Sama sama Sunda

Posted: 05UTC40 10,2011 in Jurnal Haji

January 20th, 2007 by mirone


Ini mungkin trik bagi para jamaah haji asal Indonesia yang dikenal sebagai pebelanja nomer wahid di Tanah Suci. Beberapa kali saya perhatikan di Makkah dan Madinah, jamaah asal Indonesia selain jago menawar, juga dikenal royal mengobral riyal.

Walaupun harganya mahal, para jamaah khususnya wanita seolah tak tahan menggelontorkan uang di dompetnya untuk membeli barang-barang. Mereka seolah tak sayang sudah melakukan debat kusir berpanjang-panjang untuk menawar barang. ”Itulah seninya belanja,” tutur seorang jamaah wanita ketika ditanya alasan membeli barang padahal debat tawar menawarnya cukup panjang dan si penjual tetap tak bergeming.

Saya pun iseng memperhatikan bagaimana transaksi jual beli itu. Ternyata lama kelamaan, ada yang menarik menyangkut soal harga barang yang ditawarkan. Rupanya, para penjual dan pedagang ini biasanya mematok barang lebih mahal kepada orang Indonesia. Sebaliknya, jika para pembeli bukan dari Indonesia, harga bisa lebih murah dan malah setengah harga dari yang ditawarkan.

Salah satu contoh adalah ketika saya memperhatikan rombongan jamaah asal Indonesia yang membeli tasbih dari kayu koka (kabarnya kayu ini tumbuh di beberapa daerah di Timur Tengah dan hanya tumbuh 100 tahun sekali. Kayu ini konon digunakan untuk membuat kapal Nabi Nuh, red), di sebuah toko di Madinah. Rupanya harga yang ditawarkan cukup tinggi yaitu 300 real (kurs 1 riyal Rp 2.500). Tawar menawar terjadi, namun si penjual dengan cerdik dan pemahaman Bahasa Indonesia yang bagus tetap bertahan dengan harga tersebut. Akhirnya beberapa jamaah pun membeli tasbih yang setiap pembeliannya diberikan sertifikat dengan huruf Arab. Wallahualam, apakah itu benar tasbeh dari kayu koka atau bukan.

Usai para jemaah Indonesia memborong tasbeh itu, datanglah rombongan dari Afrika membeli barang yang sama. Anehnya, barang yang sama ditawarkan harganya 100-150 riyal. Dan mereka tidak mendapat sertifikat. Singkat cerita, karena penasaran, saya pun mencoba membeli tasbih yang menurut ukuran saya mahal. Ketika transaksi, saya mencoba menggunakan bahasa Inggris. Si penjual pun bertanya darimana asal saya. Dengan sekenanya saya jawab Filipina. Si penjual hanya menjawab, ”Moro hah?”

Saya pun hanya tersenyum ketika si penjual mematok harga 200 riyal. Tawar menawar pun terjadi, dan si penjual bilang, ”100 riyal.” Saya pun setuju dan langsung saya membeli tasbih tersebut. Pengalaman yang sama juga saya temui ketika mencoba membeli karpet, selendang maupun barang-barang untuk oleh-oleh. Rupanya selidik punya selidik, para penjual di Makkah dan Madinah mengangap bahwa jamaah asal Indonesia banyak uang dan tak segan-segan untuk menghabiskan uangnya membeli barang-barang.

Sejak itu, setiap saya akan membeli barang, saya tak pernah mengaku orang Indonesia. Untungnya, wajah saya lebih dominan Melayu daripada Jawa. Sehingga beberapa penjual tak pernah mengajak berbahasa Indonesia. Para jemaah yang satu rombongan dengan saya pun setelah diberi tahu juga mencoba trik yang saya gunakan. Namun tak semua jamaah bisa melakukan hal itu karena wajahnya terlalu dominan jawanya. Biasanya mereka meminta bantuan kepada saya atau jamaah lain. Alhamdullilah, karena rata-rata mereka memborong barang, biasanya ada beberapa buah yang diberikan kepada saya. ”Untuk oleh-oleh istri,” kata seorang jamaah wanita yang memberikan banyak barang kepada saya.

Namun trik tersebut tidak selamanya ampuh. Ini terjadi saat saya membeli barang di Madinah. Rupanya si penjual ini adalah orang Indonesia. Ketika saya berbahasa Inggris, si penjual yang ternyata orang Cipanas, Jawa Barat, itu malah mengajak bahasa Sunda. “Nggak usah bahasa Inggris, sami-sami (sama-sama, red) orang Sunda, bahasa Sunda saja,” kata si penjual yang mengaku tinggal di Madinah hampir tiga tahun. Saya pun tersipu malu.

Bookmark and Share
Komentar
  1. Adam Kurniawan mengatakan:

    Bagus blognya sob.
    Postingannya juga bermanfaat.
    Terus berkarya ya, berbagi itu Indah🙂

    Ditunggu kunjungan baliknya ya sob, jangan lupa tinggalin jejak di postingan saya ya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s