Kampungnya Para Naga

Posted: 05UTC18 10,2011 in lalampah
Matahari masih malu-malu untuk muncul. Sinarnya menyelinap di antara dedaunan bambu membuat berkilau embun pagi. Dari kejauhan empat warga Kampung Naga tampak berjalan beriringan menapaki ratusan anak tangga yang sangat menanjak. Ini memang satu-satunya jalan yang menghubungkan ‘dunia luar’ dengan kampung mereka. Di keheningan kampung itu, suara nafas terengah-engah terdengar jelas ketika mereka berpapasan dengan Republika. Tiga orang di antaranya membungkus tubuhnya dengan sarung. Cuma kepalanya yang tampak mengenakan peci hitam. Seorang lagi mengenakan ikat khas Kampung Naga — yang mirip tanduk melengkung ke depan — di kepalanya. Dengan sopan mereka menyapa saya. Bahasanya halus ketika mereka pamit, ”Mangga, Jang.” Kata Jang atau singkatan dari Ujang merupakan panggilan untuk anak muda di tatar Sunda.
***
Keramahan warga Kampung Naga memang sudah lama dikenal oleh banyak orang, termasuk turis mancanegara. Kampung atau dusun yang letaknya 19 km dari Garut, ke arah selatan, itu memang sudah lama menjadi daya tarik wisatawan. Keramahan penduduknya dan keelokan perkampungannya membuat setiap ada upacara adat dikunjungi lebih dari seratus orang per hari. ”Saya sudah sepuluh tahun bawa turis asing kemari,” tutur seorang ibu pemandu wisata dari Panorama Tours & Travel. ”Ini merupakan salah satu paket wisata yang menarik selain ke Bandung, Yogya dan Bali,” tambahnya. Pagi itu ia memboyong 40 turis asal Prancis.
Wisatawan domestik pun tak kurang banyaknya. Ada yang sekadar melihat-keelokannya saja. Ada juga yang sengaja ingin berziarah ke makam para leluhur warga Kampung Naga. Sobri, adalah salah satu contohnya. Pedagang kain asal Lembang, Bandung itu sengaja bermalam untuk berziarah. Mereka baru dibolehkan berziarah bila mengikuti aturan, seperti puasa setengah hari, mandi di sungai, mengenakan pakaian adat dan membersihkan makam. ”Beberapa pejabat ada yang juga sengaja berziarah,” Suharyo, kepala dusun Kampung Naga. Maraknya kunjungan wisatawan ke Kampung Naga menjadikan kawasan ini satu-satunya tujuan wisata budaya di Tasikmalaya. Apalagi Dinas Pariwisata Daerah Tasikmalaya mengupayakan daerah ini sebagai cagar budaya.
***
Salah satu keelokan yang membuat Kampung Naga dikunjungi banyak orang adalah indahnya arsitektur rumah dan tata perkampungannya. Di lahan seluas 1,5 hektar itu ada 110 bangunan — termasuk balai pertemuan, rumah dan masjid — yang bentuknya seragam. Seluruh bangunan di sana beratap anyaman daun kelapa yang dilapisi dengan ijuk. Semua bangunan itu membujur ke utara-selatan dan menghadap timur atau barat. Ukuran dan tata ruang pun sama. Luas keseluruhannya 4 x 6 m2, dengan 2 X 4 m2 sebagai ruang tamu, 4 x 2 m2 dapur, sisanya kamar. Keteraturan inilah yang membuat kampung yang masuk dalam wilayah Desa Neglasari, Kec. Salawu, Tasikmalaya menarik untuk dikunjungi.
Soal arah bangunan tak ada alasan pasti mengapa harus begitu. ”Ini sudah dari sononya,” ujar Cahyana. ”Mungkin karena tanahnya yang terbatas sehingga kalau arah bangunan itu bebas maka akan semakin sempit kampung ini,” ujar lelaki yang belum menikah itu. Di masyarakat Kampung Naga memang ada keyakinan kuat untuk memegang adat. Selain itu hal-hal seperti itu dinamakan heum — artinya orang tak perlu tahu apa yang ia tak tahu.
Arsitektur rumah-rumah panggung — yang berlantai kayu dan berdinding bambu — itu dari kejauhan tampak menawan. Sepintas mirip rumah-mirip rumah Minangkabau — cuma tak ada lengkungan di atapnya — yang ditata berjajar di sebuah lembah hijau seluas 1,5 ha. Hamparan sawah, bukit yang mengitari perkampungan dan Sungai Ciwulan di sisi lainnya membuat orang betah berlama-lama di kampung ini.
”Bila hari Idul fitri di sini sangat ramai. Malah berminggu-mingu. Kalau hari-hari biasa yang berkunjung ke sini cuma 1-10 orang, Kang,” Cahyana (26) penduduk Kampung Naga yang sehari-hari membuat kerajinan dari bambu.
***
Menurut Kuncen-nya, Ateng, wajah Kampung Naga sekarang tak jauh berbeda dengan Kampung Naga dulu sebelum habis dibakar oleh pemberontak DI/TII di tahun 1956. Nyaris tak ada pertambahan bangunan atau perubahan. ”Kita selalu memegang erat adat kita. Paling tambah 1-2 rumah. Sekarang lokasi kita sudah penuh. Ada 320 warga yang tinggal di sini,” tambah Ateng. ”Jadi, kalau ada yang nikah, terpaksa membikin rumah di luar daerah,” sambung Cahyana, yang masih bersaudara dengan Kuncen.
Terbatasnya lahan pemukiman dan sawah itu membuat sebagian warga setempat bekerja dan tinggal di luar kampungnya. Yang paling banyak adalah ‘hijrah’ ke Tasikmalaya atau desa-desa sekitarnya. Mereka umumnya menjadi pedagang atau perajin bambu. Ada yang sampai Bandung, atau sekolah di Jepang. Mereka yang keluar dari kampung itu pun dengan perasaan legawa alias ikhlas. Ini karena mereka memegang prinsip Bandung Parakan Muncang, Mandala Cijulang, Anak Sadesa Satapa, Bae tunggal sewewu putu, Kulit ka sasaban ruyung, Keureut piceun bisi nyeuri. Arti bebasnya, meskipun serumpun atau seketurunan warga Kampung Naga tak boleh saling mengalahkan, semua sama, kalau ada hati yang benci dihilangkan.
Namun, biasanya warga yang masih memegang adat selalu mudik setiap kali ada upacara adat yang terjadi enam kali setahun. ”Kalau mereka tak datang, mereka tak lagi diakui sebagai warga Kampung Naga,” jelas Ateng. Itu yang membuat semarak warga Kampung Naga di saat ada upacara adat – salah satunya setiap kali Idul Fitri dan Idul Adha. Di hari itu kepolosan warga Kampung Naga bercampur dengan budaya modern yang diboyong anak-anak muda Kampung Naga dari kota. Blue jeans, lipstik dan bedak tebal, wangi parfum, bahkan juga dentam lagu-lagu ‘modern’ – seperti alunan grup musik Lingua, Halmahera di radio penduduk adalah contohnya.
***
Tak seperti warga Baduy, warga Kampung Naga relatif adaptif menerima kemoderenan, meski tanpa harus meninggalkan adat. Salah satu contohnya adalah peralatan elektronik seperti teve atau radio bukanlah barang ‘haram’, walau mereka ‘mengharamkan’ listrik. ”Di sini ada 20 keluarga yang memiliki teve hitam putih dan memasang antena di bukit yang tinggi,” jelas Cahyana. Listrik, menurut Cahyana, dikuatirkan bisa menimbulkan kebakaran karena struktur rumah mereka yang dari bahan mudah terbakar.
Saban hari, warga Kampung Naga yang keluar kompleksnya juga berpakaian ala kota, celana panjang dan kemeja bagi laki-laki atau rok bagi wanita muda. Di kampungnya sendiri yang laki-laki sering mengenakan sarung, kemeja dan ikat kepala. Mereka juga tak menabukan sekolah. ”Dua warga kami sekarang kuliah di Bandung. Dulu, malah ada yang ke Jepang. Cuma kami tak punya biaya. Makanya banyak yang tak lulus SD,” ujar Ateng yang cuma sekolah hingga kelas 3 SD.
Adat bagi warga Kampung Naga memang sama kuatnya dengan aturan pemerintah dan agama. Karena itu, mereka yakin memilih Golkar sama pentingnya dengan ketidakmauan mereka menerima sumbangan dari pemerintah. ”Kami tak mau dana IDT (Inpres Dana Tertinggal) karena ketentuan dari para leluhur sudah demikian. Kami, hanya boleh menerima sumbangan perorangan,” tegas Ateng. Mereka juga tak mau rumahnya ditembok. ”Beginilah hidup kami,” ujarnya kalem.
Sejarah Kampung Naga nyaris punah ketika kampung itu dibakar DIT/TII pada 1956. Salah satu bangunan yang dibakar adalah Bumi Ageung. Padahal di sinilah tersimpan catatan sejarah dan pusaka Kampung Naga. Maka tata kehidupan adat mereka saat ini berpijak pada pitutur tetua adat dan orang-orang tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s