Pesona Tana Toraja

Posted: 05UTC54 10,2011 in lalampah

Tana Toraja menyimpan aura mistis dan segudang keunikan. Mengunjunginya memberi kesan sangat mendalam. 

Sudah sejak lama saya ingin mengunjungi Tana Toraja. Cerita mayat bisa berjalan ke pekuburannya, membuat saya penasaran. Tawaran dari Departemen Pariwisata dan Kebudayaan (Depparbud) untuk meliput Festival Tana Toraja, beberapa waktu lalu, membuat keinginan saya mengunjungi daerah yang terletak di Sulawesi Selatan ini, terwujud. Dalam benak saya, aroma mistis dan angker akan mewarnai perjalanan saya ke sana.

Berangkat dari Jakarta dini hari, tak membuat saya mengantuk. Isi kepala saya penuh dengan gambaran-gambaran bagaimana sebuah mayat bisa berjalan sendiri dari rumahnya ke perkuburan yang jaraknya cukup jauh. Perjalanan dua jam di udara pun saya isi dengan banyak membaca buku-buku pariwisata Tana Toraja. Namun anehnya, di sejumlah buku tersebut, tak ada satupun yang menceritakan soal mayat berjalan. Padahal, konon, sang mayat bisa berjalan sendiri dan menaiki tangga di pegunungan untuk mencari rumah abadinya.

Setibanya di Bandara Hasanuddin Makasar, semangat saya untuk tetap melanjutkan perjalanan darat ke Tana Toraja masih mengelora. Seorang teman menginformasikan, perjalanan darat dari Makassar ke Tana Toraja cukup jauh dan ditempuh dalam waktu tujuh jam. Bagi saya tak masalah. Pengalaman mengalami kemacetan berjam-jam di Jakarta membuat semangat saya tak luntur. Apalagi, saya cukup yakin pemandangan di Sulawesi ini cukup mampu membunuh kebosanan di perjalanan.

Sayang, semua keyakinan saya itu pupus. Sepanjang perjalanan, tak ada secuil pun pemandangan yang indah yang bisa saya saksikan. Selain jalanan berkelok-kelok, panas terik dan jalanan rusak membuat energi saya benar-benar terkuras. Rasa bosan dan letih mulai menyergap ketika perjalanan sudah memakan waktu hampir lima jam. ”Sabar Pak, nanti mendekati Tana Toraja, pemandangan yang benar-benar indah akan bisa kita nikmati,” ujar Daeng Arsyad, sopir yang mengantarkan kami dari Makassar ke Tana Toraja.

Ucapan sopir itu ternyata benar. Ketika jalanan mulai mendaki ke atas perbukitan, pemandangan indah mulai terlihat. Rasa letih pun terbayar sudah. Beberapa kali kendaraan berhenti, hanya untuk melihat keindahan ciptaan Tuhan. Barulah saya bisa berpikir, tak salah rasanya datang ke Tana Toraja. Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu tujuh jam pun akhirnya molor sampai 10 jam. Sesampainya di Makale, ibu kota Tana Toraja, matahari sudah mulai terbenam. Saya dan rombongan langsung masuk ke hotel yang disediakan oleh Depparbud. Rasa capai di sekujur tubuh perlahan hilang ketika saya merebahkan diri di peraduan.

Pagi hari di Tana Toraja ternyata menyimpan kenangan tersendiri. Udara yang sejuk dan segar, kicau burung di pagi hari dan panorama persawahan cukup membuat pikiran terbebas dari sumpeknya ibu kota. Saya pun sarapan di hotel dengan kopi dan setumpuk roti. Sebelumnya, sopir yang mengantarkan saya sempat menginformasikan supaya hati-hati saat mencari makan. Ini karena makanan untuk Muslim sangat terbatas di Tana Toraja. Rata-rata, restoran di Toraja menyediakan daging babi. Karena itu, jika mencari makanan, sebaiknya pilih restoran padang atau restoran yang memajang label Muslim.

Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah utara Makassar itu sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah adat ini dinamakan Tongkonan. Biasanya, atapnya terbuat dari daun nipah atau kelapa dan mampu bertahan sampai 50 tahun. Tongkonan juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat, seperti emas, perunggu, besi, dan kuningan.

Siangnya saya berwisata ke Ke’te’ Kesu’, desa wisata Tana Toraja. Lokasinya cukup memadai, hanya sekitar tiga kilometer dari jalan raya, atau 30 menit perjalanan dari Kecamatan Rantepao, salah satu pusat keramaian di Toraja. Mendekati lokasi, kami disuguhi pemandangan Tongkonan yang berjejer. Di sela rerimbunan pohon dengan latar depan hamparan sawah menghijau, ingatan saya seolah mundur 100 tahun yang lalu. Dalam benak saya tergambar bagaimana kehidupan masyarakat Toraja dengan segala adat istiadatnya.

Tiket masuk ke kawasan ini tak terlampau mahal, Rp 5.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 10 ribu untuk turis asing. Saat itu, suasana sangat sepi karena bukan musim liburan. Hanya ada beberapa orang asing yang asyik mengambil gambar di antara tongkonan-tongkonan. Ke’te’ Kesu ini adalah sebuah desa tradisional kecil yang terdiri dari delapan tongkonan induk, lengkap dengan lumbung beras di depan setiap tongkonan. Di belakang tongkonan, beberapa warga terlihat tengah bersantai di rumah-rumah mereka. Sementara di belakang dan samping tongkonan terlihat dua kios kerajinan yang menjual aneka cenderamata khas Toraja.

Dari sekian banyak tongkonan ini, salah satunya sudah berusia sekitar 150 tahun. Iseng, saya mencoba melongok isi tongkonan. Di dalam tongkonan, terasa pengap. Cahaya matahari hanya bisa mengintip dari sela-sela jendela. Dari balik jendela di sebelah pintu masuk, terlihat sebuah ruangan yang menjadi tempat untuk meletakkan jenazah. Salah satu ciri khas dari setiap tongkonan adalah puluhan tanduk kerbau yang disusun bergantung di depan bangunan.

Di dinding samping sebelah luar, dipasang tulang rahang yang tersisa dari kepala kerbau. Semua itu menjadi penanda berapa banyak kerbau yang telah dikorbankan saat upacara kematian dilangsungkan. Kerbau dan babi memang menjadi hewan korban saat upacara kematian. Makin banyak kerbau disembelih, makin memperlihatkan status sosial seseorang. Tak hanya itu, menurut kepercayaan Toraja, kerbau juga menjadi sarana transportasi bagi arwah orang yang meninggal saat menuju puya (surga).

Tak berlebihan rupanya jika harga kerbau di Toraja sangat mahal. Harga paling murah yang biasa digunakan untuk upacara kematian tak kurang dari Rp 10 juta per ekor. Bahkan ada jenis kerbau yang harganya mencapai Rp 50 juta per ekor, yakni tedong bonga atau kerbau bule. Selain menyaksikan keindahan tongkonan, saya pun menengok kubur batu, yang letaknya sekitar 50 meter di belakang kawasan ini. Sebelum masuk jalan setapak yang cukup teduh, terdapat sebuah bangunan megah yang cukup menjulang. Bangunan itu adalah makam Sarungalo.

Menurut Glenn, seorang anak kecil yang menjadi pemandu wisata, Sarungalo adalah seorang bangsawan terhormat di Toraja. Keluarga besar Sarungalo tinggal turun menurun di Ke’te’ Kesu’, dan menghibahkan daerah ini untuk dijadikan desa wisata. Sarungalo yang meninggal 20 tahun lalu, dikubur bersama istrinya dalam satu kuburan modern yang disebut patane. Makam itu tak sama dengan kubur batu masyarakat Toraja pada umumnya, karena berbentuk rumah. Di atas pintu masuk, pengunjung dengan jelas dapat melihat patung Sarungalo berdiri dengan memakai jas warna kuning dan berpeci. Sebelum meninggal, Sarungalo pernah menjadi Ketua DPRD Kabupaten Tana Toraja.

Dari makam Sarungalo, saya mendaki sebuah bukit kecil. Tingginya tak lebih dari 10 meter. Di sisi kiri jalanan berundak, terdapat bukit batu, yang dipenuhi dengan lubang-lubang. Di dalam lubang-lubang itu dengan mudah dijumpai tulang belulang dan tengkorak manusia berserakan. Saat saya mendongak ke atas, tampak peti-peti kayu yang telah lapuk tergantung di langit-langit celah batu, dengan penyangga kayu. Dari dalam peti itu pun tulang belulang dan tengkorak tampak berserakan.

Menurut Glenn, kubur batu di Ke’te’ Kesu’ termasuk yang tertua di Toraja. Usia kubur batu itu diperkirakan berusia lebih dari 700 tahun. Saat melangkah ke tempat yang lebih tinggi lagi di dalam bukit batu, dapat dilihat patung-patung kayu sebagai gambaran dari mereka yang telah dikuburkan di situ. Ada belasan patung yang ditempatkan di dalam sebuah celah kecil menjorok ke dalam, dengan pintu besi berteralis. Pintu besi ini sengaja dipasang untuk mencegah pencurian patung-patung oleh para pengunjung. Pembuatan pekuburan batu ini cukup rumit dan mahal. Tak heran bila biaya terbesar yang mesti dikeluarkan masyarakat Toraja adalah saat kematian. Bisa dibayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk menyiapkan kubur batu, puluhan ekor kerbau, dan babi untuk kurban.

Komentar
  1. Step mengatakan:

    Terima kasih sharing pengalaman berkunjung ke Toraja

    semoga masih tertarik untuk kembali lain waktu.

    wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s