Menahan Angin demi Arbain

Posted: 05UTC17 10,2011 in Jurnal Haji
Ketika pertama kali saya mendengar Arbain saat manasik haji, saya sempat terkesima. Menurut Ustaz yang memberikan ceramah itu, jika kita shalat berjamaah tak putus selama 40 kali di Masjid Nabawi, Insya Allah, kita dijamin tak akan terkena panasnya api neraka dan dimudahkan rezeki.
Dalam benak saya saat itu, saya harus bisa melaksanakan Arbain ini, bagaimanapun caranya. Tentunya, supaya saya tak putus sholat berjamaah selama 40 waktu ini, saya harus bisa menjaga kesehatan dan mengatur waktu supaya tak ketinggalan imam.
Ketika di Madinah, saya benar-benar disiplin menjaga waktu agar tak tertinggal shalat berjamaah. Satu-dua jam sebelum waktu shalat, saya dan beberapa jamaah sudah berada di Masjid Nabawi. Malah sebelum Shalat Subuh, biasanya dari pukul 03.00 dini hari, masjid sudah penuh dengan jamaah asal Indonesia.
Yang mengherankan, dari pemantauan saya, jarang sekali jamaah dari luar Indonesia. Suatu saat, ketika sedang duduk menunggu waktu shalat di Masjid Nabawi, saya sempat berdiskusi dengan beberapa jamaah asal Mesir, Afganistan, dan Pakistan. Ketika saya menceritakan soal Arbain, mereka sempat bingung. Menurut pengakuan mereka, baru kali ini mereka mendengar ada yang namanya Arbain. Bagi mereka, untuk shalat berjamaah di Masjid Nabawi hukumnya fardhu. ”Bukan apa-apa, kapan lagi kita bersembahyang di masjid yang didirikan Rasul, kalau bukan di Madinah? Kami tak mengenal waktu apakah harus 40, 50 atau 60 kali,” ujar jamaah asal Mesir itu.
Dan bagi mereka, yang namanya shalat berjamaah itu hukumnya juga fardhu. ”Aneh ya orang Indonesia,” kata seorang jamaah mengomentari pernyataan saya.
Waktu itu saya tak bisa menjawab, karena saya tak mengerti ilmunya. Namun anggapan soal Arbain ini membuat saya berpikir kembali, apakah benar bahwa Arbain ini memang disunnahkan oleh Rasul atau hanya bikinan orang Indonesia saja. Bukan apa-apa, persoalan utama yang menggangu pikiran saya, karena kelakuan teman-teman jamaah di rombongan saya.
Kebetulan rombongan saya tinggal di Madinah selama 11 hari. Untuk memenuhi 40 waktu berturut-turut artinya butuh delapan hari. Nah, lucunya, usai menyelesaikan 40 kali shalat itu, saya melihat bagaimana teman-teman jamaah seolah terbebas dari kewajiban shalat berjamaah di Masjid. Mereka lebih senang berbelanja dan berjalan-jalan. Malah di saat mulai masuk waktu shalat, ada beberapa jamaah yang masihnongkrong di lobby hotel. ”Kan sudah Arbain, santai saja Pak, nggak usah terburu-buru,” kata seorang jamaah, ketika diajak ke masjid.
Saya hanya tertawa geli mendengar omongan jamaah yang usianya tak cukup jauh dengan saya itu. Kebetulan saya punya pengalaman lucu dengan dia.
Dua hari sebelumnya, ia bersama saya menunggu waktu qomat shalat Isya di masjid. Saat itu, mukanya sudah pucat pasi dan badannya bergerak terus. Ketika saya tanyakan, ia menjawab, bahwa ia masuk angin dan bawaanya ingin buang angin terus. Waktu itu saya bilang supaya dikeluarkan saja dan segera bergegas untuk mengambil wudhu. Ia menolak dengan alasan tempat wudhu jaraknya cukup jauh dan untuk kembali ke tempatnya membutuhkan waktu yang cukup lama. ”Takut nggak kebagian Arbain,” katanya menghela nafas.
Namun yang namanya menahan angin di tubuh jelas sangat tidak sehat. Saya melihat teman jamaah ini sudah tak konsentrasi lagi. Ketika imam mulai membaca surat pendek usai Al-fatihah, ia bersin dengan cukup keras. Namun seiring bersin yang keluar dari mulut, dari mulut belakangpun rupanya keluar juga suara yang cukup menggangu. ”Dutttt.”
Sambil menahan malu, si teman jamaah ini langsung duduk dan tangannya menepuk-nepuk karpet masjid. Rupanya ia bertayamum. ”Yang penting jangan ketinggalan Arbain,” papar dia usai shalat.
Shalat usai dan ia pun bercerita soal kekuatannya menahan dorongan ‘angin dari bawah’ selama shalat berjamaah. ”Dua hari terakhir ini saya kena flu dan masuk angin, tapi Alhamdullilah saya kuat menahan ‘angin’,” katanya sambil meringis. Subhannalah
Usai Arbain, tak hanya dia yang punya cerita. Ceritaa-cerita lucu mengalir dari teman sesama jamaah dalam upayanya tak ketinggalan shalat berjamaah. Dari sekian banyak cerita ini, saya bisa mengambil kesimpulan, jamaah takut dengan Arbain daripada memelihara kualitas ibadahnya itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s