Belajar kepada Alam

Posted: 05UTC40 10,2011 in caring (catatan garing)

Suatu masa di negeri Mesir, sungai Nil mengering. Krisis keuangan dan pangan melanda negeri itu. Hujan lebat yang turun deras mengakibatkan banjir besar. Muncul kutu busuk dan katak yang menyerbu rumah-rumah. Tak hanya itu, tiba-tiba
jutaan ulat dan belatung menyerbu. Kondisi negara kacau balau. Krisis kepemimpinan pun terjadi. Musibah sepertinya tak berhenti-henti. Itulah sekelumit kisah di masa kaum terdahulu yang relevan dengan kondisi negara kita sekarang ini. Negeri ini sering kali menghadapi berbagai macam krisis.

Mulai dari krisis keuangan, energi, pangan, hingga kepercayaan kepada para pemimpinnya. Bencana alam pun datang bertubi-tubi. Mulai dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus, hingga banjir seringkali melanda negeri ini. Belum usai wabah dan musibah melanda negeri ini, tiba-tiba saja kita dikagetkan dengan serangan jutaan ulat bulu yang menyerang tujuh desa di daerah Probolinggo Jawa Timur.  Jutaan ulat bulu  bergelantungan di pepohonan, dan terancam masuk ke rumah-rumah warga membuat bulu kuduk kita merinding mendengarnya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan bangsa ini?

Serangan ulat di beberapa daerah di Probolinggo sebenarnya merupakan hal yang biasa. Namun serangan kali ini menjadi luar biasa karena jumlahnya mencapai jutaan. Kabarnya serangan ini adalah yang terparah dalam sejarah. Jumlah ulat bulu yang semakin banyak karena berkurangnya  populasi predator burung liar pemakan ulat. Berkurangnya burung-burung tersebut dikarena perburuan liar yang dilakukan secara besar-besaran sebagai komoditas perdagangan. Akibatnya populasi burung liar pemakan ulat ini menurun drastis, sehingga ulat-ulat tersebut bisa berkembangbiak dengan leluasa karena musuh utamanya sudah tidak ada.

Anehnya, pemerintah hanya bisa diam saja melihat kondisi seperti ini. Padahal sudah sejak lama, banyak pemerhati lingkungan memperingatkan jika proses perburuan burung pemakan serangga ini dibiarkan, akan memicu terjadinya bencana ekologi. Nah, itu baru salah satu contoh, bagaimana salah kaprahnya negara ini dikelola. Beberapa bencana yang terjadi seperti banjir bandang dan longsor, bukan karena alam yang menghendaki, tapi karena pemerintah tak bisa melindungi rakyatnya dari bencana. Jadi, bagaimana kita bisa hidup dengan lebih baik? Memang semuanya butuh kesiapan dan persiapan. Pepatah gouverner c’est prevoir atau ”memerintah itu melihat lebih dulu, atau melihat ke depan” tak pernah dilakukan pemerintah disaat terjadi bencana terjadi. Sudah saatnya pemerintah merubah cara kerjanya. Hingga setiap kali terjadi musibah, kita sudah siap mengantisipasi dan meminimalkannya sedini mungkin, Alam sebenarnya menggugah kita supaya semakin dewasa. Bukan ingin menjadi empu yang menguasai alam, tetapi bangsa yang arif dalam memahami tanda-tandanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s