Amplop

Posted: 05UTC48 10,2011 in caring (catatan garing)

Menjelang hari raya, anggota legislatif biasanya rajin berkunjung ke pengusaha-pengusaha untuk mencari amplop tambahan. Kali ini, komisi yang dipimpin Markaban sepakat untuk mendatangi seorang pengusaha ternak yang kebetulan warga keturunan. Pertama kali yang datang ke peternakan tersebut adalah Juminta, rekan Markaban. ”Maaf Pak, saya dari komisi DPR yang mengurusi peternakan, ingin melihat bagaimana Anda mengurus hewan-hewan Anda. Ternaknya dikasih makan apa?”, tanya Juminta.

Si pengusaha yang merasa tersanjung dikunjungi anggota DPR kemudian menjelaskan soal makanan yang dimakan ternaknya. ”Mereka saya kasih makan daun – daunan dan rumput”, jawab si pengusaha ternak sambil membawa tamunya berkeliling. ”Wah, Bapak salah memberi makan mereka. Bagaimana kalau makanan yang Bapak berikan mengandung pestisida dimakan oleh ternak Bapak dan ternak Bapak disembelih untuk dimakan? Ini peternakan besar, pasti orang-orang yang memakannya akan keracunan. Saya akan adukan ini ke komisi dan Departemen Peternakan,” ujar Juminta. Si pengusaha itu ketakutan. ”Ya sudah Pak, nanti kita perbaiki. Ini parcel buat hari raya, tolong jangan dilaporkan,” ujarnya. Juminta pun tertawa sambil membawa amplop berisi uang jutaan rupiah.

Dua hari kemudian, giliran Bahdampal, juga rekan Markaban menemui pengusaha itu. ”Maaf Pak, ternaknya dikasih makan apa?” tanya Bahdampal tanpa basa-basi. Si pengusaha itu kemudian menjawab, ”Oh, mereka saya kasih makan sayur -sayuran seperti yang ada dalam salad.” Raut muka Bahdampal terkejut. ”Wah, Bapak terlalu boros. Bagaimana kalau harga sayuran naik dan Bapak tidak mampu untuk membelikan ternak Bapak makanan? Padahal pemerintah sedang mengutamakan makanan untuk rakyat. Wah saya akan laporkan ini kepada Departemen Pertanian,” ancam Bahdampal. Si pengusaha itu langsung lemas, tanpa banyak bicara, ia lalu memberikan amplop yang tentunya berisi jutaan rupiah.

Dua hari kemudian, giliran Markaban datang. ”Maaf Pak, ternaknya dikasih makan apa?” tanya si pejabat. Si pengusaha dengan muka masam langsung menjawab. ”Oh, begini Pak. Sebenarnya saya tidak tahu apa yang mereka makan. Saya cukup memberi mereka uang jajan Rp 15.000,- per minggu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s