Tengang Rasa

Posted: 05UTC58 10,2011 in caring (catatan garing)

Suatu malam, ketika datang waktu Isya’, Ahmad (bukan nama sebenarnya) asyik bercengkerama dengan teman beda agama (katakan Joni, nama samaran). Teman-teman Ahmad yang beragama Islam sudah berangkat untuk menunaikan shalat berjamaah, sementara Ahmad sengaja tidak berangkat karena alasan menenggang temannya yang tidak shalat karena bukan seorang muslim. Melihat Ahmad yang tidak berangkat shalat, Joni terheran-heran dengan sikap Ahmad, kenapa tidak shalat. Joni bahkan menyuruhnya pergi shalat dan meninggalkan dirinya sendirian. Dalam kisah lain, Rifa’i (bukan nama asli), seorang direktur sebuah perusahaan asing ternama di Jakarta pergi keluar kota untuk sebuah urusan penting dari perusahaan. Rifa’i pergi mendampingi direktur utama perusahaan itu, Hendrik, yang sengaja datang ke Indonesia untuk melihat dari dekat aktifitas perusahaan. Ketika melintasi sebuah masjid, Rifa’i minta izin kepada atasannya agar berhenti. Hendrik heran, ada apa berhenti di tengah perjalanan. Rifa’i menjelaskan bahwa sebagai seorang muslim, dia harus menunaikan shalat Ashar. Kini telah tiba waktu Ashar, maka dirinya harus shalat. Hendrik yang bukan seorang muslim itu bisa memahami, menyuruh sopir masuk ke halaman masjid, mempersilahkan Rifa’i dan sopir masuk masjid. Hendrik di dalam mobil menunggu sampai mereka selesai melaksanakan shalat Ashar. Fenomena di masyarakat dapat disaksikan, betapa banyak orang Islam kehilangan identitas keislamannya. Demi pergaulan, shalat ditinggalkan. Karena pertemanan, identitas Islam dilepas. Karena alasan tenggang rasa dan toleransi, status mereka sebagai muslim kabur. Padahal, bila seorang muslim sanggup menunjukkan identitasnya, teman-temannya akan memahami, menghargai, dan menghormati. Sebaliknya, bila tidak jelas identitasnya, mereka akan merendahkan, menghinakan, dan meninggalkannya. Dalam rangka identitas Islam itu, dulu, pada zaman penjajahan, ada ulama yang mengharamkan seorang muslim memakai dasi dan celana. Hal itu dapat dipahami sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan, sebab penjajahan yang dilakukan ternyata tidak saja penjajahan ekonomi, tetapi merembet kepada penjajahan jati diri, budaya, tradisi, sosial, politik, dan agama. Buya Hamka mensinyalir bahwa pada masa penjajahan, banyak sekali kaum muslimin, termasuk kaum terpelajarnya, sudah tidak lagi berkiblat ke Makkah, tapi sudah berkiblat ke Belanda. Identitas Islam sudah hilang dari mereka, yang tersisa hanya membaca syahadat ketika mau menikah dan upacara akhir saat kematian. Mereka sudah tidak mengenal lagi ajaran Islam. Penghapusan identitas itu sengaja dilakukan kaum penjajah, sesuai dengan nasehat Snock Horgronje kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, agar menjadikan orang-orang Hindia Belanda (Indonesia) sebagai bangsa Belanda di Timur. Kulitnya sawo matang, rambutnya hitam, hidungnya pesek, tapi perilakunya lebih Belanda dari orang Belanda. Di era global, dimana budaya yang kuat selalu mendominasi dan menjajah budaya yang lemah, sering kali kita kehilangan identitas itu. Identitas Islam tercerabut dari kepribadian seorang muslim. Padahal dari dulu, Rasulullah Saw. telah mengingatkan agar kita tidak kehilangan identitas: “man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum (barangsiapa yang berperilaku seperti kaum tertentu, maka dia termasuk dalam golongan mereka). Budaya Barat yang mendera bangsa kita, tidak harus ditelan mentah-mentah, seakan kita telah berkiblat ke Barat. Kita harus mempu bertahan menangkis gempuran peradaban dan dan kebudayaan Barat dengan tetap menampilkan identitas Islam. Kita mesti mampu menampilkan identitas Islam dalam aktifitas ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Ekonomi liberal harus dihentikan, politik kotor Machiavelli yang menghalalkan segala cara harus ditumpas, gerakan sosial individualisme dan sosialisme harus disingkirkan, dan budaya hedonisme permissifisme (serba boleh) harus ditolak. Menampilkan identitas Islam bukan fanatisme atau intoleransi. Menerapkan perilaku hidup islami menjadi sebuah keharusan. Upaya menerapkan ajaran Islam secara kaffah (totalitas) adalah cita-cita luhur setiap muslim. Umat Islam tidak akan pernah menjadi khair ummah (umat terbaik, Q.S. Ali Imran/3: 110) manakala mereka tidak diketahui identitasnya. Hanya dengan identitas itu mereka dikenal, diketahui, dianut, bahkan dijadikan sebagai pemimpin peradaban sebagaimana yang pernah terjadi pada masa keemasan Islam (the golden era of Islam).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s