Shanghai Pusat Peradaban Barat dan Timur

Posted: 05UTC39 10,2011 in lalampah

Gedung-gedungnya rapat dengan jalan raya. Toko-tokonya juga mirip-mirip di Kota atau Glodok. Ada pusat kegiatan olahraga seperti Senayan yang disebut People Park


Udara dingin yang cukup mengiggit ditambah angin keras yang bertiup dari laut membuat jaket yang dilapis dengan sweater sepertinya tak berpengaruh kepada tubuh. Ketika kaki melangkah keluar dari Bandara lama Hong-Qiao Shanghai (sejak Maret/April tahun lalu, bandara dipindahkan ke Bandara Baru Pudong, yang letaknya 45 km dari kota Shanghai,red) bangunan-bangunan menjulang cukup tinggi memperlihatkan bahwa kota Shanghai yang saya kunjungi adalah kota metropolitan modern di Asia.
Perasaan kagum dan heran melihat betapa tertinggalnya Jakarta terhapus dengan keramahan supir taksi yang mangkal di bandara tersebut. Bahasa Inggris yang terpatah-patah yang dilontarkan para supir taksi tersebut kemudian berubah menjadi lebih ramah ketika tahu bahwa orang yang ditawari adalah orang Indonesia. ”Saya lama di Indonesia, keluarga saya banyak di Semarang,” tutur Liang Zhi, salah seorang supir taksi dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar.
Februari 2001 lalu, saya bersama sejumlah wartawan Jakarta diundang Pemerintah Cina untuk melihat-lihat kemajuan Cina. Beberapa kota sudah kami datangi dan terakhir kami diundang ke Shanghai untuk melihat kemajuan kota saingan Hongkong ini. Bersama sejumlah wartawan tersebut, kami semua tercengang melihat betapa bersihnya Shanghai. Berbeda dengan Hongkong yang terasa kumuh dengan banyaknya jemuran-jemuran yang bergelantungan di apartemen yang saling berdempetan, Shanghai terasa bersih.
Seorang teman malah bertaruh bahwa di jalan-jalan di Shanghai setiap hari pasti disapu dan dipel sehingga tak ada debu sama sekali yang menempel. Namun, memasuki pusat kota Shanghai kerinduan akan Jakarta kembali muncul setelah mobil yang kami tumpangi terjebak macet. Tak hanya itu, jalan layangnya mirip seperti Semanggi di mana jalannya dibuat menembus gedung-gedung tinggi, tidak lebar, hanya 2 + 2 jalur. Gedung-gedungnya rapat dengan jalan raya. Toko-tokonya juga mirip-mirip di Kota atau Glodok. Ada pusat kegiatan olahraga seperti Senayan yang disebut People Park.
Mobil yang membawa rombongan kami berhenti di Hotel Grand Hyatt Shanghai. Hotel ini dianggap sebagai hotel tertinggi di dunia. Menempati 35 lantai teratas dari Jin Mao Tower Building (88 tingkat, tinggi 420,5 m) yang terletak di daerah Pudong dan diresmikan pada tanggal 18 Maret 1999. Jin Mao Tower merupakan gedung tertinggi di Cina dan nomor 3 di dunia. Selama tiga hari di Shanghai, kami sepertinya dibuat terkagum-kagum dengan kemajuan Cina. Hampir setiap orang yang kami lihat menggunakan busana modern dan cenderung mengikuti zaman.
Wajah-wajah ganteng dan cantik personil F4 yang beken di Indonesia dengan sinetron Meteor Gardensangat mendominasi. Anak-anak muda dengan tongkrongan masa kini berjalan-jalan santai dan sepertinya acuh dengan keadaan di sekitarnya. Hal ini sangat berbeda ketika kami berjalan-jalan di Beijing. Di ibu kota Cina ini, rata-rata wajah yang kami jumpai lebih serius dan jalanya sedikit bergegas. Menurut Han Jian, pemandu kami dari Departemen Luar Negeri Cina, pengaruh asing di Shanghai lebih kental dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Cina.
”Anda bisa dapatkan orang di sini bebas berciuman di jalan-jalan,” katanya. Yang menarik dalam kunjungan kami di Shanghai adalah ketika kami di bawa ke Jalan Hen-Shang. Jalan ini mengingatkan saya seperti jalan di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Sepanjang jalan ini penuh dengan bar/karaoke, cafe, tea-house, dan rumah makan. Saya akui, di sepanjang jalan ini terasa bersih dan teratur. Berbagai Pohon yang ditanam berjarak sama membuat kawasan ini lebih teduh. Meski saat itu musim semi sudah mulai tiba, namun terik matahari cukup menyengat kulit. 


Toko-toko di sepanjang jalan ini dibuat rapi dan apik. Sepintas mirip jalan-jalan di kota kecil Eropa, cuma lebih modern. Banyak bangunan dibuat dengan dekorasi yang mewah dan bagus. Hanya kadang-kadang aroma bawang putih terasa sekali mengganggu hidung. Selain kawasan tersebut, yang tetap saja menarik adalah Pudong, kawasan di mana hotel kami berada. Di tahun 1990-an, sejalan dengan politik keterbukaan, Pemerintah Cina membangun distrik baru di kota Shanghai yang terletak di sebelah Timur sungai Huangpu.
Di kawasan seluas 522 kilometer persegi yang dikenal dengan nama distrik Pudong dibangun sebuah kota dagang modern dengan teknologi canggih. Namun, meski modern, distrik Pudong juga dikembangkan sedemikian rupa sehingga menyatu dengan kota Shanghai lama. Untuk itu dibangun tiga buah jembatan yang menghubungkan daerah Pudong dengan pusat kota Shanghai, yaitu jembatan Nan Pu, jembatan Yang Pu, dan jembatan Xu Pu, serta sebuah terowongan di bawah tanah yang melintasi sungai Huang Pu.
Di kawasan itu terdapat juga bandar udara internasional Pudong International Airport dan pusat pembangkit tenaga listrik untuk melengkapi pusat keuangan dan komersial Lujiazui, zona perdagangan bebas Waigaoqiao, zona pengolahan barang ekspor Jinqiao dan taman industri Hi-tech Zhangjiang. Bangunan modern lain yang juga menjadi kebanggaan Pudong adalah The Oriental Pearl, menara radio dan TV Shanghai, yang tingginya 468 meter dan merupakan menara televisi tertinggi ketiga di dunia.
Di gedung ini, terdapat tiga tempat di mana kita bisa menikmati pemandangan Shanghai keseluruhan. Dari ketinggian 90 meter, 263 meter, dan 350 meter. Untuk mencapai tempat itu, tersedia lift super cepat. Capai dan lapar melihat pemandangan Shanghai, yang tak puas-puasnya memelototkan mata. Di Oriental Pearl ini kita juga bisa mengisi perut sambil menikmati pemandangan sungai Yangtze di restoran berputar. Tidak hanya itu, kalau kita senang jojing, ada diskotek. Mau bersantai ria sambil kongkow-kongkow ada coffee shop.
Wisata ke Shanghai yang paling utama adalah melongok kota lama yang berada di tepi sungai Huang Pu. Kota lama yang dikenal dengan nama The Bund ini terdapat gedung-gedung perkantoran tua yang dibangun bergaya kolonial dan masih terpelihara dengan baik. Di kawasan ini bisa kita dapati jalur jalan sepanjang 625 m di mana pada sisi kanan kirinya terdapat bangunan-bangunan tua zaman dinasti Ming, Qing, dan sebagainya.
Di sisi lainnya terdapat Jalan Hengshan berupa sebuah bulevar bergaya Prancis yang dipenuhi pohon-pohon rindang dan restoran serta bar bergaya Champs du Elysee di Paris; Jalan Nanjing, yang dikenal sebagai jalan paling utama di Shanghai di mana terdapat toserba-toserba besar dan modern yang merupakan pusat perbelanjaan utama dengan plaza khusus bagi pejalan kaki. Melihat kota lama ini mengingatkan saya kepada film Jet Lee Kungfu Master.
Dalam satu adegan dimana Jet Lee yang di film tersebut berperan sebagai pendekar Wong Fei Hungmenyelamatkan tunangannya yang terjebak di salah satu gedung kolonial tersebut. Ternyata, menurut Han Jian, suting film ini memang dilakukan di salah satu gedung tersebut. Selain melihat gedung-gedung antik tersebut, kami juga diajak berlayar menyusuri Sungai Huangpu.
Sepanjang pelayaran, kami seakan disuguhi pemandangan Shanghai masa lalu dan masa kini. Karena di sisi barat Huangpu kita bisa melihat The Bund yang merupakan cikal bakal kota Shanghai dengan gedung-gedung bergaya awal abad ke-20, sementara di bagian lain kita disuguhi Shanghai masa kini yang modern dengan gedung-gedung pencakar langit. Tempat lain yang wajib dikunjungi di Shanghai adalah Yuyuan Garden yang terletak di timur laut kota lama.
Taman indah seluas lima hektar ini, dibangun di zaman Dinasti Ming oleh Pan Yunduan tahun 1559 sebagai taman pribadi untuk ayahnya. Taman yang dibangun selama 19 tahun ini kemudian disalahgunakan setelah kejatuhan keluarga Pan. Kondisi itu semakin diperparah dengan konflik bersaudara di pertengahan abad ke-19, sehingga taman ini mengalami kerusakan cukup parah. Untungnya mulai tahun 1949 pemerintah Cina merenovasi Yuyuan hingga akhirnya dibuka untuk umum tahun 1961.
Harus kami akui, taman Yuyuan ini dibangun bergaya Suzhou dengan penataan yang amat indah. Setiap paviliun, ruangan, batu dan aliran air yang mengalir di taman memperlihatkan ciri khas Dinasti Ming dan Qing. Dinding-dinding pembatas taman dihiasi dengan kepala naga sehingga dikenal dengan sebutan Five-dragon Wall (Dinding Lima Naga). Semua naga di sini hanya memiliki empat cakar. Konon, saat selesai dibangun dahulu setiap naga memiliki lima cakar, tapi karena hal itu dianggap kurang sopan maka kemudian satu cakarnya dipotong.
Dinding lima naga membagi taman menjadi lima bagian, yaitu Grand Rockery, Ten Thousand-Flower Pavilion, Hall of Heralding Spring, Hall of Jade Magnificence, Inner Garden, dan Lotus Pool. Di kawasan ini, banyak sekali toko-toko yang menjual kain sutra, perhiasan kerajinan lokal, atau ke toko perhiasan emas yang diukir dengan cantiknya. Sayang harganya mahal-mahal. Apalagi kalau yang membeli adalah turis asing. Tempat yang wajib dikunjungi lainnya adalah Museum Shanghai yang terletak di People’s Square.
Meseum yang dibangun tahun 1952 ini luasnya 38.000 meter persegi dengan ketinggian 29,5 meter. Museum keempat terbesar di Cina ini memiliki lima lantai di atas permukaan tanah dan dua lantai di bawah permukaan tanah. Koleksi yang dipamerkan di tempat ini antara lain uang kuno, kain tenun dan baju adat, cap nama khas Cina, keramik, lukisan, dan buku-buku kuno. Semua benda bersejarah ini dipajang menurut kategori perunggu Cina kuno, kaligrafi Cina kuno, periode Dinasti Tang dan Song, keramik Cina kuno, lukisan Cina kuno, dan pahatan Cina kuno.
Museum ini buka dari pukul 09.00 -17.00. Tidak cukup tiga hari untuk menelusuri dan membedah kota Shanghai. Meski harus diakui menarik bagi wisatawan, namun kabarnya dari sekitar 70 juta wisatawan asing yang mengunjungi Cina selama tahun 2001, Shanghai hanya kebagian 1,7 juta. Tak heran, Pemerintah Daerah Shanghai berniat memajukan wisata Shanghai supaya sejajar dengan tempat wisata lainnya di dunia. Melihat prasarana dan sarana yang tersedia dan direncanakan, kiranya impian Cina untuk menjadikan Shanghai sebagai Kota Pusat Dagang Dunia abad ini tidak mustahil terlaksana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s