no no angels

Posted: 05UTC22 10,2011 in Jurnal Haji
Teman saya seorang jamaah amat ingin mencium Hajar Aswad. Sebutlah namanya Fansuri (bukan nama sebenarnya).
Ia iri dengan kisah sesama jamaah yang berhasil mencium Hajar Aswad karena beberapa kali ia mencoba trik yang diajarkan untuk mencapai Hajar Aswad tapi selalu gagal.
”Mungkin belum diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa,” tuturnya sedih. Waktu tinggal di Makkah tinggal hitungan hari karena kami harus ke Madinah. Pak Fansuri ini semakin gelisah. Ia minta bantuan saya yang berbadan besar. ”Sampean kan badannya besar, tolong bantu saya,” ujarnya berharap.
Ternyata saya juga tak berhasil mengawalnya mencium Hajar Aswad. Sebaliknya sayalah yang berhasil. ”Kenapa ya saya susah sekali mencium Hajar Aswad, padahal tadi saya dan sampean yang dekat sekali. Justru sampean yang berhasil,” katanya semakin sedih.
Sehari menjelang keberangkatan ke Madinah, teman ini mencoba lagi. Dengan bekal sejumlah trik yang ia dapatkan dari saya dan teman-teman, ia mencoba terus. Putaran pertama thawaf, ia terlempar keluar. Demikian juga dengan putaran kedua dan ketiga. Di putaran keempat sebelum mendekati Hajar Aswad, ia masuk dulu ke Hijr Ismail.
Usai shalat sunnah di tempat ini, ia menangis dan berdoa agar diberi kemudahan mencium Hajar Aswad. Selesai berdoa, ia pun berjalan perlahan mendekati Hajar Aswad. Sambil bergerak, ia pun mulai mencari celah supaya tak terlempar lagi dari pusaran thawaf. Tiba-tiba, tiga anak muda berpakaian bersih mendekati dirinya. ”Pak mau ke Hajar Aswad? Mari kami bantu,” ujarnya.
Pak Fansuri kaget bukan kepalang karena tak menyangka ada yang membantu saat ia kesulitan menembus rapatnya kerumunan. ”Alhamdullilah ya Allah, mungkin ini malaikat yang kau kirimkan untuk menjawab doaku,” katanya.
Dengan berlinang air mata ia pun dikawal mendekati Hajar Aswad. Tanpa banyak kesulitan, ia pun berhasil mencium Batu Surga itu. Tak lama ia lantas ditarik ke luar lingkaran thawaf. Padahal ia bermaksud meneruskan thawafnya yang belum rampung.
Setelah agak jauh dari Ka’bah, ketiga anak muda ini membisikkan sesuatu ke telinganya. ”Maaf Pak, kami dari Banjar. Di sini kami kerja untuk menopang hidup. Kami sudah antar bapak, sekarang kami minta 500 rial untuk mengantar Bapak.” Pak Fansuri terperanjat. ”Lho kalian ini bukan Malaikat?” tanyanya.
”Bukan, Pak, kami biasa mengantar jamaah yang mau mencium Hajar Aswad,” kata salah satu anak muda itu.
Semprull, saya pikir kalian Malaikat. Wah saya tak bawa uang sebanyak itu,” ujar Pak Fansuri sewot.
”Ya sudah pak, berapa saja,” kata mereka.
Ia menyerahkan uang di sakunya. ”Nih hanya ada 20 rial sama 50 ribu perak,” ujarnya sambil menepuk-nepuk sakunya. ”Kirain Malaikat, ternyata kalian calo Malaikat,” kata Pak Fansuri semakin sewot.
Tak mau meladeni, ketiganya berlalu saja. ”Kalau tadi mereka calo, ngapain juga saya mau diantar mereka,” ujar Pak Fansuri menceritakan kisahnya. ”Lha pak, kan sudah berhasil usahanya, kenapa masih sewot,” kata saya ketika itu. ”Ya ya…mungkin karena saya pikir malaikat beneran, ternyata calo gentayangan,” gerutunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s