Desa Sekolah ala Cambridge

Posted: 05UTC16 10,2011 in lalampah

Wisatawan bisa menginap di gedung-gedung kuno.


Dalam benak saya, Cambridge adalah sebuah kota tua yang kurang menarik di Inggris. Ketika mendapat tawaran berkunjung ke kota yang berjarak 92 km dari LOndon itu, saya tak merasa tertarik. Di Cambridge, tak terdengar klub sepak bola, salah satu yang justru menjadi ciri khas kota-kota di Inggris. Namun, semua anggapan itu musnah ketika pertama kali masuk Cambridge. Gedung-gedung tua, jalanan yang rapih, kota yang tertib, dan cuaca yang sejuk di musim panas, membuat perjalanan selama tiga jam dari London dengan menggunakan bus tak membosankan.

Cambridge dikenal karena keberadaan Universitas Cambridge (Inggris: Cambridge University; Latin: Universitas Cantabrigiensis). Ini universitas kedua-tertua di Inggris. Universitas ini cukup bergengsi persyaratan masuknya paling ketat di Inggris. Kabarnya, Cambridge didirikan oleh seorang sarjana yang kabur dari Universitas Oxford setelah bertengkar dengan penduduk kotanya.

Cambridge terkenal karena lulusannya telah memenangkan 83 Nobel, lebih banyak dari universitas lain di dunia. Sejumlah ilmuwan dan tokoh politik terkenal berasal dari kampus ini. Misalnya Charles Darwin yang terkenal karena teori evolusinya, Isaac Newton penemu kalkulus, spektrum warna, dan teori gravitasi, Ernest Rutherford (teori struktur atom), Jane Goodall (ahli simpanse), James Clerk Maxwell (penemu gelombang elektromagnetik), Francis Crick (penemu DNA), John Maynard Keynes (ekonom penemu teori harga), Alan Turing (penemu teori komputer) dan Stephen Hawking (pencetus teori Lubang Hitam), Oliver Cromwell (tokoh pembaharu Inggris), Lee Kwan Yue (mantan PM Singapura), Rajiv Gandhi (mantan PM India) dan Jawaharlal Nehru (tokoh kemerdekaan India).

Nama-nama mereka dijadikan nama gedung-gedung tua di Cambridge. Gedung kesenian, misalnya, disebut Gedung Charles Darwin. Meski saya tak sempat melihat pertunjukan-pertunjukan drama yang digelar, saya sempat terpukau ketika mendatangi gedung tersebut dan melihat bagaimana bentuk dan arsitektur gedung itu.

Ruangan yang cukup luas dan berkelas di dalamnya serta panggung yang terlihat kuno tak menepiskan keindahan di dalamnya. Bentuk ruangan yang ada balkonnya menggambarkan situasi di masa lalu jika ingin menyaksikan  pertunjukan-pertunjukan panggung.

Di Cambridge sejumlah sekolah dan asramanya membuka diri untuk dikunjungi wisatawan. Beberapa yang dibuka untuk umum adalah King’s College Chapel, Trinity College, Darwin College, Cambridge University.

Kira-kira jumlah gedung tua di kota ini ada sekitar 30-an. Di dalam sekolah asrama tersebut, saya melihat ruangan tempat para mahasiswa beraktivitas. Mulai dari kamar tidur kuno, ruang makan besar seperti di film Harry Potter, ruang rekreasi, perpustakaan yang koleksi buku-bukunya luar biasa lengkap.

Saya sempat melihat indahnya bangunan kuno Peterhouse yang dibangun Hugh de Balsham pada 1284. Di dalam bangunan yang kosong karena mahasiswanya sedang berlibur di musim panas, ruangan-ruangan tempat kuliah sangat besar dan megah. Kastil-kastil menjulang tinggi seperti di film-film masa lalu. Kemegahan sangat terasa, karena ornamen-ornamen masa lalu yang tetap dipertahankan sampai sekarang.

Dibukanya sekolah dan asrama untuk wisatawan menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi di beberapa sekolah, ada paket penginapan bagi wisatawan yang ingin merasakan menginap di asrama. Cukup unik dan mendidik, apalagi banyak sekali wisatawan yang datang adalah anak-anak muda yang baru saja lulus sekolah dan ingin merasakan kehidupan mahasiswa.

Dari sekian gedung tua yang banyak dikunjungi wisatawan adalah King’s College. Lokasinya berdekatan dengan gereja utama dan pasar. Di gedung yang didirikan Raja Henry IV pada 1441 itu, sejumlah mahasiswa berseragam kebanggaan mereka, menyambut wisatawan dan menjelaskan setiap detail bangunan tersebut.

Dari sekian banyak gedung di Cambridge, mungkin King’s College-lah yang banyak menyedot perhatian wisatawan. Tak henti-hentinya wisatawan membanjiri gedung ini, sehingga jam buka pun dibatasi dari pukul 10-12 pagi. Dan, dibuka kembali pukul 14-16 sore.

Saya juga sempat mendatangi sejumlah museum. Mulai dari museum zoologi, museum seni, museum antropologi, hingga museum sejarah ilmu pengetahuan. Yang menarik adalah museum kecil yang menyimpan peralatan dan benda sejarah ekspedisi petualang asal Inggris, Kapten Robert Falcon Scott. Ia meninggal ketika ekspedisi ke Kutub Selatan pada 1912. Di sejumlah museum, para petugasnya juga cukup ramah (beberapa di antaranya berusia tua).

Bersepeda
Salah satu tempat nongkrong para wisatawan adalah di sekitar Lion Yard, yaitu pusat keramaian yang terletak di kota tua. Di area ini banyak sekali toko, pub, kafe, dan restoran. Tak hanya itu ada juga pertokoan swalayan dan toko modern menjual barang berkelas dan bermerek. Semua pertokoan ini buka pada pukul 08.00-17.00. Namun pub, kafe dan restoran kadang buka sampai larut malam.

Di wilayah kota tua (disebut kota tua karena beberapa bangunannya pertama kali dibangun), terdapat pasar kaki lima dengan gedung tua lengkap dengan menara khas kastil pada masa Abad Pertengahan. Kawasan ini ramai menjelang matahari terbenam. Ratusan orang, baik wisatawan maupun penduduk asli berkumpul menikmati hangatnya sinar matahari. Di pasar tersebut, dijual berbagai penganan makanan mulai dari roti  dan kue. Namun, harus hati-hati membeli makanan di sini karena banyak mengandung unsur babi.

Seorang mahasiswi, Sienna, mengajak saya menikmati sore yang cerah dengan menyusuri sungai menggunakan perahu. ”Salah satu ciri khas Cambridge adalah sungai ini, jadi jika kamu tidak menyusurinya, kamu belum bisa disebut pernah ke Cambridge,” ujar dia.

Sungai kecil bernama Cam ini sebenarnya tak terlalu bersih. Sampan yang kami tumpangi perlahan-lahan menyusuri sungai. Pemandu yang bernama James banyak bercerita soal indahnya sungai ini dan sejumlah tokoh yang menggunakan sampannya. Puluhan sampan hilir-mudik dengan galah sebagai pendayung mengingatkan saya ketika menyusuri Sungai Kapuas di Kalimantan. Bersampan di Cambridge disebut puntatau punting yang memang menjadi andalan wisata.

Satu hal yang membuat saya ‘betah’ di Cambridge karena tak adanya polusi. Di kota ini saya jarang menemukan kendaraan roda empat. Sepeda adalah kendaraan yang paling banyak digunakan. Saya pun mencoba menyewa sepeda untuk berkeliling kota ini. Dengan tarif 6 poundsterling, saya bisa menyewa sepeda yang cukup bagus kualitasnya selama 6 jam. Sendirian, saya pun berkeliling kota ini hanya dengan bermodal peta dan bertanya-tanya ke beberapa orang. Untungnya, rata-rata warga Cambridge cukup ramah ketika ditanya.

Transportasi yang teratur di kota ini membuat penelusuran saya selama dua hari cukup memuaskan. Seluruh jalur di kota ini menggunakan transportasi publik (bus). Meski kadang ditemui di sejumlah tempat parkiran kendaraan-kendaraan mewah, namun jarang digunakan. Apalagi ada aturan; masuk ke Cambridge, kendaraan yang kita bawa harus diparkir di sebuah lapangan parkir luas dipinggir kota tersebut.

Dari penyusuran saya selama dua hari di kota ini, saya jumpai beberapa masjid. Salah satunya dijaga seorang warga Pakistan bernama Kareem. Sayangnya saya tak diizinkan masuk karena ketika berkunjung ke sana, belum masuk waktu sembahyang. Populasi umat Islam di Cambridge, kata Kareem, ”Sekitar 300-an.” Mayoritas umat Islam di Cambridge adalah pegawai-pegawai restoran dan hotel. Mereka rata-rata dari Pakistan dan Bangladesh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s