Dilema Perang Libya

Posted: 05UTC42 10,2011 in caring (catatan garing)


Hampir sepekan Libya, negara kecil berpenduduk 6,4 juta jiwa namun punya cadangan minyak luar biasa banyak di perut buminya, itu dibombardir oleh Amerika Serikat dan sekutunya.  Ibarat gajah melawan semut, banyak pihak memprediksi, perang ini bisa bernasib sama dengan perang Irak tahun 2003, Libya kalah. Sehingga untuk melegalkan peperangan tak seimbang ini, sejumlah media barat berlomba-lomba membangun opini tentang kebrutalan pemimpin Libya Moamar Khadafi.

Dalih yang digunakan, adalah menyelamatkan rakyat Libya  dari kehancuran. Dengan kata lain, serangan ini dianggap sah dan demi ‘humanitarian intervention’, membantu rakyat Libya. Aksi penyerangan ini semakin ’sahih’ ketika negara-negara yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bersatu padu untuk menyerang Libya. Padahal, awalnya sikap beberapa negara anggota NATO sempat terbelah. Organisasi keamanan bersama yang dibentuk pada 1949 dan memiliki 28 anggota, itu kemarin

menyetujui untuk mengambil alih  komando operasi militer di Libya. Nah, persoalan utama, apakah negara-negara yang tergabung dalam NATO ini mempunyai hak untuk menyerang Libya? Apapun dalihnya, sejak konflik meledak di beberapa negara di Timur Tengah, baru dalam kasus Libya ini, negara-negara Barat sepakat untuk ikut campur. Padahal, dilihat dari kacamata hukum apapun, tak ada serangan bersenjata  Libya terhadap negara-negara tersebut, maupun sekutunya. Libya juga bukan ancaman bagi keamanan dan perdamaian karena tidak memiliki senjata nuklir, senjata kimia seperti yang dulu pernah dituduhkan kepada Irak.

Lalu kemana gerangan PBB? Inilah yang mengecewakan. Seharusnya PBB bersikap bijak untuk ikut campur urusan dalam negeri Libya. Sudah jelas sebenarnya Resolusi 1970/2011 yang dikeluarkan dewan keamanan PBB berisi keputusan untuk menerapkan sanksi berupa pembekuan aset dan larangan bepergian terhadap Muamar Gaddafi, kelima anaknya serta 10 orang terdekatnya.  Resolusi DK PBB cuma dijadikan landasan buat menggertak Khadafi agar tidak menggunakan pesawat tempur melawan pendemo. Apalagi zona larangan terbang DK PBB sudah dipatuhi Libya yang mengira tidak akan digempur.

Bila negara-negara yang mengaku demokratis itu berfikir lebih jauh, sebenarnya resolusi ini adalah salah satu langkah untuk segera menghentikan kekerasan di Libya. Lakukanlah dialog dan tekanan-tekanan berupa blokade dan bukan aksi kekerasan.
Biar bagaimanapun, nasib rakyat Libya ke depan semakin tak menentu. Kesejahteraan rakyat Libya yang tergolong lumayan bagus bukannya meningkat, tapi mengalami penurunan tajam akibat pergolakan politik. Melihat Libya saat ini sangat menyedihkan. Pilihan diantara kekejaman Khadafi dengan serangan negara-negara koalisi  Barat, sangat menyakitkan. Semuanya akan membawa korban nyawa yang tidak sedikit. Apakah tidak sebaiknya Khadafi mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaannya, sehingga tidak banyak korban yang jatuh. Apakah tidak sebaiknya negara-negara koalisi barat tidak membabi buta menyerang Libya dan hanya melakukan tekanan terhadap Khadafi. Kalau dua pilihan ini tidak dilakukan maka ini akan terjadi malapetaka yang lebih dahsyat, dan kondisi rakyat Libya akan lebih mengerikan lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s