Mengaji Sambil Belajar Demokrasi

Posted: 05UTC25 10,2011 in jadul

Mengaji Sambil Belajar Demokrasi

24 Maret 1997

Malam itu, 5 September, langit terasa sangat cerah. Bulan bersinar sangat elok seakan menjadi pelita di kegelapan malam yang terasa sangat pekat. Udara dingin yang cukup menggigit tidak membuat goyah ribuan orang untuk datang berbondong-bondong mendatangi desa Menturo, sekitar 20 km ke arah utara kota Mojoagung, Jombang.
Malam itu memang terasa istimewa karena kabarnya Gubernur Jawa Timur yang baru, Imam Utomo, berkenan hadir di desa kelahiran budayawan Emha Ainun Najib untuk berdialog dengan rakyatnya pada acara rutin Pengajian Padang Mbulan. ”Malam ini kita akan kedatangan tamu istimewa, beliau adalah Imam kita semua, Imam Utomo, yang sekarang menjadi gubernur Jawa Timur,” ujar Cak Nun, panggilan akrab Emha, di depan ribuan santrinya.
Pengajian ini memang terasa unik dan menarik. Selain mengupas masalah sehari-hari dengan tafsir Alquran dan shalawat bersama-sama, pengajian ini seperti mendidik masyarakat untuk belajar demokrasi yang benar dengan cara dialog antarjamaah. ”Konsep minimal dari Padang Mbulan ini adalah dengan meng-qurankan diri sendiri sebisa mungkin dengan segala keawaman kita,” ujar Emha. (Republika, 9/2/96).
Ini tampaknya memang terbukti. Tafsir Alquran yang dibacakan Cak Nun dan Ahmad Fuad Efendy — kakak tertua Emha — kemudian diterjemahkan ke dalam konteks sehari-hari dengan cara dialog antara jemaah dengan penceramah atau pembicara yang diundang pada pengajian ini. Meski yang diajarkan adalah tafsir Alquran, bentuk kajiannya lebih bersifat analitis terhadap berbagai aspek persoalan. Ini berbeda dengan pengajian tafsir selama ini.
Pasangan kakak beradik ini ternyata mampu memberikan nuansa baru bagi para jemaah Padang Mbulan. Dengan keahlian dan pola pendekatan yang berbeda, keduanya mampu memberikan sajian ceramah dalam bentuk kajian yang logis dan kritis. ”Semula pengajian ini berawal dari adik saya, Adil Amrullah, untuk mempertemukan saya dengan teman-teman minimal sebulan sekali. Nama Padang Mbulan sendiri juga ditemukan secara kebetulan karena tanggal lahir saya tepat saat bulan purnama yakni 15 Ramadhan. Maka waktu pertemuan itu saya pilih bertepatan dengan waktu tersebut yakni saat bulan bersinar terang sehingga akhirnya pertemuan itu dinamakan Padang Mbulan,” ujarnya.
Menurut Cak Nun, dia semula tidak ingin menjadikan forum pengajian ini forum massal. ”Ini hanya sekadar wujud pengabdian saya pada tanah kelahiran saya yaitu Desa Menturo kecamatan Sumobito, Jombang,” tukasnya. Karena itu, awalnya pengajian ini dihadiri oleh masyarakat sekitar desa tersebut. Lambat laun, gaungnya menyebar ke seluruh Jombang, Jawa Timur, hingga meluas ke seluruh Nusantara. ”Malah ada beberapa warga asing berasal dari Filipina, Malaysia, Kanada, Australia beberapa kali hadir pada pengajian ini,” ujar Syafei, salah seorang jemaah asal Jakarta, yang rutin datang sebulan sekali ke Jombang.

Tidak hanya Syafei yang mengatakan demikian. Menurut pengamatan Republika, beberapa jemaah asal Jakarta tampak sengaja datang ke Jombang dengan kereta api. ”Kami menyempatkan diri datang ke Jombang sebulan sekali untuk menghadiri pengajiannya Cak Nun,” kata Budiman, salah satu pengusaha asal Jakarta.
Tidak bisa dipungkiri lagi, kebesaran nama Cak Nun yang selama ini dikenal sebagai ‘kyai mbeling’ menjadi daya tarik tersendiri. Dari suatu forum kecil yang diikuti oleh 50-an orang dari sanak kerabat dan tetangga Cak Nun, jumlah peserta pengajiannya terus membengkak. Setelah pengajian berlangsung 14 bulan, peserta kegiatan agama yang dilaksanakan bertepatan dengan pertengahan bulan Hijriah (bulan Purnama – Red) itu terus bertambah. Kini jemaahnya bisa mencapai 20 ribuan dengan latar belakang amat beragam. Mulai dari petani, pegawai, karyawan, mahasiswa, intelektual, kyai, pejabat Pemda sampai kaum selebritas. ”Padang Mbulan sendiri bukanlah suatu organisasi. Ini semacam labolatorium alam pikir, alam iman, dan alam sikap,” katanya.
Ungkapan Cak Nun ini terlihat ketika ia mencoba mendialogkan situasi dan kondisi yang terjadi sekarang ini dengan salah satu nara sumber. Misalnya dengan Gubernur Jawa Timur Iman Utomo seputar masalah sembako di Jawa Timur. ”Itulah kelebihannya Cak Nun. Coba kalau setiap daerah atau wilayah punya orang seperti dia, bukan tidak mungkin rakyat akan belajar demokrasi secara benar,” kata Syafei.
Menurut pengusaha yang bergerak di bidang percetakan ini, demokrasi yang diajarkan Cak Nun sangat populis. ”Bukan demokrasi yang sekarang diperlihatkan oleh aksi-aksi demonstran yang menjurus ke arah anarki. Cak Nun mempersilakan rakyat berdialog dengan pimpinanya dan sebaliknya sang pemimpin juga merasa bebas berdialog dengan rakyatnya,” katanya.
Sampai malam tiba, masyarakat terus berdatangan ke pengajian Padang Mbulan. Puluhan tenda kaget yang menjual berbagai makanan dan minuman seperti nasi pecel, soto, nasi goreng, bakso juga tak kalah diserbu pengunjung. ”Ini berkah dari pengajian. Setiap bulannya kami mendapat rezeki dari para pengunjung yang berdatangan ke pengajian ini,” ungkap salah seorang pedagang.

Banyak hal menarik bisa disaksikan di Pengajian Padang Mbulan ini. Selain warganya ikut pengajian, desa Menturo yang biasanya sepi setiap harinya berubah cukup drastis. Banyaknya pedagang selain menawarkan makanan minuman juga menawarkan kaset, buku, striker dan berbagai aksesoris yang berhubungan dengan kegiatan pengajian. ”Jadi tidak hanya sekadar ikut pengajian juga, di sini orang bisa menyaksikan suatu pasar malam. Orang berdatangan ke sini untuk mengaji, jadi jarang ada keributan,” kata Husein, pedagang buku yang mengaku datang dari Surabaya.
Nama besar Cak Nunlah yang menjadi magnet bagi orang-orang untuk datang ke pengajian ini. ”Yang datang kesini tidak hanya melulu kepingin mengaji. Ada juga yang datang sekadar untuk mencari tahu barangkali ada perkembangan atau informasi dari Jakarta,” tutur Cak Nun.
Tidak hanya urusan pengajian, bila perlu menikah di pengajian ini juga dilakukan. Seperti halnya pada malam tersebut, dua pasangan dari Bandung yang mengaku jemaah setia pengajian Padang Mbulan melakukan pernikahn mereka disaksikan oleh jemaah pengajian lain. ”Niat kami untuk menikah di sini memang sudah lama. Kebetulan kedua orangtua saya setuju,” kata Asep, mahasiswa UGM yang menikah dengan teman kuliahnya.
Uniknya, karena keduanya adalah penduduk Jawa Barat, maka keduanya mendatangkan langsung petugas catatan sipil dari Departemen Agama di Bandung. ”Ada nilai tersendiri bisa menikah disaksikan oleh jemaah Pengajian Padang Mbulan dan Cak Nun,” kata Asep yang mengaku sering datang ke pengajian ini setiap bulannya.
Malam semakin larut, perlahan-lahan beberapa jemaah mengundurkan diri karena tak kuasa menahan kantuk. Namun ada juga jemaah yang tetap duduk dan bertahan sampai pengajian selesai. ”Sebenarnya kalau kondisi Cak Nun nya sendiri kuat, masyarakat di sini bisa betah sampai pagi,” kata Syafei.
Tapi, apa mau dikata, malam semakin larut dan pak Gubernur pun tampaknya punya urusan lain esok harinya. ”Kapan-kapan datanglah ke sini untuk mengikuti pengajian, insya Allah biasanya orang yang sudah datang ke sini ketagihan untuk ikut lagi pada pengajian berikutnya,” papar Emha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s