Menebar Wikileaks

Posted: 05UTC43 10,2011 in caring (catatan garing)

cover majalah time

Menebar Wikileaks

’Tell the truth, but not the whole truth’. Pameo ini seolah menggambarkan situasi dan kondisi politik di Tanah Air, gara-gara pemberitaan dua surat kabar harian Australia, The Age dan Sydney Morning Herald yang bersumber pada bocoran
kawat diplomatik Wikileaks.  Dalam harian The Age yang terbit pada 11 Maret disebutkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diduga terlibat kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan dengan melindungi koruptor serta menggunakan dinas intelijen untuk memata-matai lawan politiknya. Laporan harian itu berdasarkan kawat-kawat diplomatik rahasia Kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta yang bocor ke situs WikiLeaks.  Kawat-kawat itu juga merinci bagaimana mantan wakil presiden Jusuf Kalla pada Desember 2004 dilaporkan telah membayar jutaan dolar AS, sebagai uang suap, agar bisa memegang kendali atas Partai Golkar. Selain Kalla, dalam kawat tersebut juga disebutkan kasus yang menimpa Taufiq Kiemas, suami mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Entah benar atau tidak isi bocoran Wikileaks ini, sejumlah pejabat negara pun langsung bereaksi.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Menkopolhukam membantah keras isi berita tersebut. Para pejabat ini menyebutkan bahwa berita ini berasal dari informasi yang masih mentah.  Pemerintah menurut Marty meminta AS segera memberikan konfirmasi atas masalah ini. Tak hanya itu, pemerintah akan mengajukan hak jawab kepada kedua media Australia tersebut. Namun anehnya, Pemerintah Amerika Serikat (AS), meski mengutuk keberadaan dokumen ini, tidak mau mengomentari soal bocoran yang ada di Wikileaks. Memang harus diakui, beberapa informasi yang dibocorkan Wikileaks tidak memiliki tingkat validasi yang akurat.

Ibaratnya, informasi tersebut banyak diabaikan dan bahkan dianggap sebagai candaan.  Apalagi, sejumlah keterangan diplomat AS menyebutkan banyak informasi itu kadang-kadang bersumber dari obrolan lepas saat pertemuan, candaan, dan
rumor yang lalu dimasukkan ke dalam laporan sejumlah Duta Besarnya ke Washington.
Yang menarik dari pemberitaan ini, diterbitkan dua suratkabar di Australia itu justru di saat kunjungan Wakil Presiden Boediono ke Australia. Dokumen-dokumen Wikileaks memang menarik perhatian media massa. Ketika pertama kali WikiLeaks memuat dokumen-dokumen rahasia Amerika Serikat, reaksi dunia masih beragam. Amerika Serikat (AS) jelas meradang, dan mengecam keras pembocoran itu.

Lalu bagaimana seharusnya Pemerintah Indonesia menanggapi isu-isu yang ada di Wikileaks? Alangkah baiknya kalau Pemerintah Indonesia dalam hal ini Presiden Susilo Bambang tidak terlalu reaktif menanggapinya. Kalau memang tidak benar, biarkan saja dan ajukan tanggapan atau hak jawab ke media yang memuat isi dokumen tersebut seperti yang dilakukan Presiden Yudhoyono ketika bersengketa dengan media di Indonesia. Masyarakat sekarang ini sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s