Menjaga Warisan Bangsa Ini

Posted: 05UTC47 10,2011 in jadul

Tuhan pasti sedang tersenyum ketika menciptakan nusantara. Lokasi negeri ini di tengah-tengah pergerakan lempeng-lempeng tektonik aktif membuat berbagai kekayaan perut bumi tersedia dengan melimpah. Tuhan juga menempatkan nusantara pada posisi yang membuatnya menjadi tempat pertemuan berbagai budaya dunia yang jauh lebih maju daripada penghuni asli wilayah ini. Agama Hindu dan Buddha dari India dan Cina serta Islam dari Arabia ikut membentuk peradaban, menumbuhkan berbagai kerajaan. Bila anak cucu bertanya tentang nenek moyangnya, kita bisa menunjuk ratusan candi yang tersebar, batuan megalitik yang terpendam, serta fosil-fosil yang siap membuka gerbang waktu. Tapi, sampai kapan kita bisa melayani pertanyaan seperti itu? Pekan lalu terbetik kabar hilangnya arca Buddha peninggalan Kerajaan Sriwijaya abad IX yang tersimpan di ruang pameran Museum Balaputra Dewa, Palembang, Sumatra Selatan. Pencurian arca dari museum di Indonesia bukan hal baru. Akhir 2007 lalu, Museum Radyapustaka Solo kehilangan lima arca batu. Pencurian melibatkan kepala museum dan beberapa staf serta seorang kolektor dari luar negeri. Itu adalah benda yang berada di museum yang mendapat penjagaan ketat. Bagaimana nasib benda-benda bersejarah yang masih berceceran di berbagai wilayah, bahkan di tempat-tempat terpencil? Kerap kali kita mendengar upaya penyelundupan fosil-fosil dari Sangiran atau bahkan sekadar tengkorak manusia suku terpencil yang hidup ratusan tahun lalu. Jangankan mendapatkan penjagaan, belum semua benda cagar budaya yang telah dicatat mendapatkan kajian mengenai nilai dan fungsinya. Tim Peneliti Arkeologi Bandung, Endang Widiastuti, mengatakan, masalah klasik dana menjadi hambatan utama dalam melakukan inventarisasi dan penelitian benda-benda purbakala yang jumlahnya sangat banyak. Jawa Barat sangat kaya dengan peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Namun, dari berbagai situs yang ada, hingga kini belum bisa ditentukan di mana pusat kerajaan tertua itu, apakah di Bogor atau Karawang. Di Kabupaten Bogor sendiri terdapat 36 situs Tarumanegara, namun yang sudah diteliti baru 13. Ketika kasus pengambilan batu kali besar seberat 58 ton yang berbentuk kura-kura di wilayah Bogor untuk dijual ke Korea Selatan akhir September 2008 lalu, timbul kontroversi apakah batu yang kemudian dikenal dengan nama Batu Kuya itu merupakan benda cagar budaya atau hanya batu alam. Tentu kontroversi ini tak akan mencuat dan berkepanjangan bila saja sudah ada kajian sebelumnya. Menurut Endang, peran aktif dinas pariwisata dan kebudayaan di tiap kabupaten sangat diperlukan untuk melakukan inventarisasi benda-benda yang diduga sebagai cagar budaya. Dulu ada penilik kebudayaan yang berada di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan ditempatkan di setiap kecamatan. ”Penilik kebudayaan ini yang aktif melakukan pendataan setiap benda cagar budaya. Kini, posisi penilik sudah tidak ada,” kata Endang. Kasus Batu Kuya setidaknya menyadarkan kita bahwa tak hanya batu cagar budaya yang diincar kolektor luar negeri. Batu-batu bentukan alam yang unik banyak tersedia di negeri ini berkat banyaknya gunung api, sungai deras, dan juga gerakan tektonik yang melimpah. Mereka mempunyai nilai jual yang tak kalah dari batu yang dipahat oleh peradaban masa lalu. Namun, pengambilan benda purbakala atau benda cagar budaya dari Indonesia memang sudah terjadi sejak Belanda datang 400 tahun lampau. Atas nama ilmu pengetahuan dan keberadaban Barat, berbagai artefak dan naskah kuno nusantara dibawa ke negeri Belanda. Filosofinya mirip dengan kisah petualangan arkeolog jagoan Dr Henry Walton Jones Jr dalam film fiksi Indiana Jones yang selalu berusaha menyelamatkan benda purbakala. ”It’s belongs to the museum,” teriak Dr Jones ketika merebut artefak kuno dari tangan sang pencuri di sebuah situs terpencil, adegan tipikal dalam setiap film Indiana Jones. Namun, museum yang dimaksud Dr Jones selalu terletak di sebuah Universitas di Amerika Serikat tempatnya mengajar, bukan di negeri asal benda purbakala itu. Tak heran banyak artefak Mesir kuno yang dipajang di museum Inggris. Jadilah banyak peneliti Indonesia yang harus datang ke negeri Belanda untuk meneliti sejarah nusantara sendiri. Basyral Hamidy Harahap, sejarawan dari Universitas Indonesia, harus ke Belanda untuk mencari naskah-naskah kuno sejarah Mandailing di masa Perang Padri pada pertengahan abad ke-19. Ini semua dilakukan guna menjawab dan mengoreksi buku kontroversial ‘Tuanku Rao’ hasil karya Mangaraja Onggang Parlindungan yang mendasarkan diri pada naskah-naskah kuno peninggalan ayahnya yang kemudian dia bakar. Arkeolog Universitas Indonesia, Dr Ali Akbar, mengatakan, tidak adanya perlindungan status hukum atas benda cagar budaya juga membuat pengiriman artefak ke luar negeri bisa berjalan mulus. Tak heran benda cagar budaya Indonesia banyak dipajang di Malaysia yang budayanya masih serumpun. Bukan penemu atau pemilik pertama yang bakal dikenal, namun siapa yang lebih bisa menjaganya. Itu juga terjadi pada beberapa hasil budaya Indonesia yang dilestarikan di negeri Jiran. Banyak akademisi Belanda yang terkenal dengan karyanya mengenai sejarah Indonesia karena akses mudah ke perpustakaan Universitas Leiden yang banyak menyimpan naskah kuno Indonesia. Dua antropolog Australia mendapat nama atas temuan fosil manusia Flores di Goa Liang Bua karena menulisnya di jurnal Nature edisi 29 Oktober 2004 walau hasilnya salah kaprah. Padahal, ahli Indonesia yang menemukan dan puluhan tahun menelitinya. Siapa tahu Batu Kuya nanti menjadi ikon sebuah kuil di Korea Selatan yang menabalkannya sebagai patung dewa Black Turtle-Snake (Hyeon Mu) sang penguasa utara dan penjaga hujan, salah satu hewan keramat di samping Blue Dragon (Cheong-Ryong), White Tiger (Baek-Ho), dan Dark Phoenix atau disebut juga Crimson Sparrow (Jujak). one

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s