Rap, Musik yang tak Pernah Mati

Posted: 05UTC25 10,2011 in my music

Sejumlah anak muda dengan celana gombrang, kupluk, serta kacamata hitam besar yang bertengger di atas dahi mereka tampak berkerumun. Di tengah-tengah mereka, sebuah tape recorder merk Philip mengeluarkan bunyi dentuman bass berulang-ulang. Sesekali dari mulut mereka, terlontar kalimat-kalimat campuran bahasa Indonesia dan bahasa slanknya Inggris berurutan diselingi oleh dentuman speaker. Kadang tangan mereka tampak bergerak-gerak dengan aktifnya, persis gerakan orang negro dalam film-film Amerika.
Rupanya pemandangan di salah satu sudut kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, itu nyaris terjadi setiap Sabtu malam.

Sekelompok anak muda ini memang sedang keranjingan rap, musik bertutur cepat asal warga kulit hitam Amerika. “Yes man…, rap never die!” ujar mereka. “Enak sih buat goyang. Kalau house music ‘kan buat tripping,” ujar mereka lagi sambil menghujat musik yang mengilhami orang untuk mabuk pil ecstasy.

Di tengah gempuran musik rock, jazz, pop yang melanda anak-anak muda di kota-kota besar, musik rap ternyata masih disukai orang. Meski tidak seramai dulu, musik rap diyakini masih dilirik oleh para ABG alias pangsa pasar musik Indonesia. Dan ternyata aksi kelompok anak muda di Bulungan ini juga terjadi di Bandung, Surabaya, dan Medan.

Harus diakui, meski komunitasnya terbatas, musik rap, hip-hop, dan black music, tetap berdegup jantungnya. Di blantika musik Indonesia, segmen pasar ini sangat sempit. Toh cukup banyak juga orang yang nekat berkiprah di genre yang sepi peminat ini. Salah satunya adalah duo Ivan Saba dan Sai Zen, dua musisi rap asal Bandung.

Jika selama ini orang lebih mengenal Iwa K dan Denada sebagai rapper yang punya punya posisi cukup kuat di dunia musik Indonesia, maka nama duo anak muda ini di Bandung pun cukup berkibar. Mereka adalah personil grup R 42 yang ditinggal salah satu personilnya dan kemudian membentuk kelompok baru RED (kependekan dari Riau Empat Dua, nama jalan di kota Bandung, tempat mereka biasa berkumpul).

“Rap masih disukai anak muda. Di Bandung, jadwal manggung kami cukup padat,” kata Ivan. Bagi adik kandung Carlo Saba (vokalis Kahitna) ini, RED adalah transformasi dari R 42 yang sebenarnya sudah memiliki dasar musik rap dan black musik, seperti yang mereka bawakan di album baru mereka.

Dengan nama RED, album ini memang menjadi album yang pertama. Tapi ketika masih memakai nama lama, mereka sudah pernah menelurkan dua album, Kasih (1995) dan Dari Manusia untuk Manusia (1997). Ketika itu mereka masih berkolaborasi dengan Warner Black. Sampai akhirnya, dalam perjalanannya Warner Black memutuskan untuk keluar, lalu Sai dan Ivan berjalan dengan RED.

“Karena sekarang lagi demam hip-hop, maka rap yang kami tampilkan berbeda dengan rap di masa lalu,” katanya. Lirik yang mereka celotehkan pun berbeda dengan lirik grup rap lainnya. “Kami bosan dengan identifikasi rap sebagai kritik sosial. Makanya kami membuat lirik yang lebih serius tentang pujian kepada Tuhan dan humanitas manusia,”

Selain itu mereka juga mengusung warna musik yang berbeda. “Kalau selama ini orang melihat lirik dan cover kasetnya saja, pasti tahu itu rap, apalagi kalau mendengar musiknya. Tapi kami mencoba berbeda. Anda bisa salah kalau pertama dengar intro musiknya,” katanya lagi. RED juga suka bermain-main dengan berbagai warna perkusi.
“Kehadiran RED setidaknya mampu menampilkan trend warna musik di Indonesia. Apalagi di luar sana, musik jenis ini tengah disukai,” ujar pengamat musik Remmy Soetanyah.

Ihwal RED yang mengklaim sebagai musisi rap yang beda, Iwa K punya pandangan lain. Rapper yang dianggap mempopulerkan musik rap di Indonesia ini menilai bahwa apa pun ‘campuran’-nya, selama orang musikus menyanyikan musiknya dengan gaya bertutur, maka itu namanya rap. “Almarhum Benyamin malah bisa dibilang pertama kali mempopulerkan rap dibandingkan masyarakat negro di Amerika,” kata Iwa.

Di negara asalnya sendiri — Amerika Serikat — menurut Iwa, musik rap tak selalu dibuat dengan musik hip-hop. Di Pantai Timur AS, kata Iwa, rap yang berkembang adalah rap yang masih terbilang ‘sopan’, tetapi tetap terlihat adanya ruang untuk berekspresi. Memang faktor kebebasan berekspresi itulah yang paling disukai Iwa dari musik rap.

Oleh karena lahir sebagai bentuk ekspresi, menurut Iwa, jenis musik rap akan terus hidup. “Dari tahun 1977 sudah banyak orang bilang, rap itu musik temporer. Pada kenyataannya rap tetap ada sampai sekarang. Kalau diamati rap tahun 1980-an juga agak berbeda dengan rap 1990-an. Itu tandanya rap juga bisa beradaptasi dengan zamannya, tak beda dengan jenis musik lainnya,” tambah Iwa.

Dari jawabannya itu, Iwa memang tampaknya berupaya betul untuk mendalami jalur musik yang ditekuninya. Musik rap memang tidak berdiam diri. Dari bentuknya yang sederhana, pada rap pun kini muncul sejumlah ‘aliran’ tersendiri, misalnya ‘gangsta rap’. Iwa ngotot membuat setiap lagu berbeda gaya rap-nya. “Membuat lirik itu kesempatan buat menuangkan unek-unek, makanya tidak boleh asal-asalan,” jelas pelahap nasi uduk yang fanatik terhadap karya penulis Putu Wijaya, Romo Mangun, dan Emha Ainun Najib itu.

Iwa yang juga gila basket dan sepak bola ini berhasil mengubah mitos bahwa musik rap tidak laku dijual. Ia layak diakui sebagai pencipta ‘wabah’ musik rap di Tanah Air, berikut gaya busana jalanan yang menjadi ciri artis hip-hop.

Sebenarnya munculnya demam musik rap di Tanah Air sejak awal 1990-an ini, tak lepas dari konsistennya tiga pemuda para produser Pesta Rap dan Iwa K — Tori Sudarsono, Yudis Dwikorana, dan ‘Nti — yang semula membentuk Guest Band bersama dua musisi lain. Sempat melepas album mini Tak’kan, mereka berhenti pentas tahun 1991.

Maka mulailah petualangan trio itu mengawinkan pop Indonesia dengan musik rythm & blues, serta soul yang dikenal sebagai black music di bawah bendera Guest Music Production. Albumilabum perdana Melly Manuhuttu dan Sandy Suzuki (seorang penyanyi Jepang) mereka garap juga. Musik yang diawali kiprah mendiang Marvin Gaye dan Stevie Wonder itu makin digemari di sini lewat ciptaan Babyface, trio En Vogue, TLC, dan belakangan ini Fugees. //

Komentar
  1. dika mengatakan:

    minta nama klub rap di indo dong, mau masuk nih haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s