Teror Sophisticated

Posted: 05UTC39 10,2011 in caring (catatan garing)

Teror bom kembali terjadi. Sebuah bom low explosive atau berdaya ledak rendah meledak saat warga tengah menjalankan ibadah shalat Jum’at di Masjid At-Taqwa di lingkungan Mapolresta Cirebon, Jawa Barat. Seorang warga dilaporkan tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Diduga, warga yang tewas itu sebagai pelaku yang ikut dalam jamaah shalat Jumat di masjid tersebut.
Berbagai motif disebar oleh berbagai kalangan. Ada yang menduga bahwa ledakan bom ini dikarenakan dendam kepada polisi, dan ada lagi yang menduga peledakan ini sebagai sebuah rentetan kejadian teror yang terus menerus menimpa bangsa
ini. Dilihat dari kejadiannya, peledakan bom di masjid ini baru pertama kali terjadi di Indonesia. Pelaku sengaja menunggu lengahnya orang-orang yang sedang ‘khusu’ beribadah. Dan tak ada yang menyangka kejadiannya terjadi di sebuah masjid,
dekat kantor polisi. Nah, persoalannya sekarang, apakah benar bahwa peledakan yang terjadi ini adalah aksi bom bunuh diri? Apakah benar motifnya seperti yang dilansir Polri karena ada unsur dendam?

Sudah saatnya kita membuka pemikiran kita dan mampu memahami jalinan konteks dan kemungkinan motivasi yang menyelubungi setiap peristiwa terorisme di Indonesia. Karena bagaimanapun Indonesia bukanlah sarang teroris.  Indonesia bukan
Afganistan, dan bukan negara-negara yang pemerintahannya melakukan aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas. Tak ada yang perlu diperangi di Indonesia.

Namun dengan berbagai aksi teror yang terjadi belakangan ini, layakkah Indonesia disebut sebagai sarang teroris? Bukan hanya sarang tetapi juga tempat pelatihan para teroris. Ancaman itu kini  berada disekitar kita, tidak tampak tapi menakutkan. Malah terkesan, aksi teror yang sudah terorganisasi ini lebih sophisticated.  Peledakan bom ini seolah menjadi ancaman yang amat serius terhadap kedamaian di negeri yang kita cintai ini.  Dulu ketika bom Bali terjadi, stigma bahwa Indonesia adalah negeri aman dan tentram pupus sudah. Kemudian disusul dengan rentetan kejadian bom. Korban berjatuhan yang justru adalah orang Indonesia sendiri. Dengan sejumlah kasus yang terjadi belakangan ini, mulai dari kasus bom buku hingga peledakan bom di masjid Mapolres Cirebon seolah memperlihatkan, ada yang tidak beres dalam sistem pengamanan dan pencegahan teror. Sudah saatnya aparat keamanan khususnya polisi benar-benar mengoptimalkan kinerja intelijennya. Sudah cukup lelah rasanya melihat nyanyian Briptu Norman yang terus menerus diekspos. Kita memimpikan polisi yang berhasil karena prestasinya mengamankan bangsa ini dari aksi teror dan bukan karena pintar menyanyi ataupun menari. Aksi peledakan bom ini seolah menjadi ‘wake up call’ bagi polisi dari tidur sesaat karena euphoria Briptu Norman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s