Pekan Budaya ala Pasar Malam

Posted: 05UTC14 10,2011 in lalampah

Merevitalisasi tradisi dan budaya Minang di panggung seni 

Ayo


Sepintas, Pekan Budaya Sumbar, yang digelar di Padang, 8 Juli-14 Juli 2007, benar-benar mirip pasar malam — penuh sesak pedagang kaki lima dengan teriakan-teriakan khas mereka. Orang-orang pun bergerombol, makan-makan, dan melihat-lihat dagangan. ”Inilah Padang. Susah kalau tak ada pedagang kaki lima,” kata Yunita, salah seorang panitia.

Tetapi, ini memang pekan budaya — yang kabarnya menelan biaya hampir Rp 1,2 miliar. Semua kabupaten/kota di Sumatra Barat, serta provinsi dan negara tetangga, pun mengikuti pekan budaya ini. Dengan konsep revitalisasi budaya, Pemda Sumbar memberikan kesempatan bagi semua kabupaten/kota untuk memperkenalkan seni tradisi dan budaya masing-masing.

Pekan budaya ini dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Budaya dan Pariwisata Jero Wacik dengan tujuan untuk menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri. Menurut Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi, pekan budaya ini merupakan kegiatan tahunan yang telah berlangsung sejak 1983. Tahun ini dilaksanakan di Taman Budaya dan Museum Adityawarman, Padang.

Karena lebih mirip pasar malam, beberapa wisatawan manca negara sempat mengeluhkan pekan budaya ini. ”Awalnya saya tertarik ketika pihak travel memberitahu adanya acara ini. Ternyata tak ada yang menarik,” ujar Pierre Le Bouf, wisatawan asal Prancis. Ia memilih meneruskan wisata ke Bukittingi.

Pierre dan beberapa temannya sempat menonton salah satu pertunjukan seni. Namun, karena tata panggungnya terlalu sederhana, pertunjukan terasa tidak hidup, dan sepi penonton. ”Padahal, tarian dan pertunjukan tadi sangat bagus,” ujarnya.

Namun, Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Sumatra Barat James Hellyward membantah konsep pasar malam dalam pekan budaya ini. Menurutnya, pekan budaya ini adalah milik masyarakat. ”Kalau memang seperti pasar malam, karena inilah Padang. Tapi, bisa kita lihat, para pengunjung tak hanya melihat dagangan, mereka juga melihat pertunjukan seni budaya,” ujarnya.

Menurutnya, panitia sengaja memberikan kesempatan kepada seluruh kabupaten/kota untuk memperkenalkan seni tradisi dan budaya masing-masing. ”Kami juga memasukkan budaya nusantara lainnya, seperti seni budaya Melayu. Namun, kami lebih mengutamakan seni budaya Minang. Pekan budaya ini menjadi ajang bagi mereka untuk menampilkan yang terbaik,” katanya.

Meski mirip pasar malam, memang tetap ada sisi-sisi yang menarik. Panitia tetap mementaskan berbagai ekspresi seni khas Minang, seperti randai, tari-tarian, saluang, salawat dulang, gamad dan lagu pop Minang. Tak hanya itu, segala bentuk dan jenis seni budaya Minang yang sudah diangap langka pun dihadirkan.

Beberapa anak muda yang datang juga cukup apresiatif terhadap berbagai pertunjukan seni budaya Minang itu. Yusrizal, mahasiswa Universitas Andalas, misalnya, mengaku tertarik dan kagum pada seni budaya Minang yang ditampilkan. ”Sayangnya, seni budaya ini seperti milik orang tua dan bukan milik anak muda,” katanya, usai menonton salah satu pertunjukan.

Pertunjukan di pekan budaya ini terbagi dalam tiga zona atau wilayah, yakni zona kepulauan (Mentawai), daratan dan pesisir. Masing-masing daerah menampilkan seni budaya yang dianggap sudah punah dan yang masih berjalan hingga sekarang. Seperti, tarian dragon boat di Padang, tabuik di Pariaman, paralayang di Agam, dan pedati di Bukittinggi.

Dari satu sisi, panitia memang berhasil melakukan upaya revitalisasi budaya. Misalnya, pada acara pembukaan yang dihadiri Wapres. Penampilan komposisi musik perkusi dan gerak massal serta pawai budaya sempat membuat takjub para pengunjung dan para pejabat.

Komposisi musik perkusi itu bahkan sempat mengundang decak kagum. Anak-anak muda yang mengaransir dan memainkan komposisi itu layak mendapat pujian, karena mereka berhasil memadukan unsur-unsur musik dari berbagai daerah di Minang dengan musik modern (Barat).

Pergelaran komposisi musik perkusi yang dinamakan Musik Tokok Balega ini digarap oleh Andranova sebagai komposer dengan penata gerak Syaiful German. Para personelnya adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang. Pergelaran ini menggunakan alat musik perkusi dengan menggabungkan aliran tradisional dan Barat namun tetap mengangkat suasana kerakyatan khas Minang.

Pergelaran inilah yang mampu menutup kekurangan Pekan Budaya Sumbar tahun ini. Wapres Jusuf Kalla pun sempat mengacungkan jempolnya tanda memuji. Demikian juga Menteri Budaya dan Pariwisata Jero Wacik. Menurut Wacik, Sumbar merupakan daerah yang menjanjikan dalam pengembangan pariwisata, karena kaya seni budaya dan masyarakatnya masih memegang nilai-nilai tradisi.
Hampir semua pertunjukan seni budaya Minang yang digelar di Pekan Budaya Sumbar tak lepas dari pengaruh agama Islam. Mulai dari pesisir, daratan sampai kepulauan, tari-tarian yang dipertunjukan sangat kental nilai-nilai Islam.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Sumbar, James Hellyward, agama dan adat menjadi landasan hidup sehari-hari masyarakat Minang. ”Saya jamin di Sumbar ini tak ada pornografi. Kita bisa lihat, bagaimana tari-tarian yang ditampilkan, semuanya sopan dan sesuai etika,” katanya.

Melalui pekan budaya ini, tambahnya, panitia ingin memperkenalkan seni dan budaya Minang pada masyarakat luas, khususnya generasi muda. ”Karena, belum semuanya mengenal seni budaya yang dimiliki tiap daerah di Minang,” katanya.

Menurut James, tiap tahun konsep pekan budaya ini hampir sama. ”Tapi, ada beberapa tambahan pada mata acara, seperti randai, pencak silat dan saluang. Tahun lalu, seni tradisi ini tidak dipertontonkan. Perbedaannya lagi, masing-masing daerah mempersiapkan tim masing-masing untuk tampil terbaik. Bukan bergabung seperti tahun lalu,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s