Sepak Takraw, Permainan Rakyat yang tak Populer

Posted: 05UTC29 10,2011 in jadul
Tubuh anak-anak desa di sebuah kampung nelayan di Riau, terlihat gesit dan lincah. Dengan mengenakan sarung, kelenturan kaki dan tubuh mungilnya, bola yang terbuat dari rajutan rotan disepak dan dipantulkan mereka. Tawa riang dan sesekali teriakan terdengar dari puluhan penonton yang memadati lapangan seukuran lapangan bulutangkis ini. Anak-anak ini memainkan sepaktakraw, olahraga yang mereka kenal dengan nama Bamain Rago.
***
Cerita di atas dituturkan oleh Asmizar Adam, Sekretaris Jendral PB Persetasi. Menurut Pak As (panggilan akrab Asmizar,red), di beberapa wilayah Sumatera, olahraga ini sudah lama dikenal sejak ratusan tahun lalu. ”Olahraga ini menjadi olahraga sehari-hari para nelayan maupun anak-anaknya seusai melaut. Kadang supaya menarik, diadakan perlombaan antar desa,” ujarnya.
Menurut perkiraan yang didasarkan pada sejarah, budaya bangsa dan keadaan alam, sepaktakraw atau sepakraga dimainkan pada era Kerajaan Sriwijaya, Majapahit dan Gowa. Di Bugis, olahraga ini disebut marraga atau maddaga. Sejak dulu, pemuda-pemuda bangsawan memainkan olahraga ini sebelum dan sesudah mereka bertempur atau berburu. Waktu itu, olahraga ini dimainkan oleh 6-7 orang berpakaian khusus dengan warna warni sarung dan kain tutup kepala.
Bola dimainkan oleh seorang pemain dengan menggunakan tengkuk dan kepala dengan diiringi gendang. Sebagai puncaknya, semua pemain membuat bentuk seperti standen dengan seorang pemain sambil memainkan bola naik ke paha dan bahu temannya sampai ke puncak. Di Sumatera Utara, olahraga ini berkembang di desa-desa Tapanuli bagian selatan. Alas kaki dibuat dari kulit kambing kering yang diikatkan pada pergelangan kaki. Digunakan pula kelopak daun (upih) pinang. Di Riau, terutama di wilayah kepulauannya, permainan ini digemari dengan cara bermain yang tak jauh berbeda.
***
Meski olahraga ini adalah permainan rakyat yang dimainkan sejak ratusan tahun yang lalu, sepaktakraw bukanlah olahraga yang bisa terbilang populer. Perkembangan olahraga ini malah sangat tertinggal dibandingkan Malaysia dan Thailand. ”Saya sendiri kurang begitu mengerti kenapa kurang populer, mungkin karena tingkat kesulitannya memang cukup tinggi dibandingkan sepakbola maupun voli yang sama-sama menggunakan bola,” kata Pak As.
Untuk bermain sepaktakraw yang baik, seseorang dituntut mempunyai kemampuan dasar bermain sepaktakraw. Kemampuan dimaksud adalah menyepak dengan menggunakan bagian-bagian kaki, memainkan bola dengan kepala, dengan dada, paha, bahu, dan dengan telapak kaki. ”Mirip sepakbola dan voli, tapi sepaktakraw memadukan keduanya,” katanya. Bolanya sendiri berbeda dengan voli atau sepakbola. Biasanya bola yang digunakan adalah bola yang dibuat dari rotan. Belakangan, dibuat bola yang sama terbuat dari plastik
***
Dari sekian banyak daerah di Indonesia, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat dan Sumatera Utara banyak menyumbangkan atlet-atletnya ke tingkat nasional. ”Lima tahun terakhir ini di sejumlah daerah di Jawa Tengah, olahraga ini mulai banyak dimainkan. Di daerah Purwokerto, malah sudah diadakan kejuaraan-kejuaraan lokal,” kata Pak As. Hingga saat ini, ketiga daerah ini, masih mendominasi kejurnas sepaktakraw. Di Kejurnas 2002 lalu yang diadakan di Jakarta, Sulsel menjuarai sepak takraw baik dalam kategori tim maupun regu. Sementara salah satu kategori lain, yakni circle game diluar dugaan diraih leh atlet-atlet Jateng.
Permainan circle game ini menurut Pak As persis dengan sepakraga lingkaran. Permainan ini dimainkan oleh tim yang terdiri lima orang satu orang sebagai cadangan dengan waktu 3×10 menit. Yang paling banyak membuat poin dalam jangka waktu tersebut keluar sebagai pemenang.
***
Sepaktakraw adalah suatu permainan yang dilakukan di atas lapangan empat persegi panjang, rata, baik terbuka maupun tertutup, serta bebas dari semua rintangan. Lapangan dibatasi oleh net. Permainan ini menggunakan seluruh anggota tubuh, kecuali tangan. Bola dimainkan dengan mengembalikannya ke lapangan lawan melewati net. Permainan ini dilakukan oleh dua regu, masing-masing terdiri dari tiga orang pemain. Tujuan dari setiap pemain adalah mengembalikan bola ke lapangan lawan. Perhitungan angka akan diberikan kepada regu yang dapat mematikan bola di daerah lawan. Angka kemenangan untuk satu set sama dengan voli yaitu 15 tanpa deuce. Dalam pertukaran tempat diberikan waktu istirahat dua menit dan juga dua menit bila terjadi tie break. Namun, jika kedua regu memenangkan satu set, maka angka kemenangan ditentukan oleh hasil tie break.
Selain itu ada perhitungan angka yang lain. Sepakan atau passing dari seorang pemain kepada pemain lainnya diberi angka. Misalnya tingkat kesukaran I dapat nilai melalui passing dengan kepala, bahu, kaki bagian depan, lutut atau paha. Tingkat kesukaran II mendapat nilai tiga, misalnya sepakan dengan kaki silang sambil melompat dan sepakan tumit/telapak kaki melalui belakang kepala. Jika kaki menginjak garis atau menyepak di luar area maka nilai tidak akan diberikan kepada pemain tersebut.
Dalam sepaktakraw, hukuman atau penalti juga diberikan kepada pemain. Misalnya pemain secara sengaja menyentuh bola dengan tangan atau lengan di bawah siku. Wasit akan memberikan kartu kuning. Jika hal itu dilakukannya lagi, maka wasit akan memberikan kartu merah. Hukuman dengan kartu merah adalah akhir perlombaan bagi tim yang bersangkutan. Nilai yang didapat sebelum menerima kartu merah adalah nilai total bagi tim tersebut.
***
Untuk menyeragamkan permainan ini di Indonesia, tahun 1971 pemerintah membentuk wadah yang memayungi semua kelompok-kelompok sepak takraw yang menyebar di tanah air. Dengan adanya Persatuan Sepaktakraw Seluruh Indonesia (Perserasi), permainan yang awalnya berasal dari permainan rakyat ini menjadi olahraga yang dimainkan secara teratur.
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kemudian memasukkan cabang olahraga ini sebagai salah satu cabang yang dipertandingkan dalam PON tahun 1981. Meski sudah sebagai salah satu cabang yang dipertandingkan di PON, prestasi sepaktakraw kurang begitu dikenal. Di SEA Games, Indonesia jelas ketinggalan jauh dengan Malaysia dan Thailand. Menurut Pak As, sebenarnya peluang Indonesia untuk mencetak prestasi olahraga ini tidaklah terlalu sulit. ”Yang penting pembinaan pemain serta kemauan keras dari pemerintah untuk menaikan prestasi sepaktakraw di Indonesia,” katanya.
Pak As mencontohkan bagaimana Malaysia dan Thailand sudah membatasi postur tubuh pemain tidak kurang dari 170 cm. ”Dan dengan tubuh setinggi itu juga harus didukung dengan kelenturan fisik,” katanya. Menurut Pak As, pemain sepaktakraw harus bisa selentur pesenam. ”Dan kakinya harus sekuat taekwondo dan pemain sepakbola,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s