Merdeka dan Mandiri

Posted: 05UTC51 10,2011 in jadul

Sudah berapa lama kita sudah merasakan apa arti merdeka? 

Apakah arti kemerdekaan yang sesungguhnya? tanyakanlah pada sejumlah pengemis atau pengamen yang setiap hari berkeliaran di sekitar kita. Apakah makna kemerdekaan itu sudah menyentuh mereka? Apakah kemerdekaan itu sama dengan merampas hak orang lain melalui tindak korupsi? Apakah sama dengan maraknya pelacuran dan perjudian? Apakah identik dengan semakin menumpuknya utang negara? Ataukah sama dengan jeritan rakyat yang kelaparan di saat Indonesia disebut sebagai negara yang subur makmur gemah ripah loh jinawi?

Saat Soekarno dan Hatta memproklamasikan Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan 63 tahun yang lalu, banyak harapan agar bangsa ini menjadi besar dan bermartabat. Sayangnya, harapan tersebut tak kunjung datang. Memang, bangsa ini sudah merdeka dari bangsa asing, tetapi bentuk penjajahan lainnya terus mengalir. Lihatlah, bagaimana Indonesia masih dijajah dalam bidang ekonomi. Intervensi dari berbagai lembaga dan negara asing seolah tak ada hentinya.

Intervensi yang berlebihan itu membuat Indonesia semakin terpuruk. Alih-alih memberikan solusi dari permasalahan ekonomi yang seperti tiada ujungnya, bangsa ini semakin terjerat utang. ”Persoalan ini tak henti-hentinya. Semakin lama, kita semakin terjebak dalam utang itu,” ujar pengamat ekonomi, Imam Sugema.
Ia juga menyoroti ketidakmampuan pemerintah dalam menangani masalah ekonomi. Padahal, menurut Imam, negara kita cukup kaya sumber daya alamnya. Tak hanya itu, persoalan pangan yang menjadi kebutuhan sehari-hari semakin lama semakin berkurang. ”Negara kita adalah negara agraris, tapi ironisnya untuk urusan pangan, kita harus mengimpor dari negara lain,” ujarnya.

Tak hanya itu, kebanggaan atas produksi barang-barang bangsa sendiri juga sudah mulai luntur. Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik, kita dijejali oleh barang-barang luar yang membuat masyarakat kita semakin terbius untuk menjadi mental konsumen. Mental inilah yang membuat kita semakin malas berusaha dan berkreasi. Parahnya lagi, akan berubah menjadi mental peniru. Lalu, bagaimana dengan penjajahan bentuk pemikiran? Semakin lama, identitas bangsa ini semakin hilang. Tak ada lagi rasa toleransi, kebersamaan, gotong royong, dan ramah tamah. Yang ada adalah rasa individualisme dengan mengedepankan budaya free sex, narkoba, dan  konsumtif. Media-media begitu bebas mengumbar aurat. Film, kartun, komik, pergaulan, majalah, atau internet menjadi sarana untuk menginvasi budaya dan perikehidupan di Indonesia.

Sebagai bangsa yang mengklaim bahwa kemerdekaan direbut dengan susah payah, perjalanan bangsa ini pasang surut tak ada hentinya. Di awal kemerdekaan, para pendiri bangsa ini sudah disibukkan dengan isu  mempersatukan berbagai kepentingan untuk tetap menjadi satu bangsa Indonesia. Tak hanya itu, persoalan-persoalan politik yang muncul  membuat para pemimpin melupakan perjuangan kemerdekaan yang diharapkan bangsa ini. Dikotomi antara kelompok Islam dan nasionalis terus meruncing.

Kelompok nasionalis mengklaim bahwa merekalah yang berjasa memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Pengamat politik, Alfan Alfian, menilai bahwa perjuangan umat Islam memberikan kontribusi terbesar dalam memperjuangan kemerdekaan, termasuk di awal-awal sesudah kemerdekaan. ”Umat Islam dengan rasa toleransi yang tinggi mengubah Piagam Jakarta sehingga semua kalangan terakomodasi,” katanya.

Masalah militer juga menjadi persoalan tersendiri. Sejumlah kalangan meragukan peran militer dalam merebut kemerdekaan. Namun, pengamat militer, Andi Wijayanto, menilai bahwa kontribusi militer dalam kemerdekaan cukup relevan. Meski harus diakuinya, tak seperti bangsa-bangsa lain yang benar-benar memperjuangkan kemerdekaan dengan perjuangan bersenjata. ”Apakah benar dengan bambu runcing, bangsa kita merebut kemerdekaan,” papar Andi.

Yang terjadi, militer kemudian masuk dalam politik praktis. Dan, ini semakin puncaknya ketika kekuasaan Soekarno beralih ke Soeharto. ”Di saat Soeharto-lah peran militer menjadi besar, apalagi militer digunakan untuk mempertahankan kestabilan bangsa,” ujarnya.Di saat Soeharto, militer di Indonesia cukup disegani oleh negara-negara lain. Namun, selepas Soeharto berkuasa, peran militer satu demi satu dilucuti. Saat ini, meski presidennya berasal dari militer, kekuatan militer bangsa ini tak dianggap sama sekali oleh bangsa lain.  Di era pemerintahan Soeharto, makna kemerdekaan semakin memudar. Pelanggaran HAM terhadap sejumlah masyarakat, dengan dalih pembangunan, juga menelan banyak korban. Apalagi, konsep kemasyarakatan feodal dan paternalistik yang diwariskan sebelum masa kemerdekaan semakin membelenggu masyarakat biasa. Hal ini diperparah dengan perangkat roda pemerintahan dan hukum yang masih mengacu dengan sistem roda pemerintahan kolonial. Akibatnya, rakyat Indonesia belum sepenuhnya menikmati arti kemerdekaan.

Di masa Soekarno, makna kemerdekaan adalah lepas dari penjajahan bangsa asing. Di masa Soeharto, kemerdekaan diartikan dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Sayangnya, tak semua rakyat menikmati pertumbuhan ekonomi tersebut. Apalagi, maraknya praktik-praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme membuat bangsa ini terjerumus dalam kebangkrutan. ”Masalah penanganan korupsi adalah masalah klasik yang terus dihadapi bangsa ini,” ujar Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW), Teten Masduki.

Menurut Teten, penanganan korupsi sudah lama dilakukan, baik di masa Soekarno maupun Soeharto. Namun, karena tak tuntas, korupsi kemudian menjadi budaya yang sulit sekali diberantas. Untungnya, menurut Teten, saat ini pemerintah cukup serius menangani korupsi. Terbukti dengan pembentukan lembaga-lembaga pengawas korupsi, baik oleh pemerintah maupun lembaga legislatif, yaitu DPR. Keberhasilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam membongkar sejumlah kasus di antaranya dengan mengusut sejumlah pejabat, baik eksekutif maupun legislatif, menjadi kemajuan dalam penanganan korupsi. ”Meskipun masih terkesan tebang pilih,” paparnya.
Dua kekuasaan antara Soekarno dan Soeharto ternyata tak memberikan makna kemerdekaan bagi bangsa ini. Rakyat masih menjadi obyek dari penguasa yang mengatasnamakan kepentingan rakyat.

Di masa Reformasi, rakyat masih juga bingung dengan arti dan makna kemerdekaan. Perubahan yang diharapkan ternyata tak sesuai dengan kenyataan. Meski masyarakat semakin bebas untuk mengeluarkan pendapat, hak-hak manusia semakin dihargai, hukum ditegakan; sayangnya masalah keadilan belum dirasakan sepenuhnya oleh bangsa ini.Perubahan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto hingga gelegar reformasi malah membuat wajah bangsa Indonesia ini semakin kusut. Masyarakat semakin menuntut keadilan dan kemerdekaan yang hakiki karena lama kelamaan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara ini semakin hancur. Merebaknya kemiskinan atau pendidikan yang mahal, membuat bangsa Indonesia semakin terbelakang. Masyarakat pun mulai merindukan, kapan Indonesia bisa hidup normal layaknya sebuah bangsa.

Komentar
  1. Winarto mengatakan:

    Masyarakat pun mulai merindukan, kapan Indonesia bisa hidup normal layaknya sebuah bangsa

    Seperti apakah hidup normal itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s