Krakatau ‘Jerawat Raksasa’ yang Terus Tumbuh

Posted: 05UTC19 10,2011 in lalampah

Kepulauan Krakatau yang sekarang adalah hasil proses geologis panjang. Berawal dari sebuah gunung berapi, meletus, tenggelam, muncul lagi dalam bentuk rangkaian kepulauan, dan kembali ”melahirkan” gunung berapi baru yang kini disebut Anak Krakatau. Seperti jerawat pada wajah remaja, dipencet sana rumbuh lagi di sini.

Sebagai sebuah fenomena alam, Kepulauan Krakatau beserta Gunung Anak Krakatau memang menghadirkan nuansa yang lain dari lazimnya sebuah pemandangan alam. Eksotis. Tapi itu sebenarnya hanyalah kesan sekilas di permukaan. Di balik itu, Krakatau dapat diibaratkan seekor monster yang siap menebar maut bagi makhluk lain di sekitarnya. Yakni jika ia meletus.

Itu pernah ia buktikan melalui serangkaian letusannya di masa silam. Letusan-letusan dahsyat pada 26 sampai 28 Agustus 1883, misalnya, memakan korban sekitar 36 ribu jiwa. Krakatau kembali menampilkan muka bengisnya 1927, meski tak terekam secara pasti jumlah korbannya. Dan belakangan ini, Anak Krakatau pun mewarisi perangai sangar pendahulunya. Pada Maret 1994, gunung berapi tersebut menunjukkan gejala ”batuk-batuk”, dan menebarkan asap tebal serta hawa panas. Tak heran, sempat beredar spekulasi bahwa Krakatau akan meletus sekaligus memperingati satu abadnya mereka meletus. Namun tak semua orang melihat letusan Krakatau sebagai sesuatu yang mengerikan. Ada juga wisatawan yang justru ingin menikmati aktifnya Gunung Anak Krakatau.  ”Dari lubang di puncaknya, Anak Krakatau pada saat-saat tertentu menyemburkan asap tebal yang membumbung tinggi seakan menyentuh langit. Seperti tiang raksasa setinggi sekitar dua ratus meter yang menyangga awan sampai ketinggian 200 meter,” kisah Julian.

Sayang kami tak cukup beruntung bisa menikmati pemandangan seperti itu. Ketika kami tengok, Anak Krakatau agaknya sedang terlelap. Tak jarang pula dari situ tersembur pula bunga api yang mencapai tinggi 100 meter . Bagi para wisatawan yang suka pemandangan yang menyerempet bahaya, itu adalah atraksi alam luar dengan daya tarik luar biasa. Dan bagi para investor, kegiatan Anak Krakatau adalah peluang meraup untung melalui sebuah obyek geowisata.
Sejak letusan dahsyat 114 tahun lalu, justru aksi Gunung Anak Krakatau yang terus tumbuh itu memang bisa memancing rasa ingin tahu para wisatawan. ”Krakatau memang menyimpan banyak misteri,” ungkap Julian salah seorang pemandu wisata asal Lampung yang beberapa kali mengunjungi perairan di selatan Propinsi Lampung tersebut.
Secara geologis, proses evolusi Kepulauan Krakatau sudah jelas. Kalaupun Julian menyebut Krakatau menyimpan misteri, itu lebih berkaitan pada kegiatannya yang memang merupakan fenomena alam luar biasa. Atau, juga karena memang ada beragam versi cerita rakyat sekitar Krakatau. Misalnya dengan beredarnya mitos bahwa letusan dahsyat Krakatau terjadi akibat kesalahan seorang wanita yang berzina dengan ayah tirinya.
Menurut cerita rakyat yang pernah beredar di masyarakat Lampung, ada seorang wanita bernama Buniu dan ayah tirinya Prabu Jain, putra Sultan Palembang yang diasingkan oleh Belanda. Sultan Palembang percaya, Gunung Krakatau yang waktu itu sedang murka, tak akan berhenti memuntahkan api dan abu selama si wanita belum menerima hukumannya.
Cerita seperti itu tak lepas dari kepercayaan masyarakat masa lalu yang menghubungkan suatu bencana alam dengan perbuatan terkutuk. Lain pula cerita di masyarakat Lampung. Mereka beranggapan, bencana Krakatau merupakan hukuman dari Tuhan, akibat ofensif bersenjata yang dilakukan Belanda waktu itu. Letusan Krakatau waktu itu dihubungkan dengan perang di Aceh melawan penjajah Belanda. Sebagian penduduk Lampung ketika itu mempunyai kepercayaan terhadap berlakunya hukum karma. Sedang bagi pihak-pihak yang berperang, gema letusan Krakatau mereka kira suara tembakan senapan. Belanda mengira pihak Aceh melakukan serangan balasan secara mendadak sehingga bala bantuan segera dikirim, sedang Aceh mengira letusan itu berasal dari tembakan gencar meriam Belanda.  Dan ada yang lagi ceritera yang kemudian justru dijadikan anekdot. Konon ketika beberapa pedagang asal Aceh akan berniaga ke Banten. Mereka melewati gugusan Kepulauan Krakatau. Salah seorang dari mereka bertanya kepada pengemudi kapal atau mualim, yang kebetulan adalah seorang Cina Betawi.  ”Gunung apa itu?,” tanya seorang pedagang. ”Kagak tau (tidak tahu, red)” ujar si juru mudi itu menjawab. ”Ooo.. jadi nama gunung itu Kagaktau,” ujar si pedagang. Lama kelamaan seiring waktu nama Kagaktau entah kenapa berubah menjadi Krakatau.
Sebuah kisah lain menghubungkan ledakan Krakatau itu dengan pergolakan yang terjadi di Banten pada 1883. Akibat gempa itu, terjadi kehancuran di wilayah pantai seperti Pelabuhan Anyer. Musnahnya tanaman padi dan palawija, kematian ternak dan korban jiwa, ikut memperdalam kebencian rakyat terhadap penguasa kolonial.
Kecuali penjelasan geologis tentang proses terjadinya Kepualauan Krakatau yang sangat masuk akal, ilustrasi tersebut adalah sekadar legenda, mitos, serta anekdot. Mana yang benar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s