Jaksa Nakal Riwayatmu Kini

Posted: 05UTC53 10,2011 in jadul

Sebelum era reformasi, pernahkah terdengar pengusutan atas jaksa nakal? Nyaris tak terdengar. Bukan berarti tidak ada, melainkan kepiawaian pembinaan internal kejaksaan yang mampu meredam tanpa harus terdengar publik.

Sejak republik ini berdiri, telah ada 23 jaksa agung yang memimpin institusi kejaksaan. Mulai kepemimpinan Jaksa Agung Gatot Taroenamihardja (1945), Kasman Singodimedjo (1945-1946), Tirtawinata (1946-1951), R Soeprapto SH (1951-1959), Gatot Taroenamihardja (1959), R Goenawan SH (1959-1962), R Kadaroesman SH (1962-1964), dan Brigjen A Soethardhio (1964-1966) tak ditemukan rekaman data kasus jaksa nakal sepanjang awal era kemerdekaan hingga akhir Orde Lama itu.

Terlebih pada era Orde Baru. Pada masa kepemimpinan Jaksa Agung Letjen TNI Sugiharto (1966-1973), Letjen TNI Ali Said SH (1973-1981), Letjen TNI Ismail Saleh SH (1981-1984), Mayjen TNI Hari Suharto SH (1984-1988), Laksda TNI Sukarton Marmosujono SH (1988-1990), Singgih SH (1990-1998), dan Soedjono C Atmonegoro SH (1998), pengawasan terhadap jaksa berjalan ala disiplin militer.

Era reformasi pun datang dengan ditandai krisis multidimensi akibat krisis ekonomi berkepanjangan, jatuhnya rezim Orde Baru, dan kebebasan berpendapat membuat kondisi di dalam kejaksaan mulai terpotret. Dalam kepemimpinan Jaksa Agung Andi Ghalib SH (1998-1999), Marzuki Darusman SH (1999-2001), Baharuddin Lopa SH (6 Juni 2001-3 Juli 2001 meninggal saat menjabat), MA Rachman SH (14 Agustus 2001-21 Oktober 2004), Abdul Rahman Saleh (21 Oktober 2004-9 Mei 2007), dan Hendarman Supandji (9 Mei 2007-sekarang) mulailah terdengar laporan-laporan kasus jaksa nakal.

Janji Lopa
Saat bertemu Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), Teten Masduki, pada 21 Juni 2001 misalnya, jaksa agung almarhum Baharuddin Lopa berjanji membersihkan jaksa nakal dalam upaya menyidik kembali kasus-kasus dugaan KKN ke pengadilan. Saat itu, kepemimpinan Lopa layak diteladani.

Sewaktu ia menjabat, nyaris tak ada kendaraan mewah berseliweran di area parkir kantor Kejakgung. Tak ada jaksa yang berani bertemu dengan pengusaha-pengusaha bermasalah. Tak hanya itu, Lopa bersikap tegas dan keras kepada anak buahnya. Sayang, di saat harapan besar membersihkan kejaksaan ada di pundak Lopa, ia meninggal dunia. Pengganti Lopa ternyata tak bisa melanjutkan pola itu dalam membersihkan kejaksaan. Terbukti, kendaraan-kendaraan mewah kembali berseliweran di Kejakgung.

Memang, di saat tudingan banyak pihak bahwa banyak jaksa yang bermain-main dalam ranah peradilan, kejaksaan masih memiliki banyak jaksa yang bersih, teguh memegang sumpah/janjinya, dan berdedikasi serta berdisiplin tinggi atas tugas dan tanggung jawabnya.

Namun, tak dapat dimungkiri, godaan dan rayuan pihak-pihak tertentu bisa jadi membuat mereka berubah sikap, terutama ketika memproses pengusutan dan penuntutan kasus-kasus pelanggaran hukum. Komisi Kejaksaan yang dibentuk untuk memantau kinerja jaksa pernah mengungkapkan jajaran Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menempati peringkat pertama jaksa nakal, yaitu 22 kasus. Menyusul Kejaksaan Tinggi Sumut dengan 14 kasus dan ketiga ditempati Kejaksaan Tinggi Jateng dengan 12 kasus.

Laporan-laporan soal oknum jaksa bermasalah sering menghiasi surat kabar setiap harinya. Namun, sepertinya hal ini tak cukup. Para jaksa malah tambah berani bermain-main dalam perkara. Kasus jaksa di Karawang dan Kuningan, misalnya, para jaksa meminta sejumlah uang secara terang-terangan.

Namun, seperti bisul yang siap pecah, permainan para jaksa ini akhirnya terbuka lebar ketika jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap tangan menerima uang yang cukup besar. Meski dalih yang diajukan cukup menggelikan, yaitu bisnis permata, masyarakat sudah terlanjur tak percaya lagi dengan segala ucapan dan tindakan para jaksa. Seorang jaksa yang bertugas di Kejari Tangerang mengeluhkan bagaimana anaknya yang bersekolah di sekolah dasar diledek teman-temannya karena suka makan duit haram.

Wajar rasanya, Jaksa Agung Hendarman Supandji harus menitikkan air mata ketika mendengar anak buahnya ditangkap. Upaya Hendarman membersihkan kejaksaan sepertinya tak tuntas dan harus dinodai sendiri oleh anak buah kesayangannya. Pencopotan Kemas Yahya Rahman dan M Salim, kemarin, merupakan bentuk kegeraman Hendarman yang ingin menyapu bersih kejaksaan dari oknum-oknum jaksa bermasalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s