Sehari di Kepulauan Krakatau

Posted: 05UTC15 10,2011 in lalampah

Udara panas bulan Agustus memanggang tubuh. Apa lagi ketika kaki mengijakkan pasir pantai Pulau Rakata salah satu pulau di Kepulauan Krakatau. Pasirnya hitam oleh terik matahari dan rendaman air laut secara bergantian.

Sejauh mata memandang, yang tampak adalah tanah gersang, serta laut Selat Sunda yang merupakan lalu lintas utama antara Pulau Jawa dan Sumatera. Beberapa batang pohon tumbang terombang-ambing di bibir pantai dimainkan lidah riak gelombang laut.
Rombongan kami terdiri dari 25 orang. Dari jumlah itu, 20 adalah wartawan tulis dan wartawan foto atau fotografer media cetak dari Jakarta. Lainnya adalah Pak Usman, pemilik Pulau Sebesi, Julian Manaf sang pemandu wisata, serta tiga awak perahu.  ”Inikah Gunung Krakatau yang menjadi legenda itu?” tanya seorang wartawan kepada pemandu wisata, Julian Manaf. Saya mendapat undangan Tourist Development Lampung Center, sebuah proyek pariwisata yang dimodali kelompok Bakrie Brothers, untuk mengunjungi Festival Kalianda. Berjarak sekitar 40 km di selatan Bandar Lampung, Kalianda adalah kota di ujung paling selatan Pulau Sumatera. Secara administratif, Kalianda masuk dalam Kabupaten Lampung Selatan.
Dan dari Kalianda, kami mengawali perjalanan ke Krakatau. Dalam hal ini, Krakatau adalah kunjungan sampingan, setelah lelah mengikuti festifal di Kalianda. Sejak dari Jakarta, seorang teman memang telah mengatakan rugi kalau pergi ke Lampung, tanpa mampir ke Krakatau.
Niat berkunjung ke Krakatau pun sebarnya berawal dari rasa bosan berlama-lama di Kalianda. Selain itu, saya juga ”cemburu” pada para rekan yang kebetulan membawa peralatan foto. Beberapa hari sebelumnya, mereka mendapat kesempatan terbang dengan helikopter yang disediakan pihak pengundang, terbang di atas Krakatau.
Sayangnya, saya tak mendapatkan fasilitas yang sama . Tapi niat melihat Krakatau dari dekat sudah tak terbendung. Akhirnya saya putuskan, tetap berangkat ke Krakatau dengan mencarter perahu motor tempel. Sudah pasti, saya telah paham benar risikonya. Antara lain, perjalanan lebih lama dan melelahkan.
Perjalanan dari Kalianda menuju Krakatau kasmi tempuh dalam waktu sekitar tiga jam. Selama itulah saya terombang-ambing diterjang ombak yang kadang kala besar. Dengan menggunakan kapal motor tempel atau perahu ”klotok” (disebut demikian karena raungan mesinnya berbunyi klotok…, klotok…, klotok…, red). Perahu tersebut milik bapak Usman, yang saya sewa untuk mengarungi Selat Sunda.
Namun justru di si nilah asyiknya. Dengan menggunakan perahu yang hanya mempunyai kecepatan sekitar 20 knot, sekitar 20 mil/jam, saya menjadi main-mainan ombak di lautan. Pada saat itulah saya merasakan betapa kecil dan tak berdayanya manusia di tengah laut sebagai kekuatan alam yang tampak begitu perkasa. Terasa sekali betapa tipis batas antara hidup dan mati.
Beberapa teman yang tak pernah menjelajah lautan, perjalanan tersebut merupakan perjuangan berat. Terutama para wanita. Mereka mabuk laut– pusing, wajah pucat, dan muntah-muntah. Yang agak menolong, cuaca ketika itu sangat cerah dan bersih. Bagi beberapa teman yang ”berani”, memang lebih enak berdiri di luar sambil menikmati pemandangan.
Menjelang sampai tujuan, dari kejauhan sudah tampak menjulang di atas laut bayang-bayang Pulau Rakata yang merupakan bagian dari Kepuauan Krakatau. Rasa mual dan pusing yang tadinya menyergap, lambat laun menghilang dengan sendirinya. Pertama karena selamat mencapai tujuan, dan juga karena takjub melihat panorama Krakatau.
Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan, Kepulauan Krakatau terbentuk melalui proses panjang. Mula-mula wujudnya hanya sebuah gunung berapi berbentuk kerucut, yang kemudian tenggelam ditelan laut. Yang muncul di permukaan tinggal tiga gumpalan tanah dan disebut sebagai Pulau Sertung, Panjang, dan Rakata.
Di salah satu gumpalan tanah tersebut tumbuh lagi gunung api kecil berbentuk kerucut, dan dinamai Rakata. Kemudian muncul lagi dua gunung api lain– Perbuatan dan Danan– yang menjadi satu dengan Rakata dan dinamakan Pulau Krakatau.
Letusan-letusan dahsyat terjadi pada 26 hingga 28 Agustus 1883 dan menelan korban jiwa sekitar 36 ribu jiwa. Begitu hebatnya letusan waktu itu, sampai melenyapkan Gunung Perbuatan, danan, serta separo Rakata. Letusan kembali terjadi pada 1927, dan memunculkan pulau bergunung api baru, Anak Krakatau, yang letaknya persis di tengah-tengah pulau-pulau lain.
”Sekitar beberapa bulan yang lalu, Anak Krakatau ini memperlihatkan tanda-tanda aktif kembali. Sering kali pada malam hari terbias cahaya api yang memercik dari puncak gunung itu,” kata Usman, warga asli Pulau Sebesi yang merupakan salah satu pulau yang berada di sekitar Kepualauan Krakatau.
Ketika kaki saya mendarat di pantai anak Pulau Anak Krakatau, terasa panas sekali kaki ini menginjak pasir pantai. Bukan cuma lantaran sengatan matahari, melainkan juga karena imbas panas gunung berapi itu. Kini, kawasan laut sekitar gugus Kepulauan Krakatau itu sekarang ini ditetapkan sebagai cagar alam laut dengan luas 11.200 ha.
Saya menyusuri pantai dan mencoba untuk melihat dari dekat kaki Anak Krakatau. Anak Krakatau bergejolak dengan ledakan kecilnya, menampilkan fenomena alam yang menarik. Dengan sesekali menerobos alang-alang dan batu-batuan hitam, akhirnya saya sampai ke kaki Gunung Anak Krakatau yang dipenuhi hamparan batuan serta kerikil yang merupakan pemandangan baru bagi kami.
Di situ tidak hanya bisa dilihat kebesaran alam Gunung Anak Krakatau, melainkan juga taman laut serta kejernihan air hingga tembus oleh pandangan mata telanjang hingga ke dasarnya. Menyusuri perairan di sekitar Krakatau, memang merupakan sebuah petualangan yang menarik dan menantang.
Menantang karena di sela-sela rasa takjub oleh pemandangan alam laut, juga terbersit rasa takut jangan-jangan Anak Krakatau kembali meletup pada saat itu juga. Sebab selama kami berada di sana, gunung api itu beberapa kali ”batuk”.
Ketika hari senja, Julian mengajak saya untuk pulang kembali ke Kalianda. Kami memang harus berpacu dengan mata hari agar tak kemalaman di perjalanan. Dan ternyata, apa yang kami khawatirkan tadi justru terjadi. Perjalanan pulang belum sampai separo ketika malam tiba. Kekhawatiran kami bertambah karena perahu yang kami tumpangi tak dilengkapi lampu penerangan ataupun alat navigasi. Yang ada yang lampu tempel untuk menerangi bagian dalam bilik perahu.
Dengan jantung deg-degan, jadilah kami berlayar menembus gelap. Beberapa pulau kecil terlewati tanpa kami sadari. Seperti Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, serta Pulau Legundi. Di tengah dada kami sesak karena disergap rasa harap-harap cemas, tiba-tiba saja perahu menabrak sesuatu yang keras. Setelah diselidiki, ternyata karang yang cukup terjal yang tidak bisa terlihat oleh si juru mudi. Sesaat kami panik dan berteriak minta tolong. Untung, jarak kami ke dermaga di Kalianda sudah dekat. Setelah menenangkan para penumpangnya yang panik, para awak perahu berhasil meloloskan perahunya dari perangkap batu karang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s