Selamat Datang Kuliah Mahal

Posted: 05UTC16 10,2011 in jadul

Hanya tekad yang dibawa Ahmad Toha ketika datang ke Bandung untuk mendaftar ke Institut Teknologi Bandung (ITB) 10 tahun lalu. Pesona kampus yang membesarkan Soekarno itu membuatnya tak memikirkan ucapan kedua orang tuanya di Tegal, Jawa Tengah, yang sama sekali tak bisa memberinya dukungan finansial untuk kuliah dan hidup di Bandung.

”Pertama kali saya menemui orang-orang Tegal yang sukses di Bandung dan mereka akhirnya mau membantu,” kenang Toha. Selama hampir tujuh tahun kuliah di jurusan Teknik Industri, Toha tak pernah menerima kiriman uang dari orang tuanya. Demi menghemat uang, dia pernah menumpang di tempat teman, tiga bulan tidur di atap gedung jurusan dengan risiko kedinginan dan kehujanan, hingga akhirnya ketahuan staf kampus dan ditawari tinggal di laboratorium sampai lulus.

Orang-orang seperti Toha saat itu banyak ditemui di kampus ITB, walau dengan kondisi tak seekstrem itu. Uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sebesar Rp 750 ribu per semester, tak menyurutkan tekad mereka untuk menimba ilmu di ITB. Mereka bisa bertahan dengan mengandalkan gaji dari mengajar les privat atau bimbingan belajar yang banyak bertebaran di sekitar kampus, dan yang beruntung mendapatkan beasiswa.

Mulai tahun 2000, pemerintah menetapkan status Badan Hukum Milik Negara yang memberikan otonomi lebih luas kepada perguruan tinggi negeri (PTN) dalam mengelola kampus. Status BHMN diterapkan di Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan ITB. Dampaknya ke uang SPP langsung terasa. SPP yang semula dalam kisaran ratusan ribu per semester kini sudah menembus angka jutaan.

SPP ITB setiap tahun naik Rp 250 ribu dan sampai tahun 2008, lalu SPP yang harus dibayarkan mahasiswa per semester minimal Rp 2,7 juta sampai Rp 3,7 juta. Tahun 2009 ini, ITB menerapkan pembayaran untuk setiap SKS (satuan kredit semester) mata kuliah seperti layaknya universitas swasta. SPP ditetapkan Rp 1,5 juta dan per SKS Rp 125 ribu sehingga setiap semester mahasiswa yang mengambil sistem paket, harus merogoh rata-rata Rp 3,75 juta.

Bayangan uang kuliah yang mahal ini sempat menyiutkan nyali puluhan calon mahasiswa baru ITB pada masa awal penerapan BHMN. Kampus ITB juga berubah penampilan. Lapangan parkir di utara kampus makin penuh dengan mobil mahasiswa. Sempadan Jalan Taman Sari di sebelah barat kampus disesaki mobil yang tak kebagian parkir di dalam kampus.

Sampai akhirnya pada tahun 2003, lapangan rumput di sebelah selatan Aula Barat dan Aula Timur yang biasa dipakai mahasiswa bermain bola itu disulap menjadi lapang an parkir, untuk memenuhi kebutuhan parkir mobil mahasiswa baru yang tampaknya semakin banyak datang dari kalangan berada.

Dan, orang-orang seperti Toha yang dulu ketika telat membayar SPP bisa langsung terkena sanksi nol SKS, tampaknya makin jarang kelihatan. Demodemo mahasiswa menentang penerapan BHMN di ITB sudah tak tampak lagi karena mahasiswa yang kondisinya seperti Toha, mungkin sudah punah.

”Masih ada mahasiswa yang setiap bulan hanya dapat kiriman dari orang tuanya Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. Itu rata-rata mahasiswa dari Nganjuk dan Ngawi,” kata Presiden Keluarga Mahasiswa (KM) ITB, Ridwansyah Yusuf.

Namun, Yusuf juga merasakan adanya jurang yang makin lebar antara mahasiswa kaya dan miskin sejak SPP di ITB semakin mahal. Terlebih dengan adanya penerimaan mahasiswa lewat jalur khusus ujian saringan masuk (USM) ITB, dengan biaya SPP empat tahun dibayar di muka sebesar minimal Rp 45 juta untuk 10 per sen kursi dari 2.200 mahasiswa baru tiaptiap tahun. Mulai tahun 2009 ini, diberlakukan dua jenis USM, yaitu USM dae rah dengan sumbangan Rp 55 juta dan USM terpusat dengan sumbangan Rp 25 juta.

Setiap kali diadakan USM ITB, jalanan seputar kampus ITB akan dipenuhi pemandangan mobil-mobil pelat luar kota Bandung. Banyak calon mahasiswa jalur khusus itu yang diantar keluarganya untuk mengikuti ujian. Kini, jalur USM disediakan bagi 60 persen kursi sehingga mahasiswa yang masuk melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), hanya mendapat jatah 40 persen kursi.

Di UGM, SPP memang masih Rp 500 ribu per semester, namun ada tambahan biaya operasional pendidikan yang dihitung berdasarkan SKS yang diambil mahasiswa per semester sebesar Rp 60 ribu per SKS untuk jurusan sosial dan Rp 75 ribu untuk jurusan eksakta. Artinya, setiap semester mahasiswa harus membayar Rp 1,58 juta sampai 1,85 juta. Namun, UGM juga menerapkan uang pangkal masuk (admission fee) mulai Rp 5-20 juta.

Selain jalur SNMPTN, UGM juga membuka program ujian mandiri di 17 kota dengan nilai sumbangan yang tidak terbatas. Dan, pemandangan seperti di USM ITB juga kembali terulang. Dampak BHMN ternyata juga menular ke kampus lain yang tidak mendapat status itu. Universitas Padjadjaran (Unpad) sudah mulai menaikkan biaya SPP. Pada tahun 2006 sampai 2007, SPP yang dibayarkan mahasiswa antara Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta tergantung pada jurusan yang diambil. Mulai tahun 2008 lalu, SPP Unpad tercatat Rp 2,5 juta.

”Tapi, sebenarnya Unpad ini masih tergolong murah dibandingkan perguruan tinggi lain di Bandung, apalagi yang swasta,” kata Supriatna, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi Unpad. Namun, dia juga meng akui, selama beberapa tahun ini terjadi perubahan drastis kondisi mahasiswa baru setelah Unpad juga membuka jalur nonreguler, melalui Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP) dengan sumbangan puluhan hingga ratusan juta, tergantung jurusan yang diambil.

Fakultas Kedokteran menjadi jurusan dengan sumbangan terbanyak melalui SMUP, yaitu minimal Rp 175 juta, naik drastis dari tahun lalu yang masih Rp 125 juta. Sementara Fakultas Peternakan, Sastra, dan MIPA hanya memasang harga minimal Rp 10 juta dan Rp 15 juta. Fa kultas lain, seperti Hukum dan Ekonomi minimal sumbangan sekitar Rp 30 juta.

Fakultas Hukum Unpad mulai tahun 2005 membuka jalur nonreguler lewat SMUP, yang membuat jumlah mahasiswa membengkak dari 200 per angkatan menjadi 400 dan mulai tahun 2008 lalu, sudah 800 mahasiswa per angkatan. Sementara Fakultas Ekonomi Unpad, membuka 225 kursi nonreguler dan 300 kursi reguler setiap tahun.

Saat ini, komposisi mahasiswa baru nonreguler di Unpad yang memberikan sumbangan belasan hingga ratusan juta itu, sudah mencapai 40 persen. ”Sekarang di Unpad makin banyak mahasiswa bawa mobil, parkir mobil juga penuh. Dulu tak seperti ini,” kata Supriatna. Fida, mahasiswa Fakultas Hukum Unpad 2004, bercerita bahwa temannya seorang mahasiswa jalur nonreguler terkejut ketika disodori biaya SPP yang hanya Rp 1,5 juta per semester, sangat jauh dari sumbangan yang diberikan waktu pertama kali masuk. ”Dia kaget karena SPP-nya ‘murah’,” kata Fida.

Di ITB, kegiatan kemahasiswaan yang paling terkena dampaknya. Apalagi, beban mahasiswa bertambah ketika batas kelulusan minimal menjadi enam tahun, dari sebelumnya tujuh tahun. Bahkan, sempat ada kebijakan SPP naik dua kali lipat bila dalam waktu 4,5 tahun tidak lulus. Tahun lalu, KM ITB mencatat ada nya penurunan jumlah mahasiswa yang masuk unit kegiatan mahasiswa secara drastis, dibanding tahun sebelumnya.

Mahasiswa mungkin lebih fokus pada kegiatan akademik dibanding menjalani kegiatan organisasi. Perkembangan seperti ini menjadi keprihatinan para aktivis mahasiswa. Yusuf mengaku sedih bila membandingkan kondisi mahasiswa sekarang dengan kondisi mahasiswa ITB dulu, ketika SPP masih murah. ”Mungkin karena dulu banyak yang datang dari kalangan tidak mapan. Sehingga, ketika kuliah menjadi mahasiswa antikemapanan.

Sekarang, mahasiswanya keba nyakan datang dari kalangan mapan,” kata Yusuf sambil mengingat film-film dokumenter mengenai gerakan mahasiswa ITB tahun 1980-an, yang selalu diputar kala penerimaan mahasiswa baru. Ilham Arif, mahasiswa Geologi ITB angkatan 2005, mengatakan mahasiswa saat ini menjadi semakin kurang peduli dengan isu-isu di luar kampus.

Dia mengingat setahun lalu, ketika KM ITB mengadakan kuliah umum oleh Rizal Ramli, ekonom alumnus ITB, hanya dihadiri oleh 30 mahasiswa. ”Kalau dulu mahasiswa apatis, sekarang sudah autis,” kata Ilham. Benarkah kelas sosial yang semakin tinggi berkorelasi terbalik dengan tingkat kepedulian sosial mahasiswa? Ryan, mahasiswa jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unpad angkatan 2004, berbagi cerita mengenai pengalamannya selama empat bulan menjalani program pertukaran mahasiswa di Korea Selatan. ”Di Korea, biaya kuliah sangat mahal.

Tapi, mahasiswa di sana sering ikut demo. Kemarin, mereka ramai-ramai demo masalah buruh, mahasiswa yang ikut banyak sekali,” kata Ryan. Tapi, itu cerita dari sebuah negeri maju di seberang lautan sana, dengan tingkat kesejahteraan relatif merata.

Komentar
  1. agoes mengatakan:

    Ada seorang anak yang bercita-cita masuk ke ITB.
    Ketika SD, ia termasuk anak yang pandai.
    Setelah lulus SD ia berhasil masuk SMP Negeri impiannya dengan NEM yang tinggi.
    Setelah lulus SMP, ia tidak bisa melanjutkan ke SMA walaupun memperolah NEM yang tinggi pula.
    Kemampuan orangtua untuk menyekolahkan dua orang anak sakaligus adalah ganjalannya, mereka memilih untuk menyekolahkan kakaknya dulu ke IKIP(UPI).
    Saat itu anak tsb hanya berharap untuk bisa masuk ke sebuah tempat kursus.
    Tapi harapannya itu punah karena orang tuanya tidak mampu membiayainya walaupun hanya untuk masuk ke sebuah tempat kursus.
    Akhirnya anak tersebut berusaha untuk mencari pekerjaan dengan berbekal ijazah SMP.
    Beberapa kali membuat surat lamaran dan diantarkannya ke perusahaan yang sekiranya memerlukannya. Tapi tak satupun perusahaan yang menerimanya.
    Kemudian orang tua anak tsb menitipkan nya dan tinggal bersama saudaranya dengan harapan selain bisa membantu saudaranya ia pun bisa belajar banyak.
    Akhirnya setahun kemudian ia bisa meneruskan sekolah ke SMA Negeri yang terbilang favourit dengan modal NEM yang jauh melampaui passing grade sekolah tsb.
    Selain dari orang tuanya, anak tsb memperoleh biaya sekolah dari hasil memperbaiki alat-alat elektronik tetangganya yang rusak.
    Setelah lulus SMA ia sangat bersemangat untuk masuk ITB, tapi kemampuan ekonomi lah yang tidak bisa mengantarkan nya ke tempat impiannya itu.
    Untung saja ia mendapatkan beasiswa untuk masuk ke sebuah politeknik komputer walaupun hanya Diploma I, diambilah beasiswa itu.

    (Sebuah kehidupan yang sangat melelahkan)

    Orang tuanya berpesan, “janganlah kau masuk menjadi pegawai negeri,….. biarkanlah kakak-mu saja yang jadi pegawai negeri, karena dia adalah perempuan”

    Pesan itu tertanam sangat dalam di hati-nya.

    Pesan itu mengandung gambaran kehidupan, air mata dan penderitaan.

    Semoga Alloh SWT membuka-kan jalan kehidupan bagi anak tersebut, dan memberikan anugrah kebahagiaan, kesenangan dan limpahan rahmat kepada kedua orang tuanya(almarhum & almarhumah) atas segala jasa dan perjuangannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s