M Toha

Posted: 05UTC17 10,2011 in jadul

M Toha

July 29th, 2008 by mirone

Setiap menjelang Agustusan, pikiran saya selalu mundur 50 sampai 100 tahun lamanya ke masa lalu. Entah kenapa, yang terekam dalam khayalan ini, perang kemerdekaan selalu berdarah-darah. Sosok hero alias pahlawan yang menjadi pemeran utama dalam khayalan saya selalu figur Barry Prima. Musuhnya pasti orang Belanda, kalau tidak Advent Bangun ya Almarhum Dicky Zulkarnain (bokapnya Nia Zulkarnain). Dengan strategi yang matang, Barry Prima menyerbu markas Belanda, tembak-tembakanpun terjadi. Dengan keahlian silat, Barry menyerbu sendirian hanya bermodalkan bambu runcing. Ciaat ciaat pasukan Belandapun menyerah, tinggal sang komandan yang belum menyerah. Terjadilah duel sengit antara keduanya. Dan endingnya, sang hero, Barry Prima berhasil mengalahkan Advent Bangun. Ia kemudian mengibarkan bendera Merah Putih sambil berteriak-teriak ‘Merdeka…merdeka..’ Duh betapa nasionalisnya…
Namun, gara-gara diskusi di kantor dengan teman sekerja saya, khayalan seperti itu mendadak hilang. Seorang kawan bernama Teguh Setiawan bercerita bahwa tak ada kamusnya dalam sejarah di Indonesia terjadi perang yang berhadapan satu sama lain. Argumen ini juga diperkuat oleh pengamat militer asal Universitas Indonesia Andi Wijayanto. Ketika berbincang-bincang di sore hari dengan ditemani secangkir kopi dan sepiring pisang goreng (yummi..), Andi memaparkan sejumlah fakta soal perang kemerdekaan. Baik ketika Belanda menjajah maupun Jepang. Andi juga meragukan sejarah perang di Indonesia yang menurutnya telah didistorsi oleh AH Nasution (mantan KASAD) dan Nugrohonotosusanto (mantan Mendikbud, dua-duanya sudah almarhum).
Ada benarnya juga temuan Andi maupun pendapat Teguh yang kadang diragukan keabsahannya oleh saya. Dulu ketika SMA, saya sempat diusir oleh guru sejarah saya dari kelas karena mempertanyakan kepahlawanan Mohamad Toha (bagi orang Bandung, nama ini pasti familiar). Saat itu saya mempertanyakan kriteria pahlawan bagi Toha. Karena ada perasaan aneh mendengar cerita kepahlawanannya. Kebetulan saya tinggal di daerah Bandung Selatan, saya sering bermain-main ke tempat lokasi meledaknya gudang senjata Jepang yang diyakini telah diledakan oleh M Toha. Sering saya berpikir, kenapa M toha meledakan gudang senjata yang berada di wilayah Republik Indonesia (seperti diketahui saat itu Bandung dibagi menjadi dua bagian, daerah selatan adalah wilayah Republik Indonesia, daerah utara adalah wilayah Belanda). Logikanya, seharusnya M Toha meledakan gudang senjata yang dikuasai Belanda bukan yang dikuasai tentara kita, aneh bukan?
Saat itu saya seringkali mencari data soal M Toha, termasuk bertanya-tanya kesejumlah pihak yang mengaku menjadi saksi ketika M Toha tewas karena ledakan itu (salah satunya adalah almarhum kakek saya). Ketika saya bertanya kenapa gudang senjata milik tentara Indonesia diledakan, kakek saya menjawab supaya gudang itu tidak dikuasai oleh Belanda. Saat itu saya bertanya kepada kakek saya, kenapa senjatanya tidak diangkut duluan dan malah diledakan bersama seluruh isinya. kakek saya menjawabnya supaya lebih cepat karena saat itu Belanda akan menyerang daerah selatan.
Jawaban tersebut jelas tak masuk dalam logika berpikir saya. Guru sejarahpun punya jawaban yang sama dengan kakek saya, bahwa itu merupakan strategi yang dilakukan para tentara kita. Waktu itu saya bilang ke guru sejarah saya bahwa tentara Indonesia pikirannya tolol dan tak efisien. Sudah jelas kita tak punya amunisi lengkap dan hanya bermodalkan bambu runcing, eh malah senjata dan peluru yang ada diledakan, apakah itu bukan berarti tolol?
Rupanya jawaban soal kepahlawanan Toha itu baru saya ketahui baru-baru ini. Pikiran Rakyat, korannya masyarakat Jawa Barat memuat sebuah artikel soal M Toha. Dalam artikelnya, ternyata ketika ia meledakan gudang senjata itu, ia baru saja diputuskan oleh pacarnya. Waduh kacau sekali ya, jangan-jangan M Toha memang tak sengaja meledakan gudang senjata itu. Jangan-jangan dia lagi melamun sambil menghisap sebatang rokok dekat gudang senjata, dan rokok yang belum habis dihisapnya itu dilemparkan ke belakang dan persis terkena gudang senjata yang isinya pasti bahan-bahan peledak, bummmmmmmmmmm meledaklah gudang senjata itu dan api merambat kemana2…..
Pahlawan? jelas bukan. Lalu kenapa dia jadi pahlawan? itu yang membingungkan saya. Mungkinkah karena saat itu tak ada figur di daerah Bandung yang layak menjadi pahlawan? Wallahuallam

Komentar
  1. apoung purwanto mengatakan:

    ah, masak kaya gitu alasannya ? nggak masuk akal kalau karena pacar lalu melakukan peledakan ! kalau kecerobohan mungkin ! Terlampu lama di dalam gudang, atau tak sengaja menyandung senjata di dalam gudang atau gimana.
    pemuda masa moh.toha hidup beda dengan sekarang ! pemuda saat itu lebih berjiwa nasionalis daripada sekarang !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s