mendapatkan wilayah yang sudah dicaplok Israel sejak perang Arab-Israel yang dikenal dengan nama Perang Enam Hari.  Namun, belum sepekan Obama memberikan dukungan tersebut, tiba-tiba saja ia berbalik arah. Berpidato di konferensi tahunan AIPAC (America-Israel Public Affairs Committee), Obama terang-terangan menyatakan dirinya pendukung setia Zionis Israel. Inilah mengapa kita menyebut dukungan Obama terhadap Palestina ini sebagai sebuah drama yang dimainkan Presiden AS tersebut. Bagaimanapun, perubahan sikap Obama seperti menggambarkan sikap Amerika Serikat sebagai negara pendukung setia Israel. 

Kekuatan lobi Yahudi di Washington adalah kekuatan yang paling berpengaruh. Para anggota kongres yang berada di Gedung Capitol Hill, baik dari Partai Republik maupun Demokrat tidak mendukung kebijakan yang diambil Obama soal Palestina. Inilah yang membuat Obama ragu untuk meneruskan kebijakannya mendukung penetapan wilayah Palestina.

Apalagi, di dalam negeri, presiden keturunan Afrika ini tengah menghadapi dilema. Tingkat popularitas Obama di mata rakyat Amerika terus menurun sejak ia resmi menjadi Presiden AS pada 2008 lalu. Popularitas Obama bahkan mencapai titik terburuk pada 2009 karena sebagian besar rakyat AS menilai Obama gagal mengatasi persoalan dalam negeri, khususnya masalah ekonomi.

Hal itulah yang membuat sikap Obama terbelah. Pidato Obama di Kairo pada 2009 lalu soal dunia Islam dan Arab sepertinya pemanis di bibir saja. Obama cuma bisa mengecam perluasan permukiman ilegal Israel di Palestina, tapi tidak mengenakan sanksi kepada Israel. Alih-alih menarik pasukannya dari Irak, Obama malah mengirim tentara tambahan ke Afghanistan.

Harapan akan adanya perdamaian di Timur Tengah sepertinya hanya mimpi. Biar bagaimanapun, Israel adalah buah karya Amerika Serikat yang tentunya akan terus dipelihara. Lihat saja bagaimana proses perdamaian yang diharapkan pascapidato Obama tak berjalan. Satu pekan setelah pidato itu, kita belum bisa membaca peta dan dukungan dari negara-negara sekutu AS.

Tak hanya itu, hingga saat ini, belum ada tindakan lanjutan AS yang paralel dan konsisten untuk mewujudkan perdamaian di Palestina. Jadi, anggap saja pidato Obama hanyalah bagian dari sebuah drama yang dimainkan olehnya untuk menghibur dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s