Menjadi Muadzin

Posted: 05UTC27 10,2011 in Jurnal Haji

January 28th, 2007 by mirone

Menjadi Muadzin Ketika Wukuf

Tak pernah terbayang dalam benak saya, suatu saat akan menjadi muadzin. Pertama, karena suara saya dikenal serak-serak basah dan cenderung ‘mendem jero’ alias bariton. Kedua, sebagai ‘ahli hisab’ nomor wahid, nafas saya cukup kerepotan ketika harus mendaki nada-nada tinggi.

Alhasil, sejak remaja hingga bekerja menjadi wartawan, setiap ada kesempatan untuk menyuarakan adzan, dengan merendah saya menolaknya. Meski sempat ada yang memaksa, namun dengan berjuta alasan, saya selalu bisa menolaknya. Namun, justru ketika saya menunaikan ibadah haji tahun ini, saya malah jadi ‘bilal’ nya para jamaah. Itupun karena terpaksa, beberapa calon muadzin yang disiapkan di Padang Arafah maupun ketika bermalam tiga hari di Mina berguguran, karena terserang batuk dan pilek.

Ceritanya, sesuai kesepakatan para jamaah ketika di Madinah, maka imam shalat dan muadzin ketika di Padang Arafah dan Mina, dipilih dari para jamaah. Saya sempat ditawari, namun seperti biasa, dengan sedikit memelas, saya menolak dengan alasan, suara saya takut menggangu konsentrasi ibadah para jamaah.

Menjelang memasuki waktu wukuf di Arafah yaitu Dzuhur, tiba-tiba saja tiga calon muadzin dari jamaah yang sudah disiapkan, kehilangan suaranya. Mungkin karena pengaruh udara yang memang dingin plus kecapaian, tiga calon muadzin yang berusia muda ini terkena flu, sehingga suaranya terdengar serak.

Akhirnya para jamaah terpaksa harus mencari siapa yang mengganti tiga muadzin ini. Setelah berunding sana sini, plus perdebatan panjang, dengan alasan usia yang muda dan sama dengan tiga muadzin ini, para jamaah memilih saya. Tentu saja saya sempat protes keras. Tapi mau apa lagi, selain karena dukungan penuh dan suara bulat para jamaah, dari 98 orang di rombongan haji saya ini, hanya empat orang yang usianya masih muda dan suaranya masih lantang. Awalnya saya sempat memberikan argumen soal suara, tapi mayoritas jamaah melihat saya masih terlihat segar bugar.

”Ade ketawanya masih keras, kita-kita malah sudah nggak bisa ketawa karena udah pada serak,” ujar salah seorang jamaah memberikan alasan. Waduh, badanpun langsung lemas. Bukan apa-apa, meski sering berpidato atau tampil di depan umum, tapi yang namanya menyuarakan adzan, seumur-umur belum pernah sama sekali. Memasuki waktu Dzuhur, dengan terpaksa saya pun berdiri di tengah tenda. Sambil menggenggam mike, saya sempat berpikir untuk bersuara di nada-nada bawah, karena takut keseleo ketika menyuarakan adzan. Namun, ketika lantunan adzan mulai bersahut-sahutan di beberapa tenda, saya pun spontan menyuarakan adzan, tanpa harus berpikir harus nada rendah maupun nada tinggi.

”Pokoknya asal keras dan terdengar nadanya,” pikir saya. Allahuakbar..Allahuakbar…saya pun langsung meneriakkan pujian kepada Allah. Kalimat demi kalimat dengan lantang saya teriakan tanpa berpikir apakah suara saya fals ataupun sumbang. Alhamdullilah saya pun berhasil menyelesaikan tugas saya dengan baik. Yang mengherankan, beberapa jamaah langsung menyalami saya. ”Wah ternyata Ade bisa juga menjadi muadzin, suaranya tak kalah dengan suara adzan di Masjidil Haram,” puji seorang jamaah.

Antara perasaan percaya atau tidak, saya menerima ucapan selamat dari para jamaah. Sampai usai Shalat Dzuhur dan ketika pembimbing ibadah memberikan ceramah di waktu wukuf tiba, saya masih sempat berpikir apa benar tadi suara saya? Sejak itu, saya pun tak ragu-ragu untuk menjadi muadzin. Ketika bermalam di Mina pun, dengan pedenya saya langsung menyambar mike saat memasuki waktu shalat.

Namun anehnya, usai pulang ke Indonesia, saya mencoba untuk menjadi muadzin di masjid, dekat rumah saya. Tiba-tiba saja, rasa percaya diri ketika memegang mike berubah. Suara saya pun cukup sengau dan beberapa kali kepeleset ketika mendaki nada-nada tinggi. Beberapa warga sempat mengerenyitkan kening dan menahan senyum ketika saya selesai menjadi muadzin. Untungnya, waktu itu adalah waktu Subuh, sehingga tak diprotes banyak warga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s