Wisata di Bangka

Posted: 05UTC01 10,2011 in caring (catatan garing), lalampah

Menjual Pantai Tenang dan Pasir Putih

 Semilir angin membelai sekujur tubuh. Buih air laut saling bekejar-kejaran menyapu pasir. Sejauh mata memandang, alunan ombak terhempar karang sangat sedap terlihat. Hawa panas yang terik tak terasa karena angin pantai yang sayup sayup meniup tubuh cukup menyegarkan. Welcome to paradise in Pantai Parai Tenggiri, Pulau Bangka.

***

Sejak menginjakan kaki di bandara Depati Amir, Pangkal Pinang di Pulau Bangka, yang terekam dalam benak saya adalah pemandangan film Laskar Pelangi yang saya tonton. Nyiur pohon kelapa terhampar di kiri kanan jalan, menandakan bahwa daerah ini dekat sekali dengan pantai. Pulau yang terletak di pesisir Timur Sumatera Bagian Selatan ini berada memanjang dari Barat Laut ke Tenggara. Pulau ini terdiri dari rawa-rawa, daratan rendah dan perbukitan di mana terdapat hutan lebat, sedangkan pada daerah rawa terdapat hutan bakau. Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah propinsi di timur pulau Sumatra yang dulu merupakan bagian dari propinsi Sumatera Selatan. Luas wilayah propinsi ini adalah 81.724,74 km². Propinsi Bangka Belitung didiami oleh 1.000.177 jiwa dan mayoritas penduduk adalah suku melayu. Bangsa Tionghoa menempati posisi kedua etnis terbesar sebanyak 30 %.

Sebagai kawasan yang berkembang, kebersihan di Pangkal Pinang, ibu kota Provinsi Bangka Belitung layak diacungi jempol. Jalan-jalan beraspal hotmix, membuat nyaman kendaraan yang saya tumpangi. Namun sayangnya, pemandangan yang cukup enak dipandang ini sesekali rusak, manakala di beberapa kawasan terdapat bekas penambangan timah

Bagi saya, Bangka menyimpan rasa eksotisme tersendiri. Bayangan film Laskar Pelangi, gadis cantik seperti model Sandra Dewi, dan makanan seafood yang bertebaran. membuat saya tertarik mendatangi pulau ini. Meski, sempat kaget dengan banyaknya bekas penambangan timah yang berserakan di sisi-sisi jalan, tak mengurangi keindahan Pulau Bangka. Malah, saya berpikir, bukan tidak mungkin pulau ini menjadi alternatif wisata para wisatawan asing yang masih menganggap Bali sebagai kawasan utama untuk dikunjungi jika mereka ke Indonesia. Apalagi, meski sebuah pulau kecil, Pulau Bangka menawarkan wisata alam yang lumayan komplit. Sebagai propinsi kepulauan, Pulau Bangka memiliki potensi besar dalam bidang wisata bahari. Hampir semua pantai di Kepulauan ini merupakan pantai santai yang berpasir putih dengan ombak yang sangat tenang. Pantai-pantai yang sangat landai tersebut masih sangat bersih dan alami. Apalagi tingkat polusi tanah dan air yang belum terlalu besar di lingkungan pesisir. Bila anda berkeinginan datang, bisa menggunakan angkutan udara, laut dan darat. Dengan menggunakan pesawat udara, kapal laut atau perahu cepat juga bis via Palembang. Ongkosnya pun tak terlalu mahal, tak heran Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka dan Pemerintah Kabupaten Bangka merencanakan akan menjadikan kawasan ini sebagai lokasi //weekend// alternatif selain Puncak Pass Bogor dan Bali. Hal ini dikarenakan, jarak yang tak terlalu jauh jika menggunakan pesawat udara dari Jakarta. Hanya 50 menit. Waktu tempuh itu, sama dengan perjalanan Jakarta-Puncak yang jika di akhir pekan bisa ditempuh dengan waktu 2-3 jam.

***

Mengingat Pulau Bangka seolah tak bisa dipisahkan dari kata Timah. Nama Bangka sendiri menurut sejumlah peneliti berasal dari bahasa sansakerta yaitu ‘Vanka’ yang artinya adalah timah. Sepanjang jalan dari bandara ke kota Pangkal Pinang termasuk ke sejumlah tempat wisata, banyak sekali pemandangan bekas penambangan timah atau oleh orang-orang disebut dengan nama Kolong. Di atas pesawat sebelum mendarat, saya sempat memperhatikan di atas pesawat, banyak sekali bopeng-bopeng bertebaran. Rupanya bopeng-bopeng ini adalah bekas penambangan timah yang sengaja dibiarkan oleh masyarakat.”Warga di sini memang sengaja membiarkan kolong-kolong itu, tapi kami mencoba mendayagunakan kolong-kolong ini supaya bisa berguna untuk masyarakat,” ujar Bupati Kabupaten Bangka Yusroni Yazid.

Namun sepertinya Pemerintah Kabupaten Bangka seolah membiarkan kolong-kolong tersebut. Padahal, Pulau Bangka yang sudah carut-marut, penuh bopeng bekas penambangan PT Timah semakin parah karena kegiatan penambangan timah seolah muncul di mana-mana, di ladang, lembah-lembah sungai, sampai halaman rumah. Tak hanya itu, di lepas pantai pun, ketika mata memandang, beberapa warga terlihat asyik menambang timah. Duh merusak pemandangan saja.”Kami berpikir lebih baik mati besok daripada mati sekarang. Kami tak mau merusak ekonomi rakyat,” ujar wakil bupati Kabupaten Bangka, Nurhidayat Rani, ketika ditanya kenapa tak ada solusi untuk melestarikan lingkungan.

***

Sayang memang, pemandangan indah tak ditunjang oleh kesiapan pemerintah daerah untuk mengelola pariwisata di kawasan ini. Padahal, rencananya 2009 mendatang, Pulau Bangka Belitung menyiapkan program tahun kunjungan wisata. Infrastruktur di sejumlah kawasan wisata kurang sekali. Meski jalanan cukup bagus, namun transportasi masih jarang di kawasan ini. Tak hanya itu, informasi keberadaan tempat wisata juga nyaris tak ada. ”Ini yang sedang kami benahi, memang masih banyak kekurangan, mudah-mudahan ke depan kami bisa lebih baik lagi,” kata Kepala Dinas Pariwisata Ahmad Rizal.

Pembenahan itu, menurut versi pemerintah perlahan-lahan sedang dilakukan. ”Harus banyak koordinasi antara instansi, itu yang sedang kami lakukan,” papar Rizal.

Ia mengakui, stigma Pulau Bangka penuh dengan bopeng-bopeng akibat penambangan timah masih cukup kuat di kalangan masyarakat di luar Bangka. ”Tapi bisa Anda saksikan sendiri, sebenarnya tak seperti itu, pulau ini banyak menyimpan keindahan yang bisa dinikmati oleh wisatawan,” paparnya.

Harus diakui keindahan pantai di pulau ini memang seolah tak ada habis-habisnya. Di kawasan Sungailiat misalnya. Di ibu kota Kabupaten Bangka yang berjarak tidak sampai 1 jam perjalanan dengan mobil dari Pangkalpinang bertebaran pantai-pantai yang cukup indah. Sungailiat merupakan salah satu kota terbersih di Indonesia, terbukti dengan telah dua kali meraih penghargaan Adipura pada 1997 dan 2005. Di Sungailiat terdapat Pantai Tanjung Pesona yang berjarak sekitar 9 km dari kota Sungailiat. Pantai ini berada di tengah tempat antara Pantai Teluk Uber dan Pantai Tikus. Harus diakui pantai ini mempunyai panorama laut lepas, di atas tanjung dengan bebatuan yang besar. Uniknya, batu-batu ini membentuk seperti benteng yang menjaga pantai ini dari serbuan laut. Tak hanya itu, pantai ini juga masuk dalam lokasi hotel dengan fasilitas bintang tiga. Panorama yang disediakan oleh hotel ini menambah kenyamanan wisatawan yang datang ke sini. Selain itu tersedia fasilitas berupa Cottages, Restaurant, Karaoke, Diskotik, Biliar, Permainan Anak-Anak, dan parkir yang cukup luas karena sering diadakan show untuk menghibur para wisatawan. Namun sayangnya, pelayanan di hotel tak sebagus pemandangan yang ditawarkan. Di beberapa tempat, sampah-sampah bertebaran tak dibersihkan. Tak hanya itu, pelayanan hotel juga seperti pelayanan hotel kelas melati, terkesan semau-maunya, cuek dan tak menghormati tamu.

Untungnya, pemandangan di kawasan ini mampu menghibur kekecewaan. Beberapa kali saya terkagum-kagum melihat panorama pantai baik di saat matahari terbit maupun matahari terbenam.

***

Obyek wisata lainnya yang saya kunjungi adalah Air Panas Pemali (Tirta Tapta) yang merupakan aset wisata unggulan di samping wisata pantai. Lokasi wisata ini terletak di Desa Pemali, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka, yang jaraknya kurang lebih 20 km dari Kota Sungailiat. Tempat ini adalah pusat rekreasi anak-anak dengan banyak permainan. Yang menarik, lokasi ini dibangun di atas kolong (bekas penambangan timah). Di sini terdapat kolam renang air panas yang berasal dari sumber air panas alamiah. Panasnya sampai 40 derajat celcius . Air panas tersebut berasal dari tanah aktif yang mengeluarkan belerang dan sangat cocok bagi wisatawan yang datang untuk kesehatan atau menghilangkan pegal-pegal dengan cara berendam di kolam yang telah disediakan. Cukup menyenangkan, apalagi tiket masuk tak terlalu mahal, sekitar Rp 15.000. ”Mungkin ini cocok untuk wisatawan lokal, kalau untuk wisatawan dari Jawa atau dari luar, wisata seperti ini sudah biasa,” tutur Paulus Supriyanto, staf Dinas Pariwisata.

Namun Paulus menjamin ada kelebihan di lokasi wisata ini dibandingkan di tempat lain. ”Pemandangannya yang bagus,” katanya.

Tak hanya itu, sebelum melewati obyek wisata ini, terdapat suatu lahan kosong yang rencananya akan dibangun resort seperti Kampung Sampireun di Garut Jawa Barat. ”Kita sudah mengirimkan orang ke Garut untuk studi banding, mudah-mudahan tahun depan, proyek ini sudah selesai,” papar Paulus.

Keindahan alam di lokasi yang rencananya akan dibangun resort ini memang cukup menyegarkan mata. Apalagi di kawasan ini, matahari tak terlalu terik memanggang. Hembusan angin yang meniup di sela-sela pohon membuat mata menjadi mengantuk. Apalagi suasananya hening, jauh darimana-mana. Sesekali terdengar kicau burung dan riak-riak air sungai ditimpali dengan orkestra musik yang keluar dari batang-batang pohon.

***

Selain jajaran pantai yang indah, di daerah Bangka ini juga menawarkan berbagai pilihan wisata yang lain, salah satunya kebudayaan komunitas Tionghoa. Sebagai etnis terbanyak kedua, kebudayaan Tionghoa menjadi salah satu identitas di kawasan ini. Orang Tionghoa yang tinggal di Kepulauan Bangka Belitung umumnya berasal dari etnis Khek dan Hokian. Mereka mulai tinggal di tanah Bangka dan Belitung sejak abad 18. Banyak penduduknya yang masih punya keterkaitan sejarah dengan negara Cina. Tak heran, pemerintah daerah berupaya melestarikan tradisi turun temurun etnis Tionghoa di Bangka. Unsur tradisi yang dikembangkan dengan tujuan memajukan pariwisata daerah adalah Festival Imlek, Perayaan Pe Chun, Ritua Sembahyang Kubur, Barongsai dan Liong. Salah satu tujuan wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan keturunan Tionghoa adalah Goa Maria Belinyu. Bagi orang Katolik, berziarah ke goa ini adalah salah satu kegiatan rohani. Goa ini dibangun dari goa alamiah dan cukup besar. Dari obyek wisata ini, saya mengunjungi Desa Gedong. Desa ini terletak di wilayah Lumut Kecamatan Belinyu. Desa Gedong adalah kampung Cina tertua di Pulau Bangka yang kini ditetapkan sebagai desa wisata. Warganya adalah generasi penambang terakhir di Bangka. Di sini masih banyak ditemukan rumah-rumah tua ala Tiongkok. Di kampung ini, tinggal sekitar 50 kepala keluarga dari generasi pertama etnis Tionghoa. Kehidupan penduduk perkampungan Cina tersebut rata-rata berdagang dan pembuat makanan khas Bangka seperti kerupuk, kemplang, getas. Di beberapa rumah, saya mencoba masuk dan melihat proses produksi pembuatan makanan khas tersebut.

Namun sayangnya, lagi-lagi pemerintah daerah tak mengurus kawasan ini sehingga tak layak disebut sebagai obyek wisata. Meski jalanan ke lokasi ini sudah diaspal cukup bagus, namun tak ada yang bisa dinikmati di kawasan ini. Padahal, Desa Gedong termasuk salah satu yang nantinya akan diandalkan sebagai tempat tujuan wisata. Menurut Kepala Dinas Kabupaten Bangka, Ahmad Rizal, persoalan utama kenapa pemerintah belum mengelola kawasan ini karena persoalan kultur dan budaya warga desa ini. Rata-rata warga desa ini antipati terhadap wisatawan. Warga pun sepertinya tak mau lokasi desanya dijadikan sebagai obyek wisata. Sehingga rumah-rumah tua yang masih berdiri ratusan tahun itu dibiarkan apa adanya.”Mungkin harus perlahan-lahan, kami sudah mencoba merangkul mereka,” katanya.

***

Dari sekian banyak obyek wisata yang saya kunjungi di Pulau Bangka ini, mungkin Pantai Parai Tengiri yang paling terkenal karena sudah dikelola oleh perusahaan El John Indonesia. Rata-rata, wisatawan dari Jakarta, jika mengunjungi Pulau Bangka pasti menginap di Parai Resort. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga juga pernah berlibur di kawasan ini. Pantai Parai ini memang adalah paling siap untuk menjadi obyek wisata dibandingkan kawasan pantai lainnya yang ada di Pulau Bangka. Pantainya menghadap perairan tenang Teluk Bangka. Tak hanya itu, pantai ini dilengkapi berbagai fasilitas, antara lain hotel berbintang, restoran, banana boating, parasailing. Dibandingkan Bali, tarif hotel Parai ini tak terlalu mahal. Menurut seorang pegawai hal ini dikarenakan lokasi ini belum disentuh oleh wisatawan mancanegara. ”Entahlah nanti kalau banyak wisatawan asing datang kesini, mungkin tarifnya bisa berlipat-lipat,” ujar pegawai tersebut. Pantai ini juga menawarkan ketenangan bagi orang-orang yang ingin tetirah atau istirahat dari sumpeknya kota besar. Saya beberapa kali bertemu dengan rombongan wisatawan lokal yang usianya sudah tua sedang berjalan-jalan di pinggir pantai. Kabarnya juga, kawasan ini menjadi favorit bagi para pengantin baru. n one

Komentar
  1. razaan mengatakan:

    bangka…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s