Drama PSSI

Posted: 05UTC44 10,2011 in caring (catatan garing)

 

Satu pekan terakhir ini, nama Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Nurdin Halid disorot berbagai kalangan.  Tak lolosnya Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) George Toisutta dan pengusaha Arifin Panigoro menjadi calon ketua umum periode 2011-2015 pada Kongres Empat Tahunan PSSI di Bali, 26 Maret lalu, memicu pergerakan pencinta sepak bola Indonesia. Komite Pemilihan yang diketuai oleh Syarif Bastaman hanya meloloskan dua calon saja yang saat ini masih menjadi Ketua dan Wakil Ketua Umum PSSI yaitu Nurdin Halid dan Nirwan D Bakrie.  Alasan tidak diloloskannya George dan Arifin, itu di antaranya tidak aktif di sepak bola sekurang-kurangnya lima tahun.  Seperti bola salju, penolakan terhadap Nurdin ini  tidak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga dari beberapa daerah di Tanah Air.  Sejumlah kelompok masyarakat yang mengatasnamakan pecinta bola melakukan berbagai cara menuntut supaya PSSI direformasi. Mulai dari aksi unjuk rasa, pernyataan sikap sampai desakan supaya pemerintah ikut campur.

Aksi ini kemudian dibalas oleh para pengurus PSSI termasuk Nurdin Halid dengan melakukan berbagai manuver.  Drama PSSI pun dimulai. Saling maki, saling tuding mulai marak di media massa. PSSI mulai masuk dalam ranah politik. Entah kenapa kasus ini melebar kepada perseteruan antarpartai politik. Di saat ribut-ribut seperti ini, apakah ada relevansinya dengan  perkembangan

sepakbola di Indonesia?  Seperti kita ketahui  setelah antusiasme yang tinggi dari masyarakat ke timnas pada hasil pertandingan piala AFF yang lalu, banyak masyarakat berharap prestasi sepakbola Indonesia mulai meningkat. Masa suram sepakbola di Indonesia mulai dari minimnya prestasi timnas, perkelahian para suporter, suap antarpemain hingga kasus wasit seakan menghilang ketika timnas dibawah asuhan pelatih asal Austria Alfred Riedl menampilkan permainan yang luar biasa. Sayang masa bulan madu itu segera berlalu ketika terjadi kisruh PSSI melawan pengelola Liga Premier Indonesia (LPI).

Kita berharap persoalan-persoalan di tubuh PSSI segera berakhir. Jangan ada lagi politisasi di tubuh PSSI. Sudah saatnya para pengurus sepakbola ini lebih berfikir ke depan, bagaimana caranya memajukan prestasi sepakbola di Indonesia. Sudah saatnya para pengurus PSSI yang mengaku memahami sepakbola itu untuk mengurusi masalah kompetisi sepakbola di usia muda. Negara ini sebenarnya punya potensi besar melahirkan bibit-bibit baru. Mulai dari bumi Nangroe Aceh Darussalam sampai dengan Papua. Ratusan sekolah sepakbola lokal bertebaran bak jamur di musim hujan. Belum lagi anak-anak yang bermain sepakbola di kebun-kebun, sawah hingga jalan raya. Tetapi ironisnya bakat-bakat terpendam itu seolah hilang begitu saja.

Tidak adanya kompetisi di usia muda sebagai muara pencarian talenta berbakat menjadi salah satu penyebab minimnya prestasi  sepakbola di Tanah Air. Para pengurus, politisi, hingga pimpinan bangsa ini lebih banyak disibukkan dengan drama kepengurusan yang semakin lama semakin memuakkan masyarakat.  Ingat sepakbola nasional bukan milik PSSI dan segelintir pengurus tapi juga

milik seluruh rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s