Dongeng Nusakambangan

Posted: 05UTC12 10,2011 in lalampah
Di tengah ruangan terbuka yang cukup luas terdapat surau kecil. Beberapa orang berkerumun di pelataran surau tersebut. ”Assalamualaikum,” sapa seorang laki-laki berusia sekitar 35-an sambil menyalami saya. Ia lalu tersenyum dan berucap, ”Alhamdullilah ada juga yang menengok kami.” Pria tadi adalah penghuni salah satu Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Ia berada di ruang terbuka setelah keluar dari surau yang di kelilingi deretan sel-sel penjara. ”Bagaimana keadaan di luar?” Pria itu bertanya dengan ramah. Dari ruang terbuka tadi, melongok ke arah selatan akan tampak menara cukup tinggi yang digunakan untuk mengontrol situasi LP. Selain sel standar, terdapat juga sel isolasi atau sel khusus yang diperuntukkan bagi narapidana yang berulah atau mencoba melarikan diri.
Sebuah bangunan yang lebih mirip aula berdiri memanjang cukup lebar. Bangunan itu bisa berfungsi sebagai dapur atau barak umum, tempat di mana napi mengambil makanan atau menerima pengarahan dari petugas LP. Setiap hari para napi melakukan tugas rutinya, yakni bekerja. Mereka bekerja membuat karya-karya kerajinan tangan seperti membuat batu-batu asahan untuk kemudian dijual ke luar. Para napi Nusakambangan memang dibekali dengan pelajaran keterampilan dan pertukangan. Kepada mereka juga diberikan bahan bacaan berupa buku yang cukup banyak dan bervariasi. Tugas lain adalah membersihkan penjara ini. Oleh karena itu kondisi dan situasi LP cukup rapi dan terawat. Padahal rata-rata bangunannya sudah tua — dibangun antara 1908-1912. ”Di sini setiap LP rutin dibersihkan secara kerja bakti oleh para napi, sehingga menciptakan kondisi yang nyaman dan sehat,” kata salah seorang penjaga LP. Menurut seorang napi, rasa setia kawan antarpara napi di Nusakambangan sangat tinggi. Juga mereka rata-rata memiliki tingkat kepatuhan beribadah cukup besar. ”Mungkin karena kami di sini dihukum berat dan dalam jangka waktu yang lama, mangkanya kami semua menyadari pentingnya kehidupan yang benar di sini,” katanya.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bisa melongok penjara di Pulau Nusakambangan. Mendengar nama Nusakambangan saja bak mendengar sebuah dongeng yang menceritakan tentang keseraman dan keangkeran. Bila menoleh ke belakang masa, sebenarnya sejak zaman Belanda Pulau Nusakambangan memang secara sengaja diprioritaskan untuk menjadi tempat pembuangan penjahat kelas kakap. Belanda mengirim pembunuh, koruptor, perampok, dan penjahat kambuhan yang dihukum berat karena berulangkali melakukan kejahatan atau terpidana mati yang menunggu saat eksekusi dibuang ke pulau ini. Pulau ini dipilih sebagai tempat buangan lantaran letaknya yang cukup terisolasi. Di sebelah utara dibatasi oleh selat Sagara Anakan yang cukup deras arusnya dan penuh rawa dengan hutan bakau yang rapat. Di sebelah selatan terbentang Samudera Indonesia yang ombaknya terkenal tinggi dan ganas.
Meskipun keadaannya terisolasi, tetap saja banyak narapidana dari pulau ini yang mencoba melarikan diri. Di antara mereka ada yang berhasil, namun tidak sedikit yang tertangkap kembali atau malah tewas tenggelam. Pada zaman perang kemerdekaan, Pulau Nusakambangan dijadikan tempat pembuangan para pejuang RI yang tertangkap Belanda. Pada pasca peristiwa pemberontakan G30S/PKI, Nusakambangan digunakan untuk mengisolasi belasan ribu tahanan PKI. Sembilan bangunan penjara yang berkapasitas 10 ribu orang itu sempat dipenuhi tahanan PKI yang dikirim dari berbagai daerah. Salah satu penjara yang menjadi legenda di Nusakambangan adalah LP Permisan. Penjara yang amat terkenal ini terletak di barat laut Nusakambangan dan yang pertama dibangun Belanda yakni pada 1908. Sebelum mencoba kabur dan merampas senjata seorang petugas sipir, Jhony Indo dipenjarakan di LP Permisan ini. Di belakang bangunan penjara, terdapat sisa-sisa bangunan yang pernah digunakan untuk mengisolasikan penderita kusta. Sekitar 300 sampai 400 meter di belakangnya terdapat pantai
Permisan yang indah dengan pasir putihnya menghampar bersih. Sekitar 500 meter dari garis pantai pasir putih Permisan bisa disaksikan dua gugusan pulau kecil yang disebut Pulau Syahrir — di pulau inilah Perdana Menteri Sutan Syahrir pernah terjebak pasang laut beberapa jam. Oleh karena itu, untuk mengenang peristiwa tadi, gugusan pulau batu itu dinamai Pulau Syahrir. Selain Permisan, LP Batu juga terkenal karena salah satu napinya yang bernama Sugeng adalah terpidana mati kasus pembunuhan keluarga Letkol Marinir Purwanto di Surabaya. Selain itu penjara ini juga pernah digunakan untuk menyekap tahanan kasus penyeludupan hasil ‘operasi 902’ yang salah satu penjahatnya yang ditangkap adalah Roby Cahyadi — kini pengusaha sukses.
Menyusuri sepanjang jalan menuju pantai Permisan, terdapat LP Besi. Berhadapan dengan bangunan tersebut, terdapat perbukitan yang dinamakan daerah Candi. Di sni terdapat bangunan peristirahatan peninggalan Belanda, namun kondisinya sudah rusak sehingga tidak bisa digunakan lagi. Dari bangunan itu bisa disaksikan pemandangan indah hutan bakau yang dari kejauhan tampak meliuk-liuk bagai ular. Sayang hutan bakau di kawasan ini sudah banyak yang rusak atau punah, sehingga kini tinggal tersisa 12.500 hektar. Kerusakan tersebut terjadi karena banyaknya penebangan hutan dan dijadikan area persawahan. Bila malam hari, dari candi ini bisa menyaksikan kelap-kelip lampu kilang minyak Pertamina dan lampu kota Cilacap. Selain penjara Limusbuntu, Besi, Batu, Kembangkuning dan Permisan di bagian barat, di bagian timur terdapat penjara Karangtengah, Glinger, Nirbaya dan Karanganyar. Namun hanya empat LP yang masih dmanfaatkan, sisanya sudah tak digunakan lagi karena kondisi bangunannya yang rusak berat.
Belum lama ini dua napi kakap kabur dari sebuah LP. Mereka adalah Sofyan Hadi (30), gembong perompak di Sumatera (sampai sekarang belum tertangkap), dan Lana Antonio (warga asing) yang sudah tertangkap kembali. Kaburnya dua napi tersebut menjadikan penjagaan ke pulau ini semakin diperketat. Terlepas dari itu semua, yang pasti Nusakambangan tidaklah seseram apa yang kita bayangkan. Bahkan pada beberapa tempat terdapat pemandangan alam yang nyaman dan indah. Dan yang pasti, cuma satu hal yang patut diwaspadai di pulau ini yaitu udaranya yang panas.
Luas Pulau Nusakambangan mencapai 20.000 hektar dengan panjang 36 kilometer dan lebar antara enam sampai 11 kilometer. Untuk datang ke pulau tersebut harus menempuh perjalanan laut sekitar 15 menit dengan kapal dari Pelabuhan Wijayapura di sebelah selatan kota Cilacap. Citra Nusakambangan yang seram kini mulai diubah menuju predikat baru sebagai pulau wisata. Meski sudah dinyatakan terbuka untuk wisatawan, tetapi untuk masuk ke pulau yang memiliki pantai indah dan sejumlah gua alam itu pengunjung masih harus memberitahu aparat setempat. Di pulau penjara itu terdapat sembilan lokasi lembaga pemasyarakatan (LP) dengan kapasitas 500 narapidana. Namun sekarang hanya empat penjara yang masih digunakan dengan jumlah 310 napi sebagai penghuninya. Keempat LP tersebut yang masih diaktifkan itu adalah LP Permisan, LP Kembang Kuning, LP Batu, dan LP Besi.
Bupati DT II Cilacap, Moh. Supardi yang ditemui Republika mengatakan bahwa para wisatawan hanya boleh melihat penjara dari luar saja. Belum diperkenankan mengunjunginya atau memasukinya. ”Riskan sekali ‘kan,” ujarnya. Ia menolak menyamakan wisata Pulau Nusakambangan dengan pulau (penjara) Alcatrazz yang menjadi obyek wisata tersohor di New York, Amerika Serikat. Menurut bupati, ada sejumlah investor yang sudah menyatakan siap membangun atau menanamkan modalnya untuk mengembangkan Nusakambangan. ”Sesuai kesepakatan, ada beberapa investor yang berniat menanamkan modalnya di Nusakambangan, namun memang tidak semudah itu. Kami harus membicarakannya terlebih dahulu dengan Depkeh,” kata Supardi.
Sampai saat ini, terlihat bahwa infrastruktur Nusakambangan belum lengkap dan memadai untuk menunjang pengembangan pariwisata. Selain sarana fisik yang sangat minim, misalnya jalan masuk yang belum beraspal dan penerangan masih menggunakan tenaga diesel, sarana transportasi pun masih sangat sedikit. Alam Pulau Nusakambangan nampak masih asli. Hutannya menghampar dan lebat dengan dihiasi perbukitan dan tebing-tebing terjal serta berbagai macam jenis tumbuhan perdu hingga tanaman keras. Salah tanaman yang konon hanya ada di Nusakambangan adalah pohon plalar. Butuh waktu 15 menit untuk mencapai Pulau Nusakambangan dari Pelabuhan Cilacap. Sepanjang perjalanan dengan fery atau perahu motor dari Pelabuhan Wijayapura dan Sodong Nusakambangan terlihat panorama laut dan alam yang cukup mempersona. Di Pulau Nusakambangan terdapat gua-gua yang menebar di bukit-bukit. Salah satunya yang terkenal adalah Gua Ratu. Gua ini memiliki panjang kurang lebih empat kilometer.
Selain itu terdapat pantai-pantai yang terletak di belahan timur pulau, yang menyimpan banyak misteri alam. Pantai itu antara lain Pantai Karangbandung dengan pulau mungil yang dikenal dengan sebuat Pulau Majeti dan Pantai Karangbolong yang tampak dari daratan Cilacap (Pantai Telukpenyu) merupakan pantai karang yang berlubang. Sebagai pulau yang pernah digunakan untuk pulau pertahanan, maka di Nusakambangan juga terdapat peninggalan sejarah berupa benteng pertahanan Belanda. Sedangkan kawasan barat Nusakambangan merupakan daerah cagar alam dengan hutan pohon plalar dan pantai Pasir Gigit di Solok Ranca Babakan, merupakan daya tarik tersendiri karena memang suasananya jarang bisa ditemui di tempat lain. Selain karena spesifikasi pasir pantai yang berwarna putih, juga pasir tersebut terasa panas menggigit saat kaki menginjak permukaannya. ”Bagaimana keadaan di luar?” Kalimat yang diucapkan seorang napi tersebut kembali terngiang manakala senja mulai menganga di ufuk barat Nusakambangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s