Nasyid, Kasidah Irama Padang Pasir

Posted: 05UTC17 10,2011 in my music

Pagi dini hari di salah satu kawasan perumahan di Pamulang Tangerang, lantunan ayat suci Al-Quran terdengar nyaring di setiap rumah. Di salah satu rumah, sayup-sayup suara dentingan gitar mengiringi kelompok nasyid memuji kebesaran Allah. Di rumah lainnya, suara khas Hadad Alwi bersama penyanyi anak-anak, Sulis, sedang bershalawat kepada Nabi Muhammad. ”Sungguh indah terdengarnya setiap Ramadhan, seakan setiap rumah berlomba-lomba berdzikir dan bersholawat,”tutur Hiru, seorang Bujangan di sebuah rumah kost sambil menyantap makan sahur.

Gambaran dan suasana sahur di beberapa kawasan di kota-kota Indonesia memang selalu seragam di saat Ramadhan. Dengan kecanggihan teknologi masa kini, dengan banyaknya TV swasta yangmenyajikannya, Ramadhan menjadi sarat musik religius Islam.

Harus diakui di saat sekarang ini, dakwah yang merupakan tanggung jawab setiap muslim yang beriman disampaikan dengan cara yang beraneka ragam. Salah satunya adalah melalui kesenian. Apalagi di tengah maraknya jenis-jenis kesenian yang tidak sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai keislaman.

Menjamurnya musik religius Islam di bulan Ramadhan ini setidaknya menciptakan alternatif kesenian yang bermuatan dan bernuansa Islam. ”Saya sendiri yang biasanya mendengar musik rock atau pop, di bulan Ramadhan ini hanya khusus mendengarkan musik religius. Keren sih musiknya sekarang tidak seperti dulu,” ujar Regina, seorang mahasiswi yang tengah kepergok membeli CD Hadad Alwi dan Raihan di salah satu toko kaset di kawasan Melawai Blok M.

Menurut Murni, seorang pramuniaga di toko tersebut, permintaan kaset dan CD musik bernuansa religius Islami ini memang cukup meningkat di bulan Ramadhan ini. ”Anda bisa lihat sendiri bagaimana kaset Raihan bisa masuk jajaran top 10 kaset terlaris pekan ini mengalahkan Padi dan album terbarunya Michael Jackson,” katanya.

Tidak hanya orang tua, anak-anak ABG pun saat ini tidak segan-segan mengeluarkan koceknya hanya untuk membeli kaset Raihan atau Hadad Alwi. Dalam pengamatan, beberapa remaja tanggung tidak ragu-ragu membeli sejumlah kaset bernuansa religius tersebut. ”Selain Hadad Alwi dan sejumlah kelompok Nasyid, Bimbolah yang membuat lagu-lagu religius ini disukai oleh anak muda,” ujar pengamat musik Remmy Soetanyah.
Menurutnya lagu seperti Tuhan, Setiap Habis Ramadhan atau Seorang anak bertanya pada Bapaknya yang liriknya ditulis oleh Taufiq Ismail disukai oleh anak-anak muda. ”Liriknya tidak menggurui, ringan namun penuh dengan muatan moral,” katanya.

Tak heran, hampir satu dekade terakhir ini, Bimbo seakan menjadi citra kelompok penyanyi atau musisi bernapaskan Islami. Padahal kalau kita melihat ke belakang, ketika TV swasta belum menjamur seperti sekarang, musik religius Islam ini lebih banyak didominasi oleh musik kasidah dan irama padang pasir. Nama-nama seperti KH Ahmad Buchori Mansuri dengan Nasida Ria cukup banyak dikenal saat itu.

Namun, perkembangan musik kasidah di Indonesia saat itu terasa lambat. Meski waktu itu sejumlah band pop seperti Koes Plus sempat merekam musik kasidah versi mereka. Namun dari sekian banyak grup pop, mungkin hanya Bimbo yang bisa awet dan bertahan hingga sekarang.

Namun seiring waktu, pamor musik kasidah dan irama padang pasir lama- kelamaan semakin menyurut. Dan baru ketika RCTI, SCTV mengudara di tahun 90-an, musik religius Islam perlahan-lahan mulai dilirik kembali. Dan puncaknya adalah Hadad Alwi yang berhasil mencatat angka sejuta keping penjualan ketika menjual kaset Cinta Rasul di tahun 1995. ”Sebelum album Hadad Alwi booming di tahun tersebut, sebenarnya masih banyak sekali penyanyi-penyanyi di era tahun 80-90-an yang merekam musik religius,” ujar Remmy.

Dirinya mencontohkan Hetty Koes Endang, Neno Warisman, Rafika Duri, Ita Purnamasari dan Dwiki Darmawan, Krisdayanti dan Anang, Novia Kolopaking, yang cukup berhasil ketika memproduksi album rekaman religius Islam. ”Lagu Menyebut Nama Allah yang waktu itu dinyanyikan Novia Kolopaking saat itu seakan menjadi lagu wajib yang dinyanyikan oleh anak-anak muda di kampus-kampus ketika mengadakan acara-acara kesenian,” katanya.

Dan tidak hanya Novia, sang suami, Emha Ainun Nadjib, dengan Kyai Kanjengnya juga berhasil mencuri perhatian komunitas musik di Indonesia. Seiring waktu, tiba-tiba saja, kelompok nasyid juga mewarnai perjalanan musik Islami di Indonesia. Meski banyak bertebaran di Indonesia, nama Raihan, kelompok Nasyid asal Malaysialah yang berhasil mempopulerkan nasyid. Sejumlah albumnya laku keras di Indonesia. Menurut catatan Warner Musik Indonesia yang mengedarkan Raihan, rata-rata album Raihan terjual diatas 75 ribu keping.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s