Cerita Sedih yang tak Lucu

Posted: 05UTC31 10,2011 in foolitik

Muktamar Partai Elang Ngamuk yang berlangsung di sebuah hotel berbintang lima memang cukup meriah. Markaban, Bahdampal, dan Juminta adalah orang yang paling sibuk dalam muktamar tersebut. Untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi, mereka bergabung di kamar Suite mewah di lantai 75, lantai tertinggi di hotel itu. Setelah mengikuti muktamar yang melelahkan dari pagi sampai malam yang berlangsung di lantai pertama, mereka bertiga memutuskan untuk istirahat di kamar. Namun, nasib mereka ternyata apes.

Semua lift di hotel itu penuh karena banyak sekali orang yang menggunakannya. Mereka bertiga sudah cukup lelah untuk menunggu lalu sepakat naik menggunakan tangga darurat menuju kamar. Sambil berjalan menuju pintu tangga darurat, Markaban punya usul menarik. ”Jum, Bah, supaya tidak bosan naik tangga sebegitu banyak, bagaimana kalau mulai lantai 1 sampai 25 saya akan menyanyikan sebuah lagu, lalu Juminta akan menceritakan cerita yang lucu-lucu mulai lantai 26 sampai 50, dan akhirnya Bahdampal, menceritakan mengenai cerita sedih mulai lantai 51 sampai 75,” ujar Markaban. Lalu mereka setuju. ”Saya setuju dengan pendapat bung Markaban,” kata Juminta. Maka, Markaban pun menyanyi dengan suaranya yang serak-serak garing.

Tak terasa, hampir 20 lagu mulai dari Dewa 19, Iwan Fals, Kla Project, Slank, Rhoma Irama, Darso sampai lagu sinden Cicih Cangkurileung dinyanyikan Markaban. Kemudian tepat di lantai 25, giliran Juminta melucu. Semua anekdot dari humoritik, sampai cerita Kabayan, Abu Nawas diceritakan Juminta. Tak terasa, lantai 50 hampir selesai… akhirnya sampai ke lantai 51. Sekarang giliran Bahdampal menceritakan cerita sedih. Dengan muka dibuat sesedih dan seletih mungkin, mulailah Bahdampal bercerita. ”Sebelumnya saya minta maaf kepada bung Markaban dan bung Juminta, kalau setelah mendengar cerita sedih ini, kalian akan pingsan. Baiklah, saya akan mulai dengan cerita sedih yang pertama… eu…eu…ceritanya adalah…saya lupa membawa kunci kamar kita yang tertinggal di meja tempat kita tadi muktamar.” Markaban dan Juminta, ”Haahhhh?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s